Jika Waria Menggelar Resepsi Pernikahan
ENTAH mendapat ide dari mana. Mencle, sebut saja begitu, menggelar resepsi pernikahan bohong-bohongan demi meraup untung puluhan juta rupiah. Sayangnya, bukan untung yang diperoleh, justru penjara yang didapat.
Mencle yang ternyata seorang waria di Nunukan ini, menggelar resepsi pernikahan bohong-bohongan dengan pengantin-pengantinan di Kec. Siemanggaris pada 9 April 2014. Mencle berharap, dari acara bohong-bohongan itu, ia akan mendapatkan untung besar dari amplop yang diberikan tamu undangan.
Diberitakan Tribunnews.com, Mencle yang saat ini telah diamankan di Mapolsek Nunukan itu, benar-benar menyiapkan resepsi pernikahan palsu itu seperti asli. Selain pengantin bohongan yang dipersiapkan, ia juga menyiapkan tempat resepsi lengkap dengan hidangan prasmanan dan hiburan elekton.
Nah, dari sinilah aksi tipu-tipunya terungkap. Seorang pemilik perahu yang disewa untuk mengangkut kebutuhan resepsi dari Pulau Nunukan ke Siemanggaris, melaporkan Mencle karena ongkos sewa perahu sebesar Rp 1,1 juta tak kunjung dibayar.
Menurut Kapolsek Nunukan, Iptu Syharir Bajeng, pada tanggal 7 April 2014, Mencle mendatangi pemilik perahu untuk mencarter perahu guna memuat peralatan elekton dan penyanyi ke Sekapal, Desa Sekaduyan Taka, Kecamatan Siemanggaris. Pemilik perahu menyanggupi dengan ongkos sewa Rp 1,1 juta. Pukul 12.00 pada hari yang sama, pemilik perahu membawa elekton dan penyanyi sampai tujuan.
Selanjutnya pada tanggal 9 April 2014 pukul 02.00, pemilik perahu mengangkut kembali dekorasi pengantin, elekton maupun tenda dari Kecamatan Siemanggaris ke Pulau Nunukan. "Setelah sampai ke Nunukan, pelapor kembali masuk ke Sekapal. Setelah sampai ke Sekapal dia meminta uang carteran sebesar Rp 1,1 juta kepada terlapor. Namun hingga Kamis, terlapor hanya memberikan janji-janji," ujar Syharir mengutip keterangan pemilik perahu sebagai pelapor.
Pemilik perahu yang merasa tertipu dan telah dirugikan hingga Rp 1,1 juta lalu melaporkan Mencle ke Polisi. Polisi bergerak cepat mengamankan pelaku dari kediamannya. "Beberapa hari setelah kejadian, orang menunggu pembayaran daging, pakaian, band tetapi dia tidak muncul-muncul. Rupanya dia kabur ke sini. Jadi kita jemput di rumahnya," ujarnya.
Anto diamankan petugas kepolisian karena terus diburu dan diancam akan dipukuli. Syharir mendugua, biaya untuk menggelar resepsi pernikahan bohong-bohongan itu mencapai Rp 25 juta. Anto diduga tidak sendirian dalam melakukan aksinya.
Mencle…Mencle, berharap untung malah buntung.* Uma – kisuta.com


