Gabriel Garcia Marquez, Sastrawan Dunia Peraih Nobel Itu Tutup Usia
SASTRAWAN berpengaruh dunia asal Kolombia, Gabriel Garcia Marquez, wafat dalam usia 87 tahun, Kamis (17/4) malam di Meksiko.
Gabriel Garcia Marquez sering dianggap sebagai salah seorang penulis terbesar yang menggunakan Bahasa Spanyol. Penerima anugerah Nobel Sastra ini sejak 3 April lalu diterbangkan ke salah satu rumah sakit Ibu Kota Meksiko, Mexico City, akibat infeksi dan dehidrasi. Belakangan diketahui, dia juga mengidap pneumonia akut.
"Gabriel Garcia Marquez sudah meninggal dunia. Ini kesedihan yang mendalam,” kata juru bicara keluarga Gabo, Fernanda Familiar melalui akun twitter-nya. Dia berbicara mewakili istri Gabo, Mercedes, dan kedua putra mereka, Rodrigo dan Gonzalo.
Seperti dilansir stasiun televisi CNN, Presiden Kolombia Juan Manuel Santos langsung menyatakan bela sungkawa, dan menetapkan tiga hari berkabung nasional, karena pria itu dianggap sebagai salah satu tokoh bangsa. "Raksasa sepertinya tak akan pernah mati," kata Santos melalui akun Twitter resminya.
Presiden Amerika Serikat Barack Obama turut mengucapkan belasungkawa. Dia mengaku sangat tersentuh membaca novel Gabo paling terkenal, 'Seratus Tahun Kesunyian'. Obama mengaku mendapatkan buku itu langsung dari sang penulis saat mengunjungi Meksiko.
“Dengan wafatnya Gabriel Garcia Marquez, dunia kehilangan salah satu penulisnya yang paling visioner. Dia salah satu favorit ketika saya muda. Saya menyampaikan duka cita mendalam kepada keluarga dan sahabat-sahabatnya. Karya Gabo akan hidup untuk generasi-generasi mendatang,” kata Obama seperti dikutip ABC News, 18 April 2014.
Gabo lahir di pantai utara Kolombia pada 6 Maret 1927. Sempat lama menekuni dunia jurnalistik pada periode perang dunia II, suami dari Mercedes Barcha Pardo ini mengalami kemiskinan di awal-awal berkeluarga. Walau tak punya cukup uang, Gabo nekad merampungkan novelnya pada 1955.
Kesuksesan dan penghormatan baru menghampiri saat dia merampungkan Cien aos de soledad (Seratus Tahun Kesunyian) pada 1967, yang meledak di seluruh dunia pada 1970. Penghargaan sastra Romulo Gallegos Prize dia raup.
Novel tentang sejarah sebuah keluarga itu dianggap menjadi pembaharu cara tutur sastra, kerap disebut realisme magis. Berkat novel sukses lainnya, seperti 'Autumn of the Patriarch', serta sekumpulan cerita pendek dan novelet, Gabo dianugerahi penghargaan tertinggi dunia sastra, yakni hadiah Nobel, pada 1982.
Sepanjang hidupnya, Gabo tak cuma menulis, tapi sekaligus berpolitik, terutama menentang kapitalisme ala Barat. Dia akrab dengan pemimpin Kuba Fidel Castro maupun mendiang Presiden Venezuela Hugo Chavez yang berhaluan komunis.
Walau disebut pelopor aliran sastra realisme magis, Gabo tak pernah menyukai sebutan tersebut. Selamat jalan Gabo...* das - kisuta.com


