Rabu, 3 Juni 2026
Wisata & Sejarah
Wisata Kuliner Yogya

Menikmati Kejutan Tongseng Pak Kribo

Senin, 24 Februari 2014

BOS saya yang rajin memberi referensi tempat-tempat makan sedap itu, tiba-tiba menugaskan saya menulis warung tongseng Pak Kribo. Kok tongseng lagi? Tapi bolehlah, setidaknya label ”Pak Kribo” cukup menggelitik imajinasi saya untuk mencoba.

Yang membuat saya heran, warung ini direkomendasikan bukan hanya oleh si bos belaka, tapi juga oleh banyak orang yang mengetahui reputasi saya sebagai wartawan yang tak pernah menolak diajak makan. “Harus dan wajib ke sana, mas. Pokoknya ini bukan tongseng sembarangan!” ujar Pak Transtoto Handadari, mantan Dirut Perum Perhutani itu ikut memberi rekomendasi.

Suatu malam pertengahan Mei lalu, saya benar-bernar diajak oleh si bos bersama Pak Transtoto dan Pak Purnomo -- seorang pengusaha perkebunan buah naga -- ke warung tongseng yang berlokasi di Jalan Kaliurang Km 11, Yogyakarta tersebut. Sangat mudah untuk menemukan warung tongseng Pak Kribo. Menempati emperan sebuah toko sebelah barat jalan di depan Pasar Pakem, Sleman, angkringan Pak Kribo sudah tampak nyleneh dengan penerangan lampu petromak tergantung di atas angkringan.

Atau kalau ciri khas petromak itu belum juga cukup meyakinkan, cari saja pedagang di situ yang rambutnya kribo. Ciri khas lain bisa dilihat dari cara pedagang tongseng ini berbusana. Selalu rapi jali. Kemeja lengan panjang dipadu celana pantalon komplit dengan sepatu kulit warna hitam kebanggaannya. Malah, kalau ada rombongan ”orang penting” janji mau mampir ke warungnya, pedagang nyentrik ini tak lupa menyempurnakan penampilannya dengan sebuah dasi kupu-kupu terpacak di ujung kerah bajunya. Wow!

”Saya berjualan memang tidak hanya mengandalkan citarasa masakan, tapi juga penampilan penjualnya agar pelanggan semakin berselera,” ujar Pak Kribo memberi alasan.

Lampu petromak yang unik, pedagang yang nyentrik plus citarasa tongsengnya yang asyik, sungguh membuat saya merasa menemukan kejutan menyenangkan yang bertubi-tubi malam itu. Seorang pelanggan yang tiba-tiba menyulutkan ujung rokoknya ke angsang lampu petromak di atas angkringan, sempat tersipu malu begitu menyadari ternyata petromak itu palsu.

Petromak itu bukan berpijar karena bara kaos lampu bertenaga minyak tanah sebagaimana lampu petromak sungguhan, tapi sudah dimodifikasi dengan bolam bertenaga listrik. ”Lampu itu tidak ada apinya mas...” ujar Pak Kribo tersenyum sambil menyodorkan sebuah korek api.

Beberapa saat kami duduk lesehan di atas tikar sambil mengobrol ngalor-ngidul, menunggu pesanan tongseng siap disajikan. Saya mengamati sekeliling. Di bagian depan tempat meletakkan angkringan, Pak Kribo sedang sibuk memasak tongseng di atas anglo berbahan bakar arang. Konon, angkring itu asli peninggalan mendiang ayahnya, Pak Dullah yang merintis usaha warung ini sejak tahun 1940-an.

Anglo Pak Kribo ini baru mulai menyala sekitar pukul 17.00 sampai dengan dagangan habis terjual sekitar pukul 23.00. Para tamu bukan terbatas yang datang bersepeda motor, tetapi juga banyak pelanggan berkendaraan mobil.


Dua orang kakak-beradik–.Didit.dan Denis.– serta Bu Wanti istri Pak Kribo, ikut membantu berjualan dengan uraian pekerjaan yang tidak pernah berubah. Yang satu mengantar pesanan kepada pelanggan, yang lain bertugas mengambil piring kotor dan mencucinya. Sedang Bu Wanti.bertugas sebagai kasirnya. Kinerja warung Pak Kribo, bisa sedikit kacau jika anak-anaknya sedang banyak tugas kuliah. Belum lagi kalau si Denis yang .penyanyi dangdut itu kebanjiran job pentas.

Warung ini hanya menyajikan tiga jenis masakan, yaitu tongseng kambing, sate, gulai dan tengkleng. Para tamu pun tidak mengharapkan masakan lain. Kebanyakan sudah memesan tempat melalui telepon genggam sebelum datang. Ketika kami datang sesaat lewat pukul tujuh malam, ternyata sudah ada sebelas pembeli yang mengantre. Semua tamu menunggu dengan sabar. Ketika mengetahui kami datang pun, Didit tetap melayani tamu-tamu lain sesuai urutan. Pejabat atau selebriti tidak punya hak untuk menyerobot antrean.

Setiap saat, dari dapur mengembang harum bawang putih yang sedang ditumis, kemudian aroma masakan tongseng yang khas. Setiap kali satu piring tongseng dibawa ke atas gelaran tikar untuk tamu yang menunggu, semua tamu yang lain mendegut ludah. Benar-benar satu bentuk “penyiksaan” yang efektif.

Penyajiannya cukup apik. Daging kambing yang sudah dipisahkan dari tulangnya, dipotong kecil-kecil (bite size). Kuahnya nyemek–setengah kental–dengan aroma bumbu yang mengesankan. Aroma daging kambingnya tidak tercium lagi. Mungkin karena kambing yang dipakai masih berusia muda atau karena unsur bumbunya cukup kuat untuk menyamarkan aroma kambing. Pemakaian kecap manis juga sangat tepat sehingga tone manisnya tidak menutup rasa bumbu gule kuahnya. ”Yang menerntukan sedap tidaknya tongseng itu adalah kuah gulainya,” ujar Pak Kribo yang bernama asli Jumadi.

Kalau bumbu tongsengnya sendiri biasa seperti yang lain, terdiri bawang merah, miri, merica. Yang membedakan adalah cara nggongso dan ukuran banyak sedikitnya bumbu. Kalau kebanyakan bumbu, kata Pak Kribo, rasa tongsengnya jadi getir. Cara gongsonya juga harus pas. Kalau terlalu matang rasanya bisa getir, tapi kalau kurang matang akibatnya tongseng jadi sangat berasa rasa mirinya. Dan, Pak Kribo tahu persis bagaimana memasaknya dengan sangat pas.

Ini adalah untuk ke sekian kalinya saya dibuat mabuk kepayang oleh masakan sederhana yang langsung disajikan oleh warung kelas sederhana. Seingat saya, itupun semua disajikan oleh warung makan di Yogya. Rupanya, orang Yogya punya keistimewaan untuk menampilkan honest food yang dahsyat langsung dari dapurnya.

Soal harga, seperti umumnya warung makan di Jogja, warung Pak Kribo inipun tidak memasang tarif yang mahal. Satu piring tongseng dihargai Rp 14.000, sedangkan nasi Rp 2.000, bisa mengambil sendiri sesukanya.* Muh Sugiono - kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya