Selasa, 2 Juni 2026
Artikel Opini
Esai

"Payung Butut"

Kamis, 22 Mei 2014

SETIAP hendak pergi mengantarkan putra saya yang kedua, Farhan (10), ke sekolah, istri saya selalu mengingatkan, "Jangan lupa Yah, payungnya dibawa." Padahal, saya mengantar dengan menggunakan mobil. Tapi memang, terkadang, untuk mengantarkan Farhan ke ruang kelasnya ketika hujan, tetap harus menggunakan payung.

Payung saat musim hujan seperti sekarang ini, memang sangat diperlukan. Tapi bagi kebanyakan laki-laki, kadang malas membawa payung. Gengsi, cenah. Padahal, pria-pria di Inggris, kata keponakan saya yang kerja di Inggris, lebih bergengsi saat berjalan membawa payung. Bahkan dianggap gentleman saat memberi "tumpangan" payung kepada seorang perempuan, manakala hari hujan.

Bicara soal payung, sebenarnya Jawa Barat, khususnya di Tasikmalaya punya produk payung. Namun, payung yang terbuat dari kertas semen itu kini nyaris mengalami kepunahan. Padahal punya ciri khas tersendiri.

Ada pepatah dalam bahasa Sunda, yaitu agul ku payung butut. Artinya, merasa bangga seseorang karena keturunan menak atau ningrat. Payung sebagai lambang, dapat dikatakan sesuatu yang memayungi. Sedangkan "butut" atau "usang" dapat dikatakan suatu "masa lampau". Jadi, barangkali bukan hanya "menak" atau "ningrat" saja, juga perbuatan masa lalu dilambangkan dengan "payung butut". Jika siloka atau perumpamaan demikian, saya jadi ingat para capres yang akan memperebutkan kursi orang nomor satu di Indonesia.

Lihat saja, promosi mereka di media massa. Mereka sering menampilkan perbuatan masa lalu. Misalnya, keberhasilan swasembada beras, dan menurunkan harga-harga. Semuanya dikemas begitu menarik.

Ada pula yang seperti mengemas payung butut menjadi baru. Lewat promosi gencar, menampilkan bak pesulap Dedy Corbuzier atau menyihir mata dengan hipnotisnya ala Tommy Rafael. Semua keindahan dan keberhasilan itu ditampilkan dengan kata, "Abrakadabra! Jreng!" Semuanya disulap menjadi bagus. Sawah dan tanah yang kering, menjadi kebun atau sawah dengan padinya ijo royo-royo. Para penganggur diberi pekerjaan, para pengemis disantuni, sekolah roboh dibangun menjadi bagus, muridnya digratiskan dari uang sekolah.

Semuanya ditampilkan dalam sekejap. Semudah membalikkan telapak tangan. Padahal, semuanya ini seperti berlindung di bawah payung butut. Saat hujan tiba, akan rancucut kahujanan, bahkan kabulusan, pada akhirnya demam panas dingin.

Seperti orang kena demam begitulah para capres ini. Banyak yang berbicara sabulang bentor. Tidaklah heran antarcapres seperti sedang pantun bersambut. "Ningal poto para caleg reuteum di jalan ge, geus lieur, komo ngabandungan silih gorengkeun antawis capres mah, rakyat teh tambih pusing," kata Mang Ujang, seorang pedagang sayur langganan keluarga kami.* Ahmad Yusuf - kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya