Menikmati Sensasi Terbang Berboncengan di Atas Pantai
Merasakan deburan ombak saat Microlight menukik terbang rendah beberapa meter dari permukaan laut pantai selatan, sungguh mendebarkan. Tapi godaan untuk bisa terbang di angkasa memang sulit dilawan. Di sinilah terasa apa arti kata bebas yang sesungguhnya. Menjadi paham kenapa olahraga ini bisa bikin kecanduan.
MINGGU pagi awal Februari lalu cuaca cerah meski musim di Jogja sedang tak menentu. Pukul 09.00, para hobiis microlight yang datang dari berbagai kota sudah sibuk dengan pesawat masing-masing yang terparkir di landasan FASI (Federaasi Aero Sport) DIY, Pantai Depok, Bantul. Para penonton ingin menyaksikan latihan gabungan olahraga dirgantara.
Arif Effendi menjadi orang paling sibuk hari itu. Tak hentinya Ketua Bidang Microlight Pengurus Daerah FASI DIY itu berbicara melalui ponsel kepada para pilot pesawat, mengecek kesiapannya melakukan joyflight membawa satu per satu wartawan yang beruntung mendapat kesempatan terbang. Pukul 10.00, empat anggota Jogja Flying Club (JFC), Tjandra Budi, Irawan, Rosyid, dan Agus Budiman sudah berada di kock pit dengan seorang penumpang di belakangnya, siap melakukan terbang tandem.
Saya sendiri membonceng seorang pilot senior dari Jakarta, Heri Agung. Kejenakaan orang ini sudah tercium sejak awal menaiki pesawat dan melihat saya sedang mencari-cari sesuatu untuk berpegangan di atas pesawat agar tak terjatuh ketika terbang. ”Pegangan saja sama Al-Quran dan Hadits,” ujarnya datar. Saya tersenyum kesal.
Kabin microlight ini didesain seperti sepeda motor, sehingga pengemudi dan penumpangnya duduk berboncengan, lengkap dengan helm dan alat komunikasi. Kemudi pesawat buatan Australia atau Prancis itu berupa segitiga yang terbuat dari duraluminium (aluminium untuk pesawat terbang) dan dikemudikan seperti gantole. Sebagai penunjuk arah, global positioning system (GPS) siap membantu pengemudi sampai ke tempat tujuan.
Tapi, hingga beberapa menit Pak Heri Agung masih tenang-tenang memanaskan mesin pesawat. Tak sabar rasanya untuk segera terbang mengikuti empat pesawat lain yang sudah mengangkasa. Lima menit kemudian, barulah pesawat ini mulai bergerak maju. Awalnya biasa, seperti membonceng sepeda motor. Dada baru berdetak keras ketika di ujung landasan mesin menggerung diikuti tenaga dorong yang kuat, dan berrr... pesawat berbobot tidak lebih dari 350 kilogram itu pun melejit ke udara.
Benda-benda di sekitar landasan itu pun semakin mengecil terlihat dari kabin pesawat yang masih terus mencapai ketinggian. Sedangkan keempat flexi wing microlight (selanjutnya disebut microlight) yang telah lebih dulu terbang, tampak saling berkejaran di atas bentangan Pantai Depok, Parang Kusumo, dan Parangtritis. Panorama pantai selatan, benar-benar seperti surga dilihat dari microlight yang terbang pada ketinggian 10.000 kaki, pada siang hari itu.
Apalagi membonceng pilot “segila” Heri Agung. Dari ketinggian 10.000 kaki, ia menukik rendah sambil berputar arah memasuki wilayah di atas air. Tinggal beberapa meter di atas permukaan laut hingga tempias ombak terasa menyentuh kaki. Puas bermain nyawa di atas air, pesawat berbelok arah ke atas bangunan di pinggir pantai. Beberapa kali kami terbang di atas bangunan hotel dan melihat beberapa orang sedang mandi di kolam renang.
Heri Agung memaparkan, Microlight ini sanggup diajak bertualang sampai ke luar daerah. Ia sendiri pernah mengendarai Microlight menuju sejumlah kota, seperti Bandung, Madiun beberapa kali ke Jogja. Microlight merupakan perkembangan dari paralayang atau paragliding yang kini populer disebut gantole. Salah satu olahraga terbang bebas yang lahir di Eropa tahun 1980-an dan baru sepuluh tahun kemudian masuk ke Indonesia.
Seharga mobil keluarga
Microlight terdiri dari tiga bagian penting, yakni kereta mungil beroda tiga berkapasitas dua kursi, mesin, dan sebuah sayap. Pesawat ini tidak memiliki penutup kabin sehingga penumpang bisa dengan leluasa melihat pemandangan. Sayap seperti gantole. Bagian tengah sayap ini menjadi titik tumpuan dan pengatur keseimbangan. Di belakang kereta terdapat mesin, tabung bahan bakar, dan sebuah baling-baling.
Waktu tempuh pesawat ini memang jauh lebih lama dibandingkan pesawat komersial. Maklumlah, kekuatan mesin ini memang terbatas. Jenis kecil kapasitas mesin 600 CC berkekuatan 70 PH, jenis besar kapasitas 1.000 CC berkekuatan 100 PH. Jarak tempuh Jogja-Jakarta, misalnya, diperlukan waktu sekitar empat jam. Para penumpang harus bersiap-siap memakai pakaian hangat, terutama jika penerbangan dilakukan di ketinggian sampai 30.000 kaki.
Seperti pesawat terbang, microlight ini perlu landasan pacu. Tetapi, panjang landasan terbang ini tidak sejauh pesawat terbang. Microlight memerlukan sekitar 200 meter saja untuk melesat ke udara. Tanah berumput adalah media yang pas bagi microlight karena tanah jenis ini tidak terlalu keras sehingga proses lepas landas dan mendarat menjadi lebih empuk.
Pesawat ini mempunyai pedal gas yang ada di kaki kanan dan rem di kaki kiri, seperti pada mobil. Jika pengemudi ingin bebas, pedal gas itu bisa diganti dengan menarik tuas gas yang ada di sebelah kanan atau kiri kursi pengemudi. Dalam cuaca cerah, kemudi pesawat bahkan bisa dilepaskan. Tidak seperti pesawat terbang dengan fixed wing, keseimbangan microlight ini dijaga oleh sumbu keseimbangan, berdasarkan titik berat beban.
"Microlight ini dirancang sebagai kendaraan yang aman karena ada sistem keseimbangan dalam pesawat jenis flexy wing ini. Pemilik wajib mencatat lama tempuh kendaraan untuk mengingatkan waktu servis," kata Ketua Bidang Microlight FASI DIY Arif Effendi.
Meski begitu, ia mengingatkan penerbangan menembus awan pekat dengan microlight, sangat berbahaya karena bisa menyebabkan pesawat jatuh terhantam turbulensi yang tidak teratur. Di luar itu, Arif menjamin microlight yang harganya mulai dari Rp 150 juta ini aman. Hanya senilai satu unit mobil niaga, tapi pengalaman yang ditawarkan microligjht sungguh tak tergantikan.* Sugiono - kisuta.com


