Selasa, 2 Juni 2026
Artikel Opini
Esai

Antara Teori dan Praktek

Jumat, 14 Maret 2014

DALAM kehidupan sehari-hari, kita sering mendengar ungkapan, “Teori mah gampang, praktek nya yang sulit.” Lalu bagaimana sesungguhnya kedudukan sebuah teori dan bagaimana relevansinya dengan praktek?

Menurut KUBI teori adalah, “1. Pendapat yang dikemukakan sebagai suatu keterangan mengenai suatu peristiwa (kejadian dsb.); 2. Asas-asas dan hukum-hukum umum yang menjadi dasar sesuatu kesenian atau ilmu pengetahuan; 3. Pendapat cara-cara dan aturan-aturan untuk melakukan sesuatu.”

Dari pengertian di atas disebutkan bahwa teori menjadi dasar, cara, dan aturan dalam melakukan sesuatu. Teori menjadi acuan kita ketika melaksanakan suatu hal berdasarkan beragam pertimbangan.

Teori menjadi sebuah panduan dan barometer dalam mewujudkan suatu hal. Ia layaknya penerang di kegelapan yang akan memandu kita langkah demi langkah, satu persatu menjejaki sebuah “lahan” yang kita garap dan kita tuju. Teori adalah harapan yang harus diwujudkan melalui tindakan nyata, yaitu praktek.

Teori tanpa praktek adalah sebuah kemandulan. Suatu hal yang ingin dicapai hanya akan menggantung di udara dan tak pernah tercapai tanpa usaha melalui praktek. Praktek menurut KUBI, “1. Cara melakukan apa yang tersebut diteori; 2. Menjalankan pekerjaan (tt dokter, pengacara dsb.; 3. Pelaksanaan, perbuatan melakukan teori (keyakinan dsb.). Mempraktekkan: melakukan (apa yang tersebut di teori, pelajaran dsb.; melaksanakan; menunaikan.”)

Praktek adalah hal nyata yang dilakukan untuk menggapai suatu hal sebagai aplikasi dari teori. Teori memandu praktek. Dan praktek melaksanakan teori. Dalam hal ini, baik teori maupun praktek merupakan hal yang sama pentingnya.

Teori juga dapat diartikan apa-apa yang kita katakan. Selanjutnya pelaksanaannya melalui praktek. Teori dan praktek harus berjalan beriringan bukan bertolak belakang. Dalam hal ini kita perlu berhati-hati, karena Allah SWT berfirman yang artinya, “Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan." (Q.S. Ash Shaff [37]: 3).

Jika filsafat barat mengatakan, “Act not only say”, “Talk less, do more”. Dalam khazanah Sunda dikenal dengan “Pok, Pék, Prak”. Tidak hanya bicara, tapi juga melaksanakan. Tidak hanya teori, tapi juga praktek. Di sinilah ditunjukkan keseimbangan antara keduanya.

Lalu, apa yang dilakukan setelah teori dan praktek kita laksanakan? Jawabannya adalah bertawakkal kepada Allah. Sebagaimana disebutkan dalam al-Qur’an,

“Fa bimaa rahmatim minallaahi linta lahum, walau kunta fazzangaliizal qalbi lanfaddu min haulik, fa'fu 'anhum wastagfir lahum wa syaawirhumfil-amr, fa idzaa 'azamta fa tawakkal 'alallaah, innallaaha yuhibbulmutawakkiliin.” Artinya, "Maka disebabkan rahmat dari Allah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya," (Q.S.  Ali 'Imron [3]: 159).

Do the best secara teoritis dan praktek, hasinya serahkan pada Allah. Apapun yang terjadi kelak sebagai pencapaian atas praktek dan teori yang dianut, Allah jualah yang menentukan. Dan kita harus senantiasa ber-phositif thinking terhadapnya. Sedang barang siapa yang bersungguh-sungguh dalam teori dan praktek, man jadda wa jada, ia akan mendapatkan yang diinginkannya. Paling tidak yang terbaik untuknya.

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 216).* Reni Nurhayati - kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya