Keindahan di Balik Bumi Tandus Gunungkidul
“AKU melihat kecantikan di balik bumi tandusmu…” Sebuah ungkapan yang pasti diamini oleh siapapun yang pernah singgah di pegunungan selatan Daerah Istimewa Yogyakarta. Mereka yang datang enggan beranjak pulang. Jatuh cinta pada vibrasi kehidupan Gunungkidul.
Puluhan tahun lalu, Gunungkidul banyak dicibir sebagai wilayah tanpa harapan. Tanah bebatuan yang tandus hanya menghasilkan singkong dan kayu bakar untuk memenuhi tungku dapur masyarakatnya yang miskin. Menjerit kekeringan saat kemarau tiba, juga rentetan cerita sedih lainnya.
Tapi kini cerita itu berbeda. Apa yang dulu diratapi, sekarang justru banyak disyukuri. Eksotisme pantai pasir putih dan wisata pegunungan berbatu, adalah dua contoh potensi tersembunyi yang mampu mengubah kesan buram masa lalu menjadi sesuatu yang dicari di masa kini.
Tak terbilang jumlahnya tempat-tempat wisata alam yang bertaburan di sepanjang pegunungan selatan Yogyakarta itu. Baik yang sudah terkenal seperti, pantai Indrayanti, Baron, Sundak, Watulawang, Goa Pindul, Jurug (air terjun) Taman Sari maupun tempat-tempat elok lain yang belum ditemukan.
Jurug Taman Sari (JTS), adalah satu destinasi wisata luar biasa yang hingga sekarang belum banyak dikenal orang. Tidak sulit menemukan tempat tersebut. Kondisi jalan dari Piyungan ke arah Kota Wonosari yang sangat mulus, memudahkan perjalanan kami siang hari itu.
Kecantikan Gunungkidul sudah dimulai ketika kami sampai di Bukit Patuk. Dari puncak tersebut, hamparan Kota Jogja tampak indah terlukis di batas cakrawala. Pasti lebih elok dinikmati saat malam tiba.
Tujuan utama kami hari itu adalah Dusun Wonosari, Desa Semoyo, Kecamatan Patuk. Sebuah kawasan desa dengan keindahan alamnya yang masih tersembunyi. Kampung ini berada sekitar 2 kilometer arah selatan kota Kecamatan Patuk. Memasuki dusun ini, kesan pertama yang muncul adalah keramahan sikap warganya menyambut siapa pun yang datang. “Sudah tiga bulan ini kami bekerja gotong-royong mematut-matut desa kami untuk menjadi sebuah desa wisata baru, “ ungkap Kadus Wonosari.
Tapi tentu bukan itu satu-satunya daya tarik yang dimiliki Dusun Wonosari. Di sepanjang jalan tanah yang kami lewati menuju titik Jurug Lengkongsari, bebatuan besar menjulang di kiri kanan jalan. Beberapa ekor burung liar yang terkejut mendengar langkah kaki kami, sontak terbang menghambur keluar dari dahan pepohonan.
Jarak dari pintu masuk desa ke lokasi air terjun sebenarnya tidaklah jauh, hanya 500 meter. Namun karena medan jalan yang sulit, tak urung perjalanan itu membuat kami mandi keringat. Beruntung, apa yang kami dapatkan kemudian serasa benar-benar langsung mengobati segala keletihan. Tiga aliran air di lokasi yang berbeda-beda, Air Terjun Banyu Sumurup, Grejek-grejek, dan Lengkongsari, jatuh secara bersama-dari ketinggian 15 meter ke Sungai Semoyo yang mengalir di bawahnya.
Mendengar suara deburan airnya, tempias air yang mengabut di sekitar air jatuh dan membentuk dinding-dinding batu di sekilingnya, benar-benar telah mencuri perhatian kami saat itu. Terpana. Bagaimana bisa ada tempat sedahsyat ini hingga bertahun-tahun lamanya dibiarkan merana?
“ Sebenarnya sudah sejak lama kami menyadari keindahan air terjun dan panorama alam di desa kami itu,” ungkap Ketua POKDARWIS. Namun, lanjutnya, baru bulan Desember 2013 lalu dideklarasikan sebagai desa wisata, atas dorongan seorang wartawan sebuah televisi swasta, Rofieq. Selanjutnya, menurut rencana destinasi ini akan di-lounching Minggu 30 Maret 2014.
Sekitar pukul 14.00 kami meninggalkan desa menawan yang masih perawan itu. Cuaca pegunungan Gunungkidul yang terik dan perjalanan yang melelahkan, membuat kami saat itu menjadi cepat merasa lapar. Hanya dalam belasan menit kami sudah tiba kembali ke atas bukit untuk makan siang yang tertunda.
Usai makan siang, kami pun bersiap pulang ke Jogja. Enggan rasanya beranjak pulang, membayangkan beberapa jam lagi pasti akan menyaksikan sunset dari atas bukit Patuk yang menjulang. Kami jatuh cinta pada vibrasi kehidupan di Wonosari, tetapi, kami memang harus pulang.* Sugiono - kisuta.com


