Rabu, 3 Juni 2026
Wisata & Sejarah

Menikmati Hidup Jadi Petani di Pentingsari

Minggu, 30 Maret 2014

DI tengah animo besar berbagai pihak untuk mengembangkan industri pariwisata, keberadaan destinasi baru yang unik dan original ternyata menjadi daya pikat kuat yang mengudang banyak orang untuk datang.

Meski ada banyak alternatif bentuk wisata, namun pengembangan wisata desa agaknya menjadi salah satu yang sangat sesuai bagi Yogyakarta. Keaneka-ragaman tradisi budaya pedesaan dan kawasan-kawasan baru, daerah pedalaman atau desa-desa tradisional, merupakan tempat yang menjanjikan untuk dikembangkan. Hingga saat ini, lebih dari 200 objek wisata desa telah digarap dengan serius oleh pemerintah melibatkan masyarakat setempat.

Bagi wisatawan yang datang ke desa, pengayaan pengalaman dan melakukan kontak sosial yang lebih dalam, mengenali kehidupan sehari-hari masyarakat di pedesaan merupakan hal menarik untuk dinikmati. Konkretnya, wisatawan cenderung meninggalkan produk-produk standar berskala massal dan beralih menuju objek-objek wisata baru yang menonjolkan keaslian otentisitas, orisinalitas dan keunikan.

Kabupaten Sleman merupakan wilayah yang paling banyak memiliki objek wisata desa. Ada sekitar 50 lokasi yang tersebar di berbagai wilayah dengan berbagai daya tarik masing-masing. Dari wisata desa Brayut di lereng Merapi dengan keunikan rumah Joglo, lalu desa Kelor dengan hamparan kebun salak pondoh yang memikat, Ketingan dengan ribuan burung blekok yang bersarang di atas pepohonan, hingga aneka tradisi pertanian di Pentingsari yang eksotik.

Memasuki kawawan Pentingsari, Umbulharjo, Cangkringan, kita akan langsung disambut dengan hamparan pepohonan menghijau yang rindang. Inilah Desa Wisata Pentingsari. Sebuah kampung hijau yang berlokasi di kaki Gunung Merapi di sebelah utara kota Jogja.

Di tempat inilah orang-orang kota menghabiskan waktu libur untuk menikmati suasana desa nan permai . Tempat para pelajar dan mahasiswa belajar mengenali tradisi sambil merajut mimpi hidup menjadi petani. Mencium bau lumpur dengan ikut tandur (menanam padi), memerah susu, melakukan tracking di lereng gunung dan mandi ramai-ramai di aliran air sungai yang murni. Memandang bebatuan besar yang berserakan di sepanjang sungai yang berliku, dengan beberapa ekor kerbau berendam melepas letih setelah sepanjang pagi menarik bajak sawah, terasa menentramkan hati siapapun yang menyaksikan.

Di desa wisata Pentingsari, faktor keindahan alam, budaya dan pertanian, merupakan perpaduan daya tarik yang sekaligus menjadi roh kehidupan warga setempat. Mereka adalah masyarakat yang bersahaja, tidak neko-neko menjalani hidup secara gotong-royong memelihara lingkungan alam dengan kearifan lokal warisan nenek moyang. Mereka juga mengaku tidak terlalu muluk bermimpi atas desa wisata yang dibangunnya. “Kami hanya ingin maju sejajar dengan desa-desa yang lain,” ungkap pengelolanya, Ir. Doto Yogantoro.

Warga desa Pentingsari adalah masyarakat yang cepat belajar sesuatu. Begitu predikat Desa Wisata dikibarkan di desanya, saat itu juga masyarakat di lereng Merapi itu mempersiapkan diri, memetakan setiap potensi yang ada dan memadu-simpulkan menjadi sebuah sinergi yang solid. Dengan jumlah penduduk sekitar 370 jiwa terdiri 127 KK, Pentingsari saat ini memiliki lebih dari 60 unit home stay , 30 orang pemandu wisata local, aneka menu masakan tradisional yang khas, camping ground, tracking Luweng, dan aneka atraksi budaya tradisi.

.
Bagi warga desa di lereng Merapi itu, memelihara hewan ternak dan bertani bukanlah kerja sambilan atau sekadar atraksi buatan untuk tontonan para wisatawan. Ternak, bagi mereka adalah raja kaya, dan pertanian adalah bandha raja. Tentang ternak dan pertanian pula masyarakat Pentingsari bertegur sapa dengan tetangga, di jalan, di pematang sawah, atau saat berkumpul di sebuah acara jagongan bayi. Tapi, justru kerena itulah kehidupan alami warga Pentingsai menjadi sangat memikat para wisatawan.

Kunjungan wisatawan ke desa Pentingsari terjadi setiap hari tanpa mengenal musim. Tapi diakui Doto Yogantoro, selalu terjadi peningkatan kunjungan cukup signifikan pada bulan Juni, Juli dan Desember, yang disebunya sebagai bulan istimewa. Dengan kapasitas pengunjung sebanyak 2.500 wisatawan, pada tiga bulan istimewa itu sering sampai tidak mampu menampungnya. “Pernah suatu hari kami kedatangan 5.000 orang. Kami sempat kelabakan, tapi akhirnya kami melakukan apa adanya yang bisa kami lakukan dan sediakan. Ternyata para wisatawan itu malah merasa senang,” jelas Doto Yogantoro.

Pentingsari masuk dalam kawasan rawan bencana Gunung Merapi. Pada Oktober 2010, kawasan wisata ini pernah lenyap tersapu banjir lahar dingin yang datang dari erupsi Merapi. Sawah seluas 25 hektare lenyap, DAS Kali Kuning tertimbun pasir. Mayoritas warga Pentingsari yang menggantungkan hidup dari sektor wisata dan pertanian, sontak kehilangan mata pencaharian. Untunglah, upaya recovery yang dilakukan marathon selama 6 bulan, akhirnya berhasil mengembalikan apa yang tadinya hilang.

Berbagai upaya dilakukan masyarakat dan pengelola untuk meningkatkan kunjungan wisata ke Pentingsai. Antara lain dengan mengandeng sektor swasta dan pemerintah. Melaui program PNPM mandiri, mereka kini sedang membangun beberapa akses jalan, jembatan, dan fasilitas pendidikan. Di sisi lain pemerintah daerah setempat dengan dukungan kalangan akademisi. juga aktif memberikan pelatihan dan bantuan pendampingan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusianya.* Sugiono - kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya