Menguak Aksi Bejat Raja Sodomi dari Sukabumi
LUAR biasa bejat! Aksi Andri Sobari alias Emon (24) tampaknya bakal menjadi rekor catatan hitam kasus pencabulan anak di Indonesia, bahkan mungkin dunia. Sang predator seksual dari Sukabumi ini telah menyodomi setidaknya 89 bocah laki-laki. Ini jumlah korban yang sudah melapor dan tercatat di kepolisian hinggga Senin (5/5).
"Tidak menutup kemungkinan korban akan terus bertambah. Karena itu, kami mengimbau agar warga yang menjadi korban untuk segera lapor polisi. Warga tidak boleh ragu dan cemas lapor polisi," kata Kapolres Sukabumi Kota, Hari Santoso, seperti dikutip Merdeka.com, Senin (5/5).
Emon diringkus aparat Polresta Sukabumi pada Minggu (27/4) setelah mendapat laporan dari salahsatu keluarga korban MDR (11). Sejak itu, puluhan keluarga korban berdatangan melapor ke kepolisian.
Para korban Emon merupakan bocah laki-laki berusia sekitar 6-13 tahun. Untuk melakukan aksi bejatnya, Emon membujuk calon korbannya dengan iming-iming uang Rp 25 ribu - Rp 50 ribu, agar mau dibawa ke tempat sepi dan disodomi.
Tempat sepi untuk melakukan aksi sodominya itu adalah pemandian Taman Rekreasi Air Panas Santa di Jl Pramuka, Kelurahan Gedong Panjang, Kecamatan Citamiang, Sukabumi. Tempat ini kini terlihat terbengkalai dengan barisan ilalang yang menghalangi jalan. Tidak terlihat satu pun penerangan di lokasi. Anak-anak kecil biasanya bermain di lokasi pemandian pada siang atau sore hari. Meski bersisian dengan perkampungan warga, kondisi di sekitar lokasi cenderung sepi. Di situlah Emon mencabuli para bocah laki-laki itu.
Entah apa yang merasuki pikiran Emon hingga tega mencabuli puluhan bocah laki-laki itu. Bahkan ada korban yang mengaku disodomi sebanyak 7 kali. "Dari hasil pemeriksaan 3 korban yang anusnya rusak. Ada juga yang dicabuli hingga 7 kali," kata AKBP Hari Santoso. Bahkan, informasi dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) sudah ada korban tewas berinisial US (11).
Catat korban di buku harian
Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mengatakan, Emon sangat cerdas dan pandai berakting. Hal ini berdasarkan penyelidikan KPAI di Sukabumi, Jawa Barat.
"Emon sangat cerdas, dia pintar berakting. Dia kelihatan bodoh tetapi sebenarnya pintar. Dia pintar menutupi semua tindakan kejahatan seksualnya," kata Sekretaris KPAI Erlinda di Gedung KPAI, Jakarta, seperti dikutip Tribunnews.com, Senin (5/5/2014).
Erlinda menuturkan, Emon mengaku baru melakukan aksi kejahatan seksualnya sejak 2011. Setelah dilakukan penyidikan, ternyata ada korban seksual Emon sejak tahun 2009 silam.
"Emon sudah mengalami gangguan perilaku seksual sejak umur tujuh tahun. Dia sering berfantasi seks sendiri dengan melihat gambar atau VCD porno," sambung dia.
Menurut Erlinda, modus Emon juga cerdas. Dia mengimingi para korban uang Rp 25 ribu hingga Rp 50 ribu untuk melancarkan aksi kejahatan seksualnya. Bila ada yang menolak, pelaku sering mengancam akan membunuh atau membuang ke sungai.
"Dia juga pintar berkelakuan baik di depan orangtua para korban sehingga mereka tidak mencurigai aksi Emon. Dari hasil tes psikologi yang dilakukan tim KPAI, dia mengalami gangguan psikologi yang parah," ujarnya.
Terungkap juga, Emon yang sehari-harinya bekerja sebagai buruh pabrik, mendokumentasikan korban-korban sodomi dalam catatan kecil di buku hariannya. Dikatakan Erlinda, Emon kerap menulis nama-nama korbannya di buku pribadi dengan tujuan untuk membayangkan saat tersangka melecehkan korbannya.
"Setelah saya tanya ternyata tersangka mengaku kenal dan ingat seluruh nama-nama korbannya, bahkan untuk fantasi seksnya Emon kerap menulis nama-nama korbannya di buku pribadinya," kata Erlinda.* das - kisuta.com


