Rabu, 3 Juni 2026
Wisata & Sejarah

"Nyoreang" Sunda di Museum Sri Baduga

Senin, 17 Maret 2014

Hana nguni hana mangké
Tan hana nguni tan hana mangké
Aya ma beuheula aya tu ayeuna
Hanteu ma beuheula hanteu tu ayeuna
Hana tunggak hana watang
Tan hana tunggak tan hana watang
Hana ma tunggulna hana tu catangna
 
Ada dahulu ada sekarang
Tak ada dahulu tak akan ada sekarang
Ada masa silam ada masa kini
Tak ada masa silam tak akan ada masa kini
Ada tonggak ada batang
Tak ada tonggak tak akan ada batang
Bila ada tunggul, tentu ada catangnya
 
Koropak 632 Kabuyutan Ciburuy

 
DALAM khazanah kebudayaan, museum adalah ruang dokumentasi serta pelestarian warisan literatif dan arsip kultural masa lampau. Museum menjadi sarana memproyeksikan dan masa depan yang dapat membuka peradaban. Dari museum orang bisa berkaca dan merencanakan masa depan. Museum adalah jendela dan pusat kekayaan dokumentasi peradaban yang berfungsi layaknya cermin.

Selain itu, saat masyarakat mulai kehilangan orientasi akar budaya atau jati dirinya, maka museum dapat memberi inspirasi tentang hal-hal penting dari masa lalu. Yang harus diketahui untuk menuju ke masa depan sebagai bagian dari upaya untuk menemukan identitas dirinya.

Ketika ada rekam jejak yang hilang pun, dapat ditemukan titik kesejarahannya ketika terdokumentasikan dalam ruang bernama museum. Hal ini sesuai dengan fungsi museum,  di antaranya: pusat dokumentasi dan penelitian ilmiah, penyaluran ilmu untuk umum, penikmatan karya seni; obyek wisata; media pembinaan pendidikan kesenian dan ilmu pengetahuan; suaka alam dan suaka budaya; cermin sejarah manusia, alam dan kebudayaan; serta sarana untuk bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Museum Sri Baduga mulai didirikan pada tahun 1974 dan diresmikan pada tanggal 5 Juni tahun 1980 oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan saat itu, Daoed Joesoef. Nama museum ini diambil dari nama raja terakhir kerajaan Padjajaran, yaitu Maharaja Sri Baduga.

Dalam museum ini, terdapat berbagai koleksi dari berbagai jenis, yaitu geologika; biologika; etnografika; arkeologika, hasil budaya zaman purba terutama yang bertalian dengan ilmu arkeologi; historika; numisamatika/heraldika, koleksi mata uang atau alat tukar yang sah; filologika, misalnya naskah kuno yang ditulis tangan atau manuskrip; keramologika, koleksi yang terbuat dari tanah liat yang dibakar; seni rupa; teknologika, koleksi yang menggambarkan perkembangan teknologi dari tradisional hingga  modern.

Museum Sri Baduga telah merepresentasikan diri menjadi lembaga yang mampu mengawetkan catatan sejarah. Yang dapat dijadikan bahan pembelajaran serta menunjukkan khazanah kebudayaan, terutama kebudayaan Jawa Barat (Sunda). Museum ini pula telah menjadi salah satu wahana yang melaksanakan fungsi museum yang meliputi penyimpanan, perawatan, pengamanan, dan pemanfaatan benda-benda sejarah yang dapat menjadi bahan pengkajian sejarah, budaya, filologi dan cabang ilmu lainnya. Selain itu, museum Sri Baduga telah menjadi tempat penyimpanan pusaka dan benda-benda yang kaya akan nilai budaya dan historis. 

Sebagai bagian dari cagar budaya Jawa Barat, selayaknya museum Sri Baduga menjadi bahan rujukan dalam  menggali, menelusuri, dan menelaah budaya Jawa Barat, hususnya budaya Sunda. Dikarenakan sebagai bagian dari warisan dan miniatur budaya Sunda, museum Sri Baduga dapat dijadikan entitas petunjuk identitas bangsa demi kebangkitan peradaban bangsa baik, bangsa Indonesia secara umum maupun bangsa (Suku) Sunda secara husus.

Beragamnya koleksi museum Sri Baduga telah menggambarkan khazanah kebudayaan dan peradaban bangsa. Khususnya suku Sunda zaman dahulu yang dapat dijadikan cermin bagi penggalian identitas serta pengembangan peradaban dan budaya masa kini dan mendatang.  

Peradaban dan kebudayaan masyarakat saat ini dan yang akan datang tidak bisa dilepaskan dari latar belakang peradaban dan budaya masa silam (Hanteu ma beuheula hanteu tu ayeuna, Tak ada masa silam tak akan ada masa kini). Selain itu, hal ini dapat dilihat dari pengklasifikasian koleksi museum Sri Baduga yang menyentuh hampir seluruh aspek kehidupan budaya (Sunda).

Juga dapat dilihat dari  bentuk realia (asli) koleksi museum,  juga koleksi replika, miniatur, foto, dan maket. Di antaranya berupa suhunan (bangunan atap) rumah orang Sunda, busana berbagai kalangan pada zaman dahulu, ruangan serta perkakas rumah dan sekolah zaman dahulu, pakarang (alat-alat) orang Sunda, alat untuk mencari ikan, manuskrip yang berupa naskah kuno, busana pengantin dari berbagai daerah di Jawa Barat, mata uang yang pernah dipergunakan, alat kesenian tradisional Jawa barat, benda seni hingga biografi seniman, maket perkebunan di Jawa Barat dan Banten, alat-alat kaulinan barudak (permainan anak), hingga kereta kencana Parsinagaliman (Kesultanan Cirebon), delman dan gerobak yang pernah digunakan pada zaman dahulu. Selain itu, terdapat juga koleksi yang menunjukkan bagaimana pembentukan ibu kota tatar Sunda (Bandung) melalui maket Danau Purba Bandung. Juga replika manusia purba yang menjadi leluhur orang Sunda beserta tempat tinggalnya, gua.

Mengingat begitu pentingnya peranan museum Sri Baduga sebagai tempat pewarisan budaya guna menggali dan menemukan identitas demi kebangkitan peradaban bangsa, sangat penting bagi kita untuk meningkatan kecintaan pada museum ini. Dengan mengunjungi dan mempelajari koleksi di dalamnya, serta ikut menjaga, merawat, melestarikan, dan mengembangkan koleksi museum ini agar dapat diwariskan kepada generasi penerus.

Begitu pula sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, museum adalah paru-paru peradaban bangsa. Semakin banyak pengunjungnya, semakin beradab bangsa itu.

Sebagai bagian dari institusi pendidikan, museum seperti perguruan tinggi yang seyogyanya ditangani secara professional, baik dalam hal kelembagaan maupun manajemen. Termasuk  museum Sri Baduga. Hal ini dapat dilakukan dengan penataan ruangan dan koleksi yang dibuat semenarik mungkin; pemanfaatan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk pengembangan museum; melengkapi museum dengan berbagai fasilitas penunjang; penggunaan staf yang profesional; serta kerjasama dengan berbagai pihak untuk pengembangan dan pemublikasian koleksi museum (Alwasilah: 2006). 

Nyoréang alam ka tukang
Nyawang mangsa nu datang
Hayu urang téang
Sri Baduga museum urang

Reni Nurhayati - kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya