Selasa, 2 Juni 2026
Sosok Inspirasi
Nasib Getir Gadis Kecil Siti Aisyah

Mengurus dan Menghidupi Ayahnya yang Tergolek tak Berdaya di Atas Becak

Sabtu, 22 Maret 2014

HIDUP sangat berat bagi gadis kecil bernama Siti Aisyah. Di usianya yang masih 8 tahun, ia harus menjaga dan mengurus ayahnya, Muhammad Nawawi Pulungan (54) yang tak berdaya diserang penyakit paru-paru.

Hampir tiga tahun ini, Aisyah dan ayahnya hidup di becak barang karena tak lagi punya tempat untuk berteduh. Sejak sakit, Nawawi yang pernah bekerja sebagai sopir ini, menggunakan uang dan harta bendanya untuk berobat. Meski sudah berobat, namun penyakit paru-parunya tak kunjung sembuh.

Hanya becak, harta mereka yang tersisa. Itu pun masih harus dilunasi, karena membelinya dengan cara dicicil. Tak mampu mengontrak rumah, akhirnya becak yang ukurannya tak lebih dari 1x1,5 meter itu menjadi “rumah” mereka. Layaknya rumah, di becak ini ada perlengkapan mandi, ember, selimut, pakaian, perlengkapan makan, dan tetek bengek lainnya.

Setiap hari, Aisyah mengayuh becak yang ditumpangi ayahnya yang terkulai lemas, dari satu tempat ke tempat lain. Apabila malam datang. Aisyah memarkirkan becaknya di emper-emper toko atau teras rumah milik warga. Di atas becak sempit itu, Aisyah dan ayahnya berbagi tempat untuk tidur. Tak jarang, Aisyah harus mengayuh becaknya di malam hari karena pemilik bangunan mengusirnya.

Namun akhir-akhir ini, Aisyah lebih sering memarkirkan “rumahnya” itu di Dhea Saloon, Jalan Sisingamangaraja, Medan, Sumatera Utara (Sumut). Beruntung, pemilik Dhea Salon berbaik hati dengan mengizinkan Aisyah dan ayahnya memarkirkan becaknya di teras salon. Bahkan sang pemilik, sering membantunya.

Untuk keperluan mandi dan mencuci, Aisyah melakukannya di Masjid Raya Al Mashun yang letaknya tak jauh dari Dhea Salon. Penjaga masjid memaklumi dengan kondisi bocah yang sejak berusia satu tahun terpisah dengan ibunya itu. Memang terkadang, penjaga masjid terpaksa mengusir Aisyah jika ada tamu penting di masjid.

Darimana Aisyah membiayai hidupnya dan ayahnya? Aisyah kerap menerima sumbangan yang diberikan oleh pengendara mobil atau motor yang berpapasan dengannya saat mengayuh becak di jalan. Uang bantuan itulah yang digunakan untuk menyambung hidup.

Meskipun hidup dalam kesusahan, namun Aisyah tetaplah ceria. Diberitakan detik.com, tak terlihat rasa sedih di wajah gadis cilik itu meski harus mengayuh becak yang cukup berat itu. Begitu juga saat harus menyeka ayahnya, tak tampak wajah yang susah. Senyum terus mengembang di bibirnya.

Begitu juga saat harus tidur di atas becak yang sempit, Aisyah sama sekali tidak sedih. Ia bahkan merasa tidur di becak bisa lebih nyenyak, dibandingkan tidur di teras rumah orang. “Malah lebih nyenyak tidurnya. Enak, tidak apa-apa,” kata Aisyah kepada detik.com.

Sungguh, perjuangan hidup yang harus dilakoni Aisyah sangat berat. Di usianya yang seharusnya asyik bermain dan sekolah, ia justru harus menanggung beban menjaga dan juga menghidupi ayahnya.

Bangku sekolah yang pernah dikecapnya, terpaksa harus ditinggalkan. Bukan hanya karena harus mengurus ayahnya, Aisyah pun tak punya biaya untuk sekolah.

Beruntung, impian Aisyah untuk bisa kembali bersekolah dapat segera terealisasi. Begitu juga dengan harapannya supaya ayahnya mendapat pengobatan yang layak, akan segera terwujud.

Pelaksana Tugas (Plt) Walikota Medan Dzulmi Eldin. Aisyah akan disekolahkan dengan biaya tanggungan Pemerintah Kota (Pemkot) Medan. Eldin menyatakan, pendidikan Aisyah menjadi prioriotas. Aisyah harus sekolah kembali untuk kepentingan masa depannya. Selain menanggung biaya sekolah Aisyah, biaya perawatan Muhammad Nawawi di rumah sakit juga menjadi tanggungan Pemkot Medan.

Mudah-mudahan, nasib Aisyah dan ayahnya bisa lebih baik lagi setelah ini.* Ati - kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya