Terbentur Saat Berkelahi, Preman Kampung Ini Jadi Jenius
NASIB Jason Padgett berubah 380 derajat hanya gara-gara kepalanya jatuh terbentur saat berkelahi di sebuah bar. Ya, peristiwa yang terjadi tahun 2002 itu, telah memutar balik kehidupan pria 43 tahun itu.
Benturan yang dialami Jason yang tinggal di Tahoma, Washington, Amerika Serikat itu, membuatnya seperti “lahir” kembali menjadi manusia berbeda. Jason yang sebelumnya seorang preman, setelah mengalami benturan hebat di kepalanya yang menyebabkannya mengalami trauma otak parah, berubah menjadi jenius dan mempunyai ketertarikan pada matematika dan fisika.
Dilansir Daily Mail, perubahan yang terjadi pada Jason berlangsung dalam waktu singkat, hanya satu malam saja. Pria yang dikenal sebagai preman kampung itu, dalam satu malam berubah menjadi salah satu manusia jenius di dunia. Untuk membagikan pengalaman uniknya itu, Jason telah menuangkan dalam bentuk buku berjudul "Struck by Genius: How a Brain Injury Made Me a Mathematical Marvel".
Dalam bukunya, Jason mengungkapkan, usai terbentur saat terlibat pekelahian di bar, dirinya melihat dunia dengan perspektif baru. “Semua terjadi secara tiba-tiba,” tulisnya.
Menurut dokter yang menangani kasus Jason, apa yang terjadi pada pria Tahoma itu merupakan satu kasus dari 40 kasus istimewa sindrom Sabant. Sindrom yang lebih dikenal dengan nama “Inner Einstein” itu, merupakan sindrom di mana trauma otak telah menjadikan seseorang secara tiba-tiba mempunyai ketertarikan terhadap matematika dan seni. Itulah yang dialami Jason, tiba-tiba menyukai matematika dan fisika, dua pelajaran yang sangat dibencinya saat sekolah dulu.
Apa yang sebenarnya terjadi pada Jason? Bagaimana hingga perkelahian itu membuatnya menjadi manusia istimewa?
“Yang saya ingat dari peristiwa itu, saya diserang dari belakang oleh dua orang pria kemudian saya terbentur dan tidak sadarkan diri," ungkap Jason di bukunya.
Ketika tersadar, Jason mengetahui berada di rumah sakit dan telah menerima perawatan. Dia pun diperbolehkan pulang. Tapi, keesokan paginya, Jason menyadari bahwa dunia berubah di matanya. Tiba-tiba ia melihat dunia dengan cara yang berbeda. “Saya mulai memperhatikan detail yang sebelumnya tidak saya sadari ada," tuturnya.
Hebatnya lagi, secara otomatis, otak Jason langsung bisa menerjemahkan cara pandang barunya secara matematis. "Saya melihat pola-pola geometris dan garis-garis yang tersambung secara matematis. Saya juga bisa memahami pola dan formula dengan mudah, bahkan tanpa berusaha," lanjutnya.
Mendapati kondisi tersebut, Jason terkejut sekaligus shock. Jason yang kemudian memutuskan berhenti kerja dan fokus mempelajari fisika dan matematika. Dia memfokuskan diri mempelajari fraktal atau pola geometris berulang.
Banyak hal unik diperlihakan Jason. Pria yang tidak suka menggambar ini, tiba-tiba menjadi jago gambar dan memenuhi rumahnya dengan gambar-gambar fractal yang begitu detil.
Tak hanya membuat jenius, benturan itu juga ternyatra mengubah kepribadian Jason. Jika sebelumnya ia mudah bergaul, setelah mendapat benturan, berubah menjadi introvert dan lebih suka menghabiskan waktunya sendirian di rumah.
Jason mengaku, saat ini ia tidak mau bertemu orang dan terobsesi pada kebersihan. Jason begitu takut pada kuman sehingga terus-menerus mencuci tangan dan tidak mau memeluk keluarganya jika mereka belum mencuci tangan.
Beruntung perubahan itu tidak membuat Jason stress. Saat melihat salah satu tayangan di stasiun televisi BBC tentang Daniel Tammet, penderita Savant, Jason baru menyadari bahwa dirinya mengalami sindrom yang sama dengan Daniel Tammet.
Jason kemudian menemui Dr Darold Treffert, pakar Savantisme, yang langsung mendiagnosa Jason sebagai salah satu pengidap Sindrom Savant. Dr Treffert mengatakan, hingga saat ini hanya terdapat 40 orang yang didiagnosa mengidap sindrom unik tersebut.
Kasus Jason pun menarik perhatian seorang peneliti dari Finlandia, Dr Berit Brogaard. Sang dokter telah memeriksa otak Jason menggunakan MRI dan melihat sisi kiri otaknya memang terstimulasi maksimal dan menjadi aktif, terutama di area yang dikenal sebagai area matematika. Dr. Bograard mengungkapkan, trauma otak yang diderita Jason mengaktifkan aliran neurotransmitter ke area matematika di otaknya yang membuatnya tiba-tiba terobsesi pada angka.
Mengetahui kemampuan barunya, Jason tidak ingin membuangnya percuma. Dia pun kembali ke sekolah dan mendaftar di universitas setempat. Dia pun kini jadi inspirasi bagi banyak orang di sekelilingnya.
"Saya adalah bukti bahwa semua orang punya kecenderungan jenius yang masih tertidur. Jika hal ini terjadi pada saya, keajaiban ini juga bisa terjadi pada orang lain," ungkapnya dalam bukunya.* Ati – kisuta.com


