Jika Teknisi Klinik Kesuburan Menyuntikkan Spermanya Sendiri ke Rahim Pasien
GARA-GARA salah seorang teknisi laboratorium menyuntikkan spermanya ke rahim pasien inseminasi buatan, Reproductive Medical Technologies Inc terpaksa menutup kliniknya. Dalam proses inseminasi buatan, seharusnya sperma suami yang disuntikkan ke rahim wanita yang menjadi pasien.
Klinik kesuburan di bawah naungan University of Utah Medical Group di Salt Lake City, Amerika Serikat itu, saat ini sedang menyelidiki, apa latar belakang sang teknisi melakukan pelanggaran itu. Sayangnya, teknisi bernama Tom Lippert sudah meninggal dunia 15 tahun lalu atau sekitar tahun 1999, sehingga penyelidikan berlangsung tersendat.
Dikutip dari Reuter, Jumat (25/4/2014), kasus yang menimpa pasien inseminasi buatan, Pamela Branum ini baru terungkap beberapa tahun lalu. Pasien inseminasi buatan di Reproductive Medical Technologies Inc mengklaim bahwa berdasarkan hasil tes DNA, ayah dari putrinya bukanlah sang suami melainkan teknisi laboratorium yang bernama Tom Lippert.
Pamela melaporkan kejadian ini karena menganggap sebagai kelalaian dari pihak klinik. Pamela meminta pihak klinik bertanggung jawab atas kerugian yang dialaminya keluarganya.
Tim investigasi University of Utah Medical Group telah merekomendasikan hasil penyelidikannya. Dalam rekomendasinya, mereka mengatakan tidak jelas apakah sperma salah yang dimasukkan ke rahim Pamela dilakukan dengan sengaja atau tidak. "Penjelasan lain tidak bisa diterima dari perspektif kami sebagai komite. Kesimpulan sementara, bisa jadi banyak Branum-Branum lainnya yang mengalami hal sama," tulis salah satu anggota komite dalam laporannya seperti dikutip dari Reuters.
Sementara itu, Lippert, teknisi laboratorium klinik kesuburan itu, pernah mempunyai catatan kriminal. Namun, meskipun mempunyai “cacat”, namun pada tahun 1988 , tanpa pemeriksaan latar belakang, ia dipekerjakan sebagai tenaga paruh waktu di klinik tersebut. Lippert juga menjadi donor sperma terdaftar di klinik dan memberi contoh sperma secara berkala.
Meski dianggap sebagai karyawan yang baik, namun Lippert mempunyai masalah dengan rekan kerjanya. Tahun 1993, ia mengundurkan diri tanpa alasan yang jelas dan meninggal enam tahun kemudian.
Sean Mulvihill MD selaku wakil presiden asosiasi bidang klinis sekaligus CEO University of Utah Medical Group sudah mengajukan permohonan maaf pada Pamela. "Tidak ada keluarga yang seharusnya mengalami peristiwa ini. Kami sangat menyesal atas perasaan stres dan ketidakpastian yang dirasakan keluarga mereka selama ini," tutur Mulvihill.
Pihak klinik atas rekomendasi komite telah melakukan tes paternitas gratis untuk mantan klien mereka. Sejak Januari 2014, lima pasien sudah diuji untuk mengetahui apakah ada “anak” Lippert yang lain. Meski hasilnya tidak menunjukkan Lippert adalah ayah dari anak lain, tapi terungkap bahwa ada satu anak yang dihasilkan dari inseminasi buatan bukan berasal dari donor sperma yang dipilih sendiri oleh keluarganya. Pihak universitas pun tengah menyelidiki kasus ini.* Ati – kisuta.com


