Selasa, 2 Juni 2026
Artikel Opini
Esai

Mengangkat Citra Kuliner Lokal

Selasa, 1 April 2014

MANUSIA dan makanan. Adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Makanan merupakan pokok penting bagi seseorang untuk menjaga keberlangsungan hidupnya. Ia biasa dimasak terlebih dahulu. Maka, munculah istilah kuliner yang merupakan kata serapan dari bahasa Inggris, culinary, bermakna, “Yang berhubungan dengan dapur atau masakan”. Kuliner adalah salah satu produk budaya yang dipengaruhi oleh berbagai hal serta mencirikan suatu bangsa. Lebih jauh lagi, menjadi semacam “Life style” yang menunjukkan karakteristik seseorang.

Kuliner lokal merupakan khazanah budaya sebagai warisan nenek moyang. Keanekaragaman jenisnya, menunjukkan kreativitas bangsa sejak dahulu kala. Kuliner pun merupakan bagian dari Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) yang pada dasarnya telah diakui UNESCO. Maka untuk melindungi kuliner lokal, ia perlu dilestarikan dan diangkat citranya dalam kancah kehidupan manusia, baik pada tataran regional maupun global.

Sebagai sebuah suku bangsa, Sunda pun kaya akan keragaman kuliner di seluruh pelosok wilayahnya. Dengan citarasa yang khas, unik, dan menarik, baik berupa penganan maupun makanan berat. Masakan Sunda menampilkan citarasa yang ringan, sederhana, dan jelas; berkisar antara gurih asin, asam segar, manis ringan, dan pedas.

Setiap daerah di Sunda hampir dipastikan memiliki kuliner khas sendiri, seperti: Garut: dodol; Subang: ganas dan berbagai produk olahannya; Sumedang: tahu; Cirebon: nasi jamblang; Bogor: talas; Bandung: es lilin, keripik tempe, peuyeum; dsb.

Kementerian Pariwisata dan Industri Kreatif pada akhir 2013 telah menetapkan 30 ikon kuliner tradisional yang dijadikan makanan unggulan Indonesia untuk dibawa ke dunia Internasional. Untuk kuliner dari Jawa Barat, terdiri dari serabi Bandung, kolak pisang ubi Bandung, ayam goreng lengkuas Bandung, dan laksa Bogor. Selain ayam panggang bumbu rujak dan nasi tumpeng yang tersebar di berbagai wilayah di Indonesia.

Pada khazanah budaya Sunda, kuliner tidak hanya berkaitan dengan pengisi perut yang keroncongan, tapi juga simbol tradisi adat istiadat. Kita ambil saja contohnya Rebo kasan (Rebo wekasan). Peringatan pada hari Rabu terakhir di bulan Safar untuk mencegah atau menolak bala (penyakit, kesusahan, dll.) Pada Rebo kasan ini “urang Sunda” membuat kupat tahu dengan beragam varian kupatnya. Misalnya, kupat, leupeut dan lontong, dupi atau disebut juga tangtang angin, serta bacang. Begitupun dengan beragam upacara adat lainnya, menjadikan kuliner sebagai bagian darinya atau simbol tertentu.

Bukan hanya itu, dari satu jenis makanan dengan satu bahan dasar, bisa menghasilkan berbagai macam kreasi. Contoh kupat tadi yang terbuat dari beras, pembungkusnya menggunakan daun kelapa: ada kupat segi empat, segi tiga, berbentuk manuk, kupat keupeul, kupat yang memanjang, dll. Belum lagi kita menemukan buras, lontong, leupeut yang pembungkusnya dari daun pisang. Dupi atau disebut juga tangtang angin berbungkus daun bambu. Atau bacang yang menggunakan daun hanjuang. Cara memasaknya berlainan. Ada beras yang dibungkus terlebih dahulu sebelum direbus. Ada juga yang digigihkan, kemudian dibungkus, lalu dikukus. Tentu, semuanya memiliki rasa khas tersendiri dari setiap jenisnya.

Selain pembungkus yang telah disebutkan di atas, ada juga yang menggunakan kertas atau plastik, beragam macam daun, seperti daun pandan, kararas (daun pisang kering), daun jagung, dll. Dengan bentuk kreasi yang berbeda-beda bahkan untuk satu jenis kuliner saja.

Perubahan dan perkembangan zaman, membawa perubahan dan perkembangan tersendiri pula bagi kuliner tatar Parahyangan. Seperti halnya produk budaya lain, kuliner Sunda pun banyak tergerus roda globalisasi. Dapat kita jumpai kuliner yang ”ngetren” adalah produk luar yang berasal dari negeri seberang. Seperti fried chicken, sosis bakar, ramen, pizza, spagethi, atau makanan berbahan keju. Lagi-lagi sebagaimana terjadi pada produk budaya lain, “jati kasilih ku junti” melanda.

Meski begitu, pada beberapa kuliner lokal ada perkembangan yang menggembirakan. Walau hanya bagai sebuah oase di gurun pasir. Seperti inovasi yang telah dilakukan, di antaranya bajigur seduh, cingcau eskrim, chochodot, serabi beraneka rasa, dll. Inovasi ini merupakan hal yang penting agar kuliner lokal mampu lebih dari survive, tapi eksis di Tanah Air. Bahkan kalau bisa diekspor ke luar negeri. Dengan memodifikasi dari segi produksi agar cocok di lidah masyarakat saat ini hingga citranya dapat lebih dikenal.

Kuliner pun merupakan penyumbang terbesar bagi ekonomi kreatif, yakni 32% atau Rp. 208 T dan mampu menyerap 3—4 juta tenaga kerja, (Republika, 25 Februari 2014). Kuliner berhubungan dengan unsur budaya dan kehidupan lain, seperti pertanian, peternakan, perkebunan, pariwisata, arsitektur, dsb. Maka, dengan mengangkat citra kuliner lokal, seyogyanya dapat mengembangkan asfek tersebut. Yang pada hakikatnya menjadi wahana menjaga dan melestarikan budaya, kearifan, dan kesejahteraan dalam meningkatkan roda kehidupan masyarakat.

Beberapa hal yang bisa dijadikan pertimbangan dalam mengangkat citra kuliner lokal, di antaranya, produsen melakukan inovasi terhadap produk dari segi rasa dan jenis tanpa menghilangkan ciri khasnya. Menggunakan nama yang menjual, menarik, dan mudah diingat. Terkadang malah ada yang “nyeleneh” agar publik penasaran.

Selain dijajakan sendiri, untuk segi marketing, pengusaha dapat bekerjasama dengan toko, retail supermarket, membuka franchaise. Atau dipasarkan secara online sebagai usaha menggaet pangsa pasar yang luas.

Teknik branding pun harus diperhatikan. Selain iklan di media massa, baliho dan poster, saat ini mempublikasikan produk di dunia maya, baik melalui website, blog, maupun di jejaring sosial seperti facebook dan twitter dapat menjadi pilihan. Bila tidak bisa dilakukan sendiri pun, bisa menyewa jasa orang lain.

Pengemasan juga penting. Kemasan yang apik dan cantik menjadi daya tarik yang menambah eksklusifitas produk dan meningkatkan daya jual.

Tempat terkenal yang menjajakan kuliner, seperti Pasar Ceplak di Garut dan Jl. Suryakancana di Bogor harus didukung. Festival atau kegiatan husus kuliner seperti Braga Culinary Night (BCN), Cibadak Culinary Night (CBN), Ujung Berung Culinary Night di Bandung pun patut mendapat apresiasi. Dan dijadikan sebuah wahana mengangkat citra kuliner lokal.

Peranan pendidikan tak bisa dikejawantahkan. Maka, Sekolah Menengah Kejuruan dan Sekolah Tinggi Pariwisata yang memiliki pelajaran, mata kuliah, atau jurusan tata boga perlu mempelajari dan mengembangkan kuliner lokal. Tak melulu ngagugulung kuliner luar yang dianggap lebih beken dan keren.

Pada dasarnya semua pelaku yang berhubungan dengan kuliner harus senantiasa kreatif, inovatif, dan mengikuti perkembangan zaman. Agar meski yang dihidangkan adalah kuliner lokal, tapi bercita rasa dan berskala global. “Think globally, act locally”. Serta “Ngindung ka waktu, mibapa ka jaman”. Dan sebagai penikmat kuliner, kita mencicipinya selain sebagai bentuk kecintaan pada budaya juga wahana memanjakan lidah sendiri. Tentu kita tidak ingin kuliner lokal tergerus waktu dan hanya tinggal kenangan di masa lalu. * Reni Nurhayati - kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya