Rabu, 3 Juni 2026
Wisata & Sejarah

Ketika Nazi Gunakan Nyamuk sebagai Senjata Perang

Rabu, 14 Mei 2014

SUARANYA yang nyaring saat berada di dekat telinga, membuat kita membenci nyamuk. Meskipun hanya satu ekor, namun suara nyamuk mampu memporak porandakan tidur lelap kita. Walaupun kecil, nyamuk ternyata mampu mengusik ketentraman manusia.

Pada saat Nazi berkuasa, para ilmuwan di bawah Nazi telah memanfaatkan kelebihan nyamuk. Bahkan pada Perang Dunia II (1939-1945) mereka berencana menjadikan nyamuk sebagai senjata militer.

Dikutip dari Huffington Post, Kamis, 6 Februari 2014, seorang ahli biologi di University of Tubingen di Jerman bernama Dr. Klaus Reindhardt mengungkapkan rencana Nazi yang menggunakan nyamuk sebagai senjata pemusnah. Klaus melakukan penelitian terhadap catatan sejarah yang melibatkan kamp konsentrasi Dachau. Hasil penelitian Klaus terhadap “Rencana Nyamuk” tertanggal Januari 1942 itu, telah diterbitkan dalam majalan Endeavour, Desember 2013.

“Rencana Nyamuk” berawal dari perintah Heinrich Himmler, Kepala Schutzstaffel (SS) dan polisi Nazi untuk membentuk lembaga entomologis yang mempelajari fisiologi dan pengendalian serangga berbahaya. Lembaga dipimpin oleh peneliti serangga bernama Eduard May.

Klaus mengatakan, dari penelitian diketahui bahwa untuk menjadikan nyamuk sebagai senjata tempur, para ilmuwan Nazi menginfeksi nyamuk dengan penyakit malaria. Nantinya, nyamuk-nyamuk yang sudah terinfeksi malaria tersebut, dilepaskan ke pasukan musuh melalui pesawat terbang.

Rencana Nazi itu menggunakan nyamuk yang telah terinfeksi malaria sebagai senjata tersebut, bertentangan dengan aturan pelarangan penggunaan senjata kimia dan biologi oleh Protokol Jenewa tahun 1925. Namun Klaus mengakui bahwa bukti penggunaan nyamuk untuk senjata biologis masih jauh dari meyakinkan.

“Ide untuk menghasilkan nyamuk terinfeksi malaria dan menjatuhkannya ke pasukan musuh tidak didokumentasikan dengan baik dalam catatan sejarah,” ujarnya.

Klaus sebenarnya bukanlah peneliti pertama yang meneliti eksperimen Nazi melibatkan skenario “perang nyamuk”. Pada 2006, Frank Snowden, profesor sejarah Universitas Yale di Amerika Serikat, menerbitkan sebuah buku berjudul “The Conquest of Malaria in Italy”. Dalam buku itu Snowden menyatakan Nazi melepaskan nyamuk terinfeksi malaria untuk menghentikan pasukan Sekutu di Italia.

Menggunakan arsip Amerika dan buku harian dari tentara Italia, buku Snowden memerinci bagaimana pakar serangga Nazi bernama Erich Martinia diduga mengarahkan pasukan Nazi Jerman untuk membanjiri rawa-rawa dekat Roma dan mengisinya dengan larva nyamuk pembawa malaria.

Malang bagi Nazi, pasukan Inggris dan Amerika tidak terpengaruh serangan nyamuk malaria karena sebelumnya telah divaksinasi. Malaria justru menjangkiti penduduk sipil di sekitar lokasi peperangan, demikian menurut Snowden.* Uma – kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya