Kearifan Lokal Sunda sebagai Pijakan Kemajuan
SETELAH globalisasi (penyamarataan) berjaya menguasai dunia, berkat transformasi budaya dan komunikasi yang didukung kehebatan ilmu pengetahuan dan teknologi pada awal 1980-an memasuki awal abad 21, muncul gerakan “global paradox”.
Masyarakat dunia, kembali merindukan nilai-nilai asal dan asli, sesuai lingkungan asasi masing-masing. Ideologi global yang mencengkeram seluruh bidang kehidupan, baik fisik-material, maupun mental-immaterial, mulai digugat. Mulai dari komunisme yang runtuh era 1990-an, hingga kapitalisme yang sedang terus ditolak, termasuk di pusat saham internasional Wall Street, New York yang sudah bercokol selama hampir seusia Amerika Serikat itu sendiri.
Gerakan “paradox global” yang paling intensif namun diam-diam, adalah kesadaran terhadap pemahaman dan pengkajian nilai-nilai kebijakan atau kearifan lokal (local-wisdom). Baik di negara-negara maju, seperti Eropa dan Amerika, maupun negara berkembang yang dikategorikan “Dunia Ketiga” atau “Selatan-Selatan”, penggalian nilai-nilai kearifan lokal terus meningkat. Ada yang secara akademis di perguruan-perguruan tinggi, ada pula secara aplikatif di lapangan melalui pembentukan komunitas-komunitas “adat”. Istilah “kembali ke alam” (back to nature), menjadi ciri slogan paling nyata saat ini.
Masyarakat Sunda, yang sudah memiliki peradaban maju di dunia (teori pakar genetika Jerman mutakhir, Stephen Oppenheimer, penulis buku “Eden in the East”,2011), tentu sangat kaya oleh kearifan lokal. Hanya saja, akibat berbagai dampak negatif dari penetrasi budaya, ekspansi ekonomi dan agresi politik yang mengarah kepada kepentingan-kepentingan eksternal, khazanah kearifan lokal itu banyak yang lenyap tak berbekas. Hanya sedikit yang tersisa, terdokumentasikan, dan masih bertahan di tengah gejolak berbagai perubahan.
Para karuhun Sunda, menyebutkan, wahana kearifan lokal yang bersifat “pok” (ucapan), “pek” (bahan garapan) dan “prak” (pelaksanaan nyata), akan tumbuh subur berkembang jika didukung tiga faktor penting: kelestarian lingkungan alam (ekologi), keserasian hidup manusia, dan keberadaan hewan dan tumbuhan (fauna-flora) yang terjaga. Ketiga faktor penting tersebut, merupakan jalinan mata-rantai kehidupan yang tidak boleh putus. Ketiganya saling mengisi, memberi dan menerima. Menjadi wujud dari sikap dan sifat “sareundeuk saigel, sabobot sapihanean, sabata sarimbagan”. Semuanya sama penting. Sama peran dan fungsinya dalam harmonisasi kehidupan sehari-hari.
Namun memasuki era “pseudo-industri” (industri tanggung), terjadi perubahan drastis dalam tatanan kehidupan orang Sunda yang mayoritas petani (agraris). Menjadi industralis tidak pernah, karena semua dikuasai sistem padat modal, menjadi agraris sudah tidak lagi, karena lahan pertanian sudah berubah menjadi pabrik-pabrik. Lingkungan alam dan flora-fauna juga ikut terkena dampak derita. Rusak atau hilang sama sekali. Ribuan atau mungkin jutaan “mataholang” (plasma nutfah) flora-fauna Tatar Sunda lenyap sebelum berhasil diinventarsir setelah lahan-lahan subur mengalami alih fungsi tak terkendali. Sawah ladang telah berubah drastis menjadi bangunan-bangunan yang menimbulkan ketimpangan alam, effek rumah kaca dan pemanasan global berkepanjangan.
Beberapaa kearifan lokal yang tersisa rata-rata hanya dalam tataran “pok”, dapat diuraikan di sini, antara lain :
1.Caina Herang, Laukna Beunang
Membereskan masalah, tanpa masalah. Kearifan sosial sangat mendalam, mampu memelihara jalinan silaturahim, antara sesama manusia. Juga dengan mahluk lain, baik tumbuhan, hewan, maupun lingkungan alam sekitar.
Sikap “gereges gedebug” – tindakan cepat tanpa pertimbangan tepat – sangat dijauhi. Para karuhun Sunda lebih mementingkan “malapah gedang”. Melingkar, berputar, seolah-olah lamban bertele-tele. Namun dalam kelambanan dan kebertele-telean itu, justru lahir kehati-hatian, pendekatan halus, dan tentu saja hasil melegakan bagi semua pihak. Sehingga menguntungkan bgi semua pihak, baik yang menjadi “sasaran” (obyek), maupun bagi yang menjadi ”penyasar” (subyek). Tidak ada yang kalah telak, tidak ada yang menang mencolok. Suasana tetap rapi kondusif, aman tanpa gejolak, kendati masalah yang dihadapi cukup sulit dan besar, berkat penerapan prinsip “caina herang, laukna beunang”, yang mengandung unsur sabar, cerdas, ulet dan penuh pengertian.
Tampaknya, tradisi “caina herang, laukna beunang”, perlu dibudayakan kembali, di tengah gelombang kehidupan yang penuh gejolak dan pertentangan.
2.Kudu Ngakal, Ambeh Ngakeul
“Ngakal” adalah berpikir dan berusaha. Dikaitkan dengan pemenuhan kebutuhan sehari-hari. “Ngakeul” adalah kiasan untuk hasil yang diperoleh, untuk memenuhi keperluan sandang-pangan-papan. Walaupun “ngakeul” dalam arti sebenarnya, merupakan proses akhir dari rangkaian kegiatan menanak nasi. Setelah padi ditumbuk menjadi beras, dan beras “diisikan” (dicuci bersih), kemudian ditanak. Setelah masak, “diakeul”. Dihilangkan asapnya, agar tidak mudah basi.
Para karuhun Sunda, menanamkan semangat “ngakal-ngakeul” ini, menjadi sebuah pandangan hidup “rancage”. Aktif kreatif. Siap banting tulang, mencari nafkah sesuai keahlian masing-masing. Semangat “ngakal-ngakeul” semata-mata agar generasi muda Sunda tidak “kandulan”. Malas, suka berleha-leha. Tidak gemar “nangkeup tuur”, “cindekul moyan” ,“heuay kukuliatan”, dan perilaku lain yang negatif . Letih, lesu, loyo. Hanya menunggu sesuatu sambil tidak menampakkan upaya memperolehnya melalui tetesan keringat sendiri.
3.Ka Hareup Ngala Sajeujeuh…
Kata “jeujeuh” mengandung arti ukuran, kehati-hatian, kepastian, tidak berlebihan. Pas. Para karuhun Sunda, memberikan wejangan agar dalam berucap dan bertindak, haruslah penuh “jeujeuhan” Jangan sembarangan, sehingga menimbulkan hal-hal yang kontroversial dan kontraproduktif.
Jika maju ke depan, untuk mengerjakan sesuatu yang baru, harus “sajeujeuh”, maka ke belakang cukup dengan “salengkah” saja. Tidak terlalu mundur jauh ke masa lalu, agar tidak menimbulkan keluh-kesah mempersoalkan keadaan. Seolah-olah masa lalu terlalu indah untuk ditinggalkan, masa depan terlalu dikhawatirkan untuk dituju.
Peribahasa “ka hareup ngala sajeujeuh, ka tukang ngala salengkah” adalah pedoman hidup penuh kearifan para karuhun Sunda yang penuh etos kerja. Mengambil yang baik di masa lalu, sekaligus menicptakan yang lebih baik di masa kini.Sehingga menempuh masa depan berlandaskan pada “tatapakan” yang kuat kokoh.
Dengan melihat ke sebagian masa lalu, para karuhun Sunda mengoreksi segala kesalahan, agar tidak kembali terulang. Sedangkan menghadapi masa depan, setelah segala kekurangan disempurnakan pada masa sekarang, dan mulai menata langkah-langkah ke masa depan. Menyiapkan bekal bagi anak cucu, “buyut”, “bao”, “canggahwareng”, “udeg-udeg”, dan “kakait siwur”, rangkaian anak keturunan dari generasi ke generasi berupa kekayaan material-finansial, yang terus bertambah, dan kekayaan mental-spiritual, yang panceg dalam “adeg-adeg”.
“Ka hareup ngala sajeujeuh, ka tukang ngala salengkah” mengandung unsur “nyaliksi diri”, "hudang kasadaran”), dan “beresih lahir batin”. Sehingga, hubungan erat antara diri sendiri (mikrokosmos) dengan alam semesta (makrokosmos), tetap harmonis. Melahirkan kondisi yang normal dan penuh harapan dalam kehidupan sehari-hari.
4. Sasieureun Sabeunyeureun
“Sieur” adalah sejenis serangga amat kecil.Biasa terdapat pada ayam betina yang sedang mengerami telur. Ketika telur menetas dan induk ayam diangkat dari sarangnya, “sieur” suka menggerayang ke mana-mana. Termasuk ke tubuh orang yang bersentuhan dengan induk ayam itu. Bentuk “sieur” tidak terlihat. Hanya terasa “merang” - gatal-gatal – pada bagian tubuh yang terkena serangannya saja.
“Beunyeur” (menir), merupakan bagian terkecil dari beras tumbuk. Jarang dimanfaatkan, kecuali untuk makanan ayam atau burung peliharaan. Jika sesekali ditoleh, untuk dimasak menjadi “pais beunyeur”, yang dikategorikan makanan sambilan “capek rahem” di luar nasi sebagai makanan sehari-hari.
Kedua jenis mahluk dan benda kecil itu, oleh para karuhun Sunda digabung menjadi idiom “sasieureun sabeunyeureun”. Untuk menggambarkan rasa solidaritas, kebersamaan, saling bantu dalam sesuatu perkara. Penuh gambaran rendah hati, sebagai “siloka” bahwa yang diberikan tidak berarti apa-apa. Padahal dalam kenyataan, bantuan atau pemberian sekecil apapun sangat berarti bagi yang dibantu dan diberi.
Kehidupan masyarakat Sunda di Tatar Jabar, memang terkenal dengan rasa simpati kepada sesama. Hal ini tampak dari sikap dan sifat “gotong royong, rempug jukung sauyunan” dalam menjalin kekerabatan lingkungan yang saling peduli. Misalnya, ketika seorang tetangga membangun rumah. Ketika “ngarakrak” (merubuhkan) rumah lama, tumbuh budaya “hiras”. Membantu tanpa mendapat upah. Cukup dengan “ngahiras” saja. Meminta bantuan secara lisan. Maka datanglah para tetangga berbondong-bondong. Ikut “ngarakrak”. Yang tidak dapat membantu dengan tenaga, datang membawa makanan dan penganan, apa saja sekadar untuk konsumsi orang-orang yang bekerja.
Di situlah lahir istilah “sasieureun sabeunyeureun” yang diartikan, membantu ala kadarnya. Tidak besar, namun diharapkan bermanfaat.
Para karuhun Sunda yang arief bijaksana, telah mafhum akan pengertian nilai keikhlasan. Besar atau kecil bukan masalah. Yang penting, ada dan berguna, baik bagi yang member maupun bagi yang menerima. Sebab, bagi Allah SWT, siapa saja yang berbuat kebaikan walaupun hanya sebesar biji atom, akan mendapat ganjaran. Demikian pula yang berbuat kejahatan, sekecil apapun,tetap akan mendapat siksaan (Q.s. al Zalzalah : 7-8). “Sasieureun sabeunyeureun” yang identik dengan kebaikan walaupun amat kecil, tetaplah merupakan kebaikan yang bernilai amat besar bagi kehidupan sehari-hari.
Contoh nilai-nilai kearifan lokal tersebut, seharusnya bukan sekadar “pok” (lisan) belaka. Melainkan perlu rumusan gagasan praktis (“pek”) dan penerapan nyata (“prak”). Sehingga dapat menjadi motivasi positif bagi generasi baru masyarakat Sunda.* H.Usep Romli HM - kisuta.com


