"Bullying"
PUTRI saya, Hanin, suatu hari sedang sial. Dahinya memar, dan tampak agak benjol. Saya baru menyadari ketika tiba di rumah.
Sebab saat dijemput, lukanya tertutup kerudung, dan dia tak mengadukan apa pun peristiwa yang menimpanya di sekolah. Ketika saya selidik, ternyata ia bertengkar dengan kawan sekelasnya. Seorang siswa. Seorang cowok, katanya. Hanin dipukul botol minuman.
Siapa pun pasti akan marah, termasuk saya. Sebab siapa pun orang tuanya, menyekolahkan putra-putrinya bukan sekadar ingin jadi pintar. Tapi punya keyakinan: sekolah yang dipilih memiliki rasa aman. Namun ternyata, kini keadaan tak menjamin. Siapa pun orang tuanya tak ingin mengalami putranya seperti Edo Renaldo. Anak kelas 2 SD Maria Immacura-Pondok Bambu, Jakarta Timur. Ia diduga tewas di tangan kawan-kawannya.
Peristiwa ini menambah daftar panjang siswa yang meninggal akibat bullying. Praktik ini, bukan hanya terjadi di sekolah setingkat IPDN. Tapi dari tingkat SD sampai PT (perguruan tinggi). Bullying merupakan penindasan seorang atau kelompok terhadap orang lain yang lebih lemah. Biasanya korban memiliki kekurangan fisik atau dari etnis sosial tertentu. Lalu meningkat ke pemalakan. "Dikompas" dimintai uang. Jika tidak ada uang, maka berlanjut ke penindasan fisik.
Tewasnya Edo, akibat di-smack down empat temannya di WC sekolah. Meskipun tayangan ini telah dihentikan, tapi sudah kadung melekat terekam di kepala anak-anak. Maka tak heran jatuh korban lagi. Terlebih dari penuturan orang tua korban, pihak sekolah menganggap apa yang dialami Edo adalah biasa. Artinya merupakan pertengkaran anak-anak semata.
Jadi, sikap saya terhadap apa yang terjadi pada Hanin, putri saya, sebagai bentuk perhatian. Hal ini juga harus ditunjukkan oleh para guru. Pemanggilan orang tua yang anaknya melakukan kekerasan terhadap sesama kawannya, agaknya tak akan menyelesaikan masalah. Namun guru mesti memahami mengapa anak bertindak demikian.
Jika akumulasi bullying terus diterima seorang anak, selain menimbulkan korban tewas, juga kemungkinan akan melahirkan seorang Cho Seung-hui, seorang pemuda Korsel yang memberondongkan senjatanya di kampus Universitas Virginia Tech, AS. Hingga menewaskan 32 mahasiswanya. Termasuk Partahi Mamora Holomoan Lombantoruan seorang mahasiswa Indonesia di kampus itu. Dari sejumlah data rekaman pelaku, Cho adalah orang yang tertindas. Artinya, Cho korban bullying.
Memang di sini (di Indonesia), senjata tak diperdagangkan dengan bebas seperti di AS. Tapi seorang korban bullying yang ingin balas dendam, bisa dengan cara apa pun. Dan tak pernah diduga oleh siapa pun!* Ahmad Yusuf - kisuta.com


