Selasa, 2 Juni 2026
Artikel Opini
Catatan

Wisata Desa, Upaya Berkelit dari Kebisingan Kota

Jumat, 28 Maret 2014

BISING suasana perkotaan dengan segala kesibukannya, telah mendorong banyak penghuninya berbondong mencari keteduhan ke alam pedesaan. Tempat-tempat berlabel “Desa Wisata” pun bermunculan meresponnya. Berlomba memikat hati para pelancong kota yang kegerahan itu dengan beragam pengalaman dan panorama yang memesona. Tak kurang 200 titik destinasi wisata desa tersebar di Yogyakarta kini menunggu dikunjungi.

Tren wisata desa membuat dunia pariwisata Yogyakarta menjadi berwarna. Selain memiliki panorama alam yang indah, kota ini juga menyimpan pesona lain yang tak kalah menarik dikunjungi. Desa wisata dan kampung wisata, misalnya, masing-masing menawarkan harmoni alam yang memesona. Di sini, wisatawan tidak hanya disuguhi berbagai atraksi budaya Jawa, tapi mereka juga akan merasakan kejutan bertubi-tubi oleh keramahan masyarakat desa.

Di sisi lain bagi wisatawan sendiri, mengunjungi tempat-tempat seperti itu bukan sekadar bertamasya untuk mengendorkan syaraf yang tegang akibat bermacam persoalan sehari-hari. Mereka juga ingin memahami tradisi budaya masyarakat setempat, sehingga terjadi proses pembelajaran dua arah antara wisatawan dan masyarakat.

“Wisata desa adalah perjalanan yang berorientasi menikmati suasana kehidupan pedesaan,” ungkap Ketua Desa Wisata (Dewita) DIY, Kristianto Bintoro. Kehidupan sehari-hari masyarakat desa dan lingkungan yang alami, merupakan daya tarik utama jenis wisata khusus ini. Beberapa kalangan bahkan mengikuti paket wisata desa dengan niat melakukan refleksi diri terhadap kehidupan warga desa yang sangat bersahaja.

Karena itulah wisata desa juga dipahami sebagai upaya memperoleh nilai tambah dari budaya, tata nilai, tradisi dan lingkungan alamnya. Berinteraksi dan mengalami langsung (live in) dalam kehidupan masyarakat setempat, menjadi pengalaman baru yang mengesankan bagi mayoritas orang kota yang setiap hari terjebak kemacetan di jalan raya.

Ada kelompok wisatawan yang mengunjungi pedesaan khusus untuk melakukan refleksi diri. Wisatawan jenis ini biasanya tidak sukacita pergi ke desa untuk hura-hura, dengan menumpang pesawat terbang di akhir pekan, menenteng keranjang piknik berisi setumpuk sandwich isi daging asap diolesi mustard, ditemani sebotol besar anggur merah yang mahal.

Pada kenyataannya, lanjut Kristianto, justru banyak orang yang lupa bagaimana caranya bisa mencapai titik hampa pada jiwa, manunggal dengan warga desa, menangkap harum kehidupan dan alam pedesaan merupakan inti jiwa dari sebuah perjalanan wisata desa. Atas alasan itu, wisatawan khusus tersebut kemudian mengunjungi tempat-tempat terpencil di desa hanya untuk memuaskan dirinya yang kebetulan hidup dalam dunia yang lebih modern.

Bagi kelompok jenis wisatawan seperti ini, maka Yogyakarta bisa dibilang adalah surganya. Yogyakarta dengan kekayaan tradisi budaya, lembah ngarai yang indah dan kehidupan masyarakat pedesaan yang bersahaja, semanak menerima setiap pendatang dengan tangan terbuka tanpa curiga, seolah menjanjikan harapan dan mimpi yang mereka cari.

Lihatlah suasana setiap musim liburan di tempat-tempat wisata desa di Yogyakarta, puluhan wisatawan asyik ikut membajak sawah, menganyam bambu atau terlibat dalam upacara merti desa.

Memang, tidak semua dari mereka mampu memahami apa yang tersaji. Namun bagi yang beruntung mampu menangkap harum cahaya kehidupan dari tempat tersebut, bisa dipastikan mereka akan datang dan datang lagi di kesempatan berikutnya.* Muh Sugiono - kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya