Sabtu, 13 Juni 2026
Artikel Opini
Esai

Mengenal "Fiksimini Basa Sunda"

Senin, 24 Maret 2014

KEHADIRAN jejaring sosial tidak hanya mampu menyatukan interaksi antara manusia di dunia maya, tapi juga melahirkan sebuah karya sastra, salah satunya fiksimini. Fiksimini berasal dari kata mini-fiction, karya sastra antara cerpen dan sajak yang bersifat prosais, yaitu ada untur prosa, ada unsur sajak.  Pertama tumbuh di Amerika Latin abad ke-20. Dalam sastra Indonesia, Fiksimini berawal dari jejaring sosial twitter dan Facebook sekitar tahun 2010.

Kemunculan fiksimini di Sunda, ditandai dengan lahirnya grup facebook Fiksimini Basa Sunda (FBS) yang digagas Nazarudin Azhar pada tanggal 16 September 2011. Harapannya menyegarkan kembali rasa kesundaan, meski sambil babalagonjangan  (bercanda). Di grup ini semua anggota bebas memosting karya dalam bentuk fikmin dengan jumlah kata maksimal 150  dan setiap harinya maksimal tiga buah, kemudian kini satu buah saja.  Selain itu, setiap fikmin bebas untuk dikomentari para anggota dan penulisnya sendiri.

Pada awal kemunculannya, seperti halnya sajak bebas, fiksimini dianggap sebagai jamur yang tumbuh di musim hujan. Tapi kenyataan berkata lain, fiksimini bagai kawah candradimuka yang membawa Sunda dalam bentuk karya sastra baru. Selain itu, fiksimini yang menggunakan Facebook selaku jejaring sosial paling populer, menjadi keuntungan sendiri. Pada saat ini sudah tidak perlu diceritakan bagaimana kuatnya arus informasi melalui internet maupun jejaring sosial di dalamnya.

"Jumlah pengguna Internet yang besar dan semakin berkembang, telah mewujudkan budaya Internet. Internet juga mempunyai pengaruh yang besar atas ilmu, dan pandangan dunia. Dengan hanya berpandukan mesin pencari seperti Google, pengguna di seluruh dunia mempunyai akses Internet yang mudah atas bermacam-macam informasi. Dibanding dengan buku dan perpustakaan, Internet melambangkan penyebaran(decentralization) / pengetahuan (knowledge) informasi dan data secara ekstrem," (Wikipedia).

Masyarakat cenderung menginginkan sesuatu yang praktis dalam mengakses informasi, dan di era digital sekarang ini, internet adalah jawabannya. Masyarakat sekarang lebih menyukai hal yang fleksibel. Membaca karya yang tidak terlalu panjang, tapi tetap memiliki kualitas yang bagus dan “greget”. Fiksimini dengan tema yang bisa saja sederhana, tapi menghasilkan hasil akhir yang bagus. Dapat menjadi sarana untuk mengobati hausnya masyarakat akan sebuah karya sastra yang singkat, tapi tetap menarik.

Dibandingkan dengan grup kesundaaan lain, dari segi jumlah anggota, mungkin FBS bisa dikatakan sedikit. Sampai saat tulisan ini dibuat ada 4.363 anggota, tapi dari keaktifannya, sangat tinggi. Hal ini ditandai dengan jumlah fikmin yang diposting setiap harinya, yang dapat mencapai 6o buah.

Animo masyarakat dalam menulis fikmin sangat tinggi. Meski masih ada yang apriori terhadap bentuk karya sastra baru ini. Perkembangannya sangat melesat, juga dengan masuknya fikmin dalam ranah dunia maya dan nyata.

Fiksimini bisa atau bahkan telah menjadi ikon kebangkitan sastra Sunda. Serta bagaimana peluang itu kian besar sebab memakai internet sebagai medianya. Yaitu Facebook yang menjadi jejaring sosial paling populer serta website fikminsunda.com yang terintegrasi langsung dengan grup tersebut. Hal ini merupakan keistimewaan dan keunggulan tersendiri. Di website selaku “rumah” FBS kita dapat melihat statistik fikmin yang diposting termasuk komentar, jempol (like), fikmin petingan, fikmin terbaru, dll. Sampai saat ini, statistik FBS menunjukkan jumlah fikminer yang mencapai 1.330, naskah 30.785,  komentar 265.698, dan jumlah jempol 380.481.

FBS telah menjadi sebuah kekuatan karya sastra yang mencengangkan. Dan membuktikan diri bukan hanya berada dalam grup Facebook, tapi dengan sebuah website dengan konten yang sangat komplit. Sebuah hasil kreatifitas berteknologi tinggi yang dibutuhkan saat ini agar dapat mengimbangi laju zaman. Dalam sebuah publikasi dan survive-nya karya sastra dengan menggunakan ranah digital di dunia maya.

Meski dalam interaksi sosial di Facebook ada kalanya terjadi polemik, tapi tak menyurutkan animo anggota untuk terus berkarya. Lebih dari itu, polemik yang pernah terjadi di FBS seperti berkaitan dengan “modus apung” (anggota sengaja mengomentari fikminnya agar terus berada di urutan atas grup), jumlah fikmin yang diposting, tema fikmin, dll. menjadikan sebuah wahana untuk bisa berdialog melalui komentar yang positif, edukatif, dan menghibur. Dan melalui komentar ini pula, para anggota siliasah, siliasih, siliasuh tanpa membedakan status dan usia. Hingga membangun kritisme kesundaan dan kritik sosial dalam berbagai bidang kehidupan, misalnya sastra, sejarah, tata bahasa, agama, politik, dll.

Berbagai macam latar belakang fikminer, menjadikan FBS kaya akan khazanah pengetahuan yaitu dengan saling simbeuh pangaweruh melalui komentar dan tema fikmin yang kritis, seperti nyandung (poligami), politik, cinta, sosial, dll. Tak heran jika kini banyak yang kapéngpéongan oleh Nyi fikmin.

Selain fikmin biasa yang berformat Fikmin # (judul) # (isi), Fikminer juga dapat mengirimkan fikmin serial, fikmin grafis, dan terdapat perlombaan fikmin. Yaitu fikmin pulsaan yang dilaksanakan dua minggu sekali dengan hadiah pulsa Rp100.000,- bagi seorang pemenangnya. Dan baru-baru ini telah dilaksanakan sayembara fikmin asahan dan asah komentar. Fikmin asahan telah diikuti 171 fikmin dari puluhan Fikminer sedangkan pada asah komentar, fikminer mengapresiasi 20 fikmin nominasi dari fikmin asahan. Rencananya hasil dari lomba ini akan dibukukan. Di grup juga terdapat dokumen yang membahas mengenai berbagai hal, misalnya sastra, tata bahasa, budaya, dll. Hal ini tentu menjadi wahana dalam memperkaya pengetahuan pembaca. 

FBS memiliki lima admin, yaitu Ki Hasan, Godi Suwarna, Nazarudin Azhar, Endah Dinda Jenura, dan Hadi Aks. Sedangkan Dadan Sutisna mengundurkan diri dari keadminan beberapa saat lalu. Sampai beberapa saat lalu, grup FBS menjadi salah satu grup sangat aktif, kapasitas dan latar belakang keilmuan anggota yang melintas batas berbagai bidang dan keramahannya.

Di dunia maya, karya yang dinilai bagus akan diterbitkan di PR online dan kisuta.com. Sedang di dunia nyata, FBS telah membumi dengan adanya publikasi melalui berbagai media massa, yaitu di harian Galamedia, Surat Kabar Priangan, dan majalah Cupumanik. Selain itu, selama satu tahun ini fikmin telah dibukukan hingga mencapai 8 buku antologi, yaitu "Ti Tetelar ka Sampalan", Entjep Sunardi, "Nu Nyumput Tina Takdir", Lies Tjandra Kancana Sudarma, "Ngacacang Cacahan ti Banten", Rohendi Pandeglang, "Binalébat", antologi fikmin dari 47 pangarang, "Noél Bulan ku Asiwung", Deni Riaddy, Dwilogi fiksimini Teti Taryani berjudul "Batok Bulu Eusi Madu" dan "Kicimpring Béngras" yang diterbitkan Green Smart Book Publishing; "Lalaki 'na Bulan Keretas", Inda Nugraha Hidayat oleh penerbit Wisata Literasi, “Nu Keur Néangan”, Ganjar Kurnia (Kiblat Buku Utama) dan “Ni Dangdari", Nazarudin Azhar dalam bentuk FDF, dll. Bahkan ada harapan, grup FBS bisa masuk Muri selaku grup Facebook dengan jumlah karya terbanyak sebagaimana disebutkan di atas. Semoga! * Reni Nurhayati - kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya