Lembah Gurun Pasir Mesir, Tempat Nenek Moyang Ikan Paus
IKAN paus hidup di padang pasir? Wah, ini pasti informasi bohong, karena mana mungkin ada ikan hidup di padang pasir yang gersang.
Perlu Anda ketahui bahwa cikal bakal ikan paus memang hidup di padang pasir. Tidak percaya? Di Mesir, tepatnya di Gurun Barat yang terletak sekitar 150 km barat daya Kairo, ada satu lembah yang bernama Wadi al-Hitan atau Wadi Hitan atau Lembah Paus. Lembah terpencil ini menyimpan sejarah tentang cikal bakal ikan paus yang sekarang Anda kenal.
Di Lembah Paus ini terdapat koleksi berharga dari fosil-fosil dan tulang-tulang dari hewan yang sudah punah, subordo paus yang disebut archaeoceti. Situs paleontologi di lembah ini benar-benar terawetkan dengan baik, sehingga masih bisa dilihat sampai sekarang.
Di Lembah Paus dapat diketahui evolusi cikal bakal ikan paus dari hewan darat menjadi hewan air. Anda dapat mengetahui evolusi tersebut dari fosil-fosil Archaeoceti termuda, pada tahap terakhir dari evolusi dari hewan darat ke laut. Mereka sudah menampilkan bentuk tubuh streamline khas paus modern, sementara mempertahankan aspek-aspek tertentu dari struktur primitif tengkorak dan gigi, serta kaki belakang.
Banyak kerangka ikan paus dalam kondisi baik karena mereka telah terawat dengan baik di formasi batuan. Kerangka semi-lengkap ditemukan di lembah dan dalam beberapa kasus bahkan isi perut juga terawetkan. Fosil hewan purba lainnya seperti hiu, buaya, hiu todak, kura-kura dan pari juga ditemukan di Wadi al-Hitan. Ini memungkinkan untuk merekonstruksi lingkungan dan kondisi ekologis waktu itu.
Ada bukti yang cukup yang menunjukkan bahwa cekungan Wadi al-Hitan terendam air sekitar 40 sampai 50 juta tahun yang lalu. Pada saat itu, yang disebut Tethys Sea mencapai jauh ke selatan laut Mediterania sekarang. Tethys Sea diasumsikan telah mundur ke utara dan selama bertahun-tahun sedimen tebal dari batu pasir dan batu kapur yang diendapkan terlihat dalam formasi batuan di Wadi al-Hitan.
Studi geologi telah dilakukan di daerah itu sejak 1800-an, dan fosil kerangka pertama ditemukan sekitar tahun 1830, tetapi tidak pernah dikumpulkan karena aksesibilitas ke situs yang sulit pada waktu itu. Pada awalnya, fosil kerangka tersebut dikira kerangka reptil laut yang besar. Barulah kemudian pada tahun 1902, fosil tersebut diidentifikasi sebagai paus kuno.
Selama 80 tahun berikutnya fosil-fosil yang ditemukan di sini hanya menarik relatif sedikit peneliti, sebagian besar disebabkan oleh sulitnya mencapai daerah tersebut. Pada tahun 1980-an minat pada situs dilanjutkan karena kendaraan four wheel drive sudah banyak tersedia, sehingga memudahkan peneliti mencapai lokasi fosil-fosil bersejarah itu.* Uma/berbagai sumber – kisuta.com


