Rabu, 3 Juni 2026
Unik Menarik
Idiiih...

80% Mahasiswi Jepang Terjebak di Industri Seks

Jumat, 21 Maret 2014

KABAR mengejutkan datang dari Jepang. Diberitakan Tribunnewas.com mengutip dari Shukan Post, sebanyak 80 persen pelajar Jepang terutama mahasiswi terlibat dalam industri seks, baik film porno maupun pekerja seks komersil (PSK). Yang mengejutkan, banyak juga mahasiswi yang menjadi wanita panggilan atau di Jepang dijuluki deriheru atau delivery health.

Kementrian Pendidikan Budaya Olahraga Sains Jepang pada tahun 2012 pernah melakukan survei terhadap kalangan mahasiswa. Hasilnya, hampir 74 persen mahasiswa melakukan kerja sambilan. Nah, di antara mereka yang bekerja paruh waktu itu, ada yang bekerja menjadi deriheru atau berperan di film-film porno.

Apa yang dilakukan mayoritas mahasiswa tersebut, tidak lepas dari kondisi perekonomian Jepang yang sedang sedikit menurun. Hal ini menyebabkan banyak orangtua yang tidak bisa mengcover seluruh kebutuhan anaknya yang kuliah di lain kota. Akibatnya, para mahasiswa itu bekerja paruh waktu untuk memenuhi kebutuhan seperti sewa rumah maupun makan sehari-hari.

Penyebab lain? Atsuhiko Nakamura, seorang penulis lepas menuturkan di Shukan Post edisi 21 Maret 2014, dunia industri seks Jepang terutama film porno dan dunia PSK saat ini hanya mau menggunakan wanita-wanita usia muda, sekitar usia 18-22 tahun. Mereka yang berusia di atas itu, sudah pasti ditolak. Industri seks Jepang saat ini lebih menyukai wanita muda yang pintar, elegan, mudah bergaul, dan bisa diajak berdiskusi.

"Kini persaingan sangat kuat dan banyak dicari wanita muda usia 18 tahun sampai dengan 22 tahun saja," ungkap Nakamura, pengarang buku “Menjadi Aktris Film Porno Jepang”.

Di Shukan Post dimunculkan seorang mahasiswi bernama Riko yang bekerja di daerah Sakaecho Kota Chiba City. Wanita berusia 21 tahun ini hanya menerima 80.000 yen sebulan dari orangtuanya, jumlah ini tidak cukup untuk bertahan hidup di Jepang. Mau tak mau, Riko mencari pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Pilihannya adalah dengan menjadi deriheru tiga kali dalam seminggu dengan penghasilan sekitar 250.000 yen per bulan.

"Kalau cuma bekerja biasa dan pergi ke sekolah, sama sekali tak bisa membantu finansial saya," pengakuan Riko.

Menurut Riko, meskipun mempunyai pekerjaan tetap, namun banyak wanita muda Jepang yang memilih menjadi deriheru di malam hari dengan penghasilan ratusan ribu yen setiap bulannya.* Uma - kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya