Selasa, 2 Juni 2026
Artikel Opini
Esai

”Nyunda”

Jumat, 23 Mei 2014

BEBERAPA waktu lalu, saya melontarkan pertanyaan, ”Urang Sunda sanes?” kata saya kepada dua orang yang berbeda. Saya ulang lagi dalam bahasa Indonesia, saat tak ada jawaban. Ucapan ini membuat rungah-ringeuh lawan bicara saya. Seolah pertanyaan ini, sesuatu yang aneh. Padahal sayalah yang merasa aneh, karena ketika saya bertanya dalam bahasa Sunda seakan tidak dimengerti sehingga merasa diapilainkeun, dicuekin.

Jangan-jangan pertanyaan saya tidak ditanggapi karena bertanya dalam bahasa Sunda? Lho, bukankah ini di tatar Sunda. Jadi tidaklah salah saya bertanya dalam bahasa Sunda? Salah satu ciri orang Sunda yang nyunda, yaitu menggunakan bahasa Sunda. Bahkan saat berbicara di luar bahasa Sunda, seperti berbahasa Indonesia atau Inggris dengan lentong (logat) Sunda, saya sebut nyunda. Artinya, orang Sunda yang tidak lepas dari kesundaannya.

Sebagai contoh, Kang Tjetje H. Padamadinata dan Ceu Popong dua orang yang sangat nyunda. Di dalam forum apa pun, keduanya tak ragu berbicara dengan logat Sunda. Bahkan sesekali ke luar kosakata dari bahasa Sunda. Keduanya tidak merasa malu atau rikuh. Saat melihat Ceu Popong capetang berbicara dalam forum di DPR pusat, saya sebagai orang Sunda merasa terwakili. ”Euh, geuning aya keneh urang Sunda teh?” ucap saya dalam hati.

Sementara itu, kehadiran Sule di dunia hiburan, juga merasa mewakili masih adanya urang Sunda dalam dunia entertainment. Ternyata bodor urang Sunda masih ada. Sebelumnya, meski banyak artis kelahiran dari tatar Sunda, tetapi tidak merasa terwakili karena tidak nyunda.

Dalam Facebook, rekan saya sewaktu di Lises Unpad, Kang Aceng Abdullah, juga Pembantu Dekan III Fikom Unpad, melontarkan rasa risinya ketika naik angkot. Dia melihat sejumlah stiker dalam bahasa Sunda dari bobotoh Persib yang isinya cukup garihal (kasar). Seperti ”Wasit Goblog” dan kalimat “Persib Nu Aing” terasa garihal. Dengan kata lain, ini bukanlah sikap nyunda.

Padahal ada ungkapan dalam bahasa Sunda, bahwa basa teu meuli alias gratis, menandakan orang Sunda harus santun. Tidak akan rugi jika memilih kata yang santun. Someah darehdeh ka semah, inilah ciri orang Sunda yang nyunda. Dan, Kongres Bahasa Sunda IX di Hotel Grand Jaya, Bogor, pada intinya mengembalikan jati diri dan memelihara urang Sunda yang nyunda. Jika bahasa Sunda dengan segala pernak-perniknya hilang, akan hilang pula rasa kesundaan orang Sunda.

Keadaan ini sudah tampak dalam kehidupan keseharian. Coba lihat di jalan raya di Kota Bandung, kota yang notabene sebagian besar adalah etnis Sunda. Betapa tidak teraturnya para pengendara motor dan mobil. Kesantunan dan keteraturan yang biasa diperlihatkan orang Sunda sudah raib. Padahal sikap santun dan teratur ini, masih terlihat di Kota Yogyakarta atau di Kota Solo.

Sementara itu, pergaulan antartetangga, sudah banyak yang bersikap hare-hare. Kata orang Jakarta ”lu-lu, gue-gue”. Silih sikut, silih jejek, silih beubeutkeun, juga sudah ditunjukkan urang Sunda di dunia politik. Padahal kita punya ungkapan luhur dalam bahasa Sunda, silih asih, silih asah, silih asuh.* Ahmad Yusuf - kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya