Selasa, 2 Juni 2026
Artikel Opini
Esai

Si Jambal

Selasa, 3 Juni 2014

ANJING kampung betina berkulit cokelat muda itu bernama Jambal. Dia sekarat di pinggir Jalan Raya Cimenyan arah Caringin Tilu, Km 4,2 , Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung tepat di depan ru­mah saung. Mata Jambal berkedip sayu, sebelum segalanya layu, lalu terpejam selamanya.

Kata orang, sore itu, satu mobil menabraknya. Si penabrak pergi begitu saja ke arah puncak Caringin Tilu. Barangkali si penabrak tidak merasa bersalah. Seperti mungkin orang-orang yang punya kekuasaan atau kedudukan, tak merasa bersalah menindas makhluk-Nya yang lebih lemah.

Saya tertegun pilu. Pun ketika menguburkannya di dekat pohon alpukat. Tinggal kenangan Si Jambal di pelupuk mata.

Saya mengenal Si Jambal ketika dia masih kicik. Ketika saya ada keperluan ke suatu desa di Wanaraja, Kabupaten Garut, saya tertarik membawanya ke Bandung. Menurut pemiliknya, Si Jambal ditinggalkan induknya dan keempat saudaranya yang lain sebelum kenyang menyusui. ”Aya nu maling,” ujar Haji Apang, pemiliknya. Dia memberikan anjing itu setelah ditukar dengan sekerat jambal roti. Itulah sebabnya anjing itu dinamai Si Jambal.

Ketika saya membawanya ke Bandung, dia sedang kumincir. Begitu lincah. Dia langsung akrab dengan anjing-anjing kampung lainnya. Tak tampak pagetreng atau silih hereng. Langsung ber­main kejar-kejaran dengan anjing-anjing lainnya. Dia seperti me­nemukan kampung halaman yang baru.

Si Jambal anjing iceus. Ketika hendak pulang atau pergi, saya sodorkan telapak tangan, dia meresponsnya seperti sedang ”cas” atau ”toas”. Ketika ada orang lain datang hendak bertamu, dia mendekati dengan riang. Ekornya dikibas-kibaskan. Seolah-olah dia tahu, tamu itu adalah sahabat tuannya.

Dia tak pernah mengulangi apa yang tak saya sukai. Ketika dicarek tak boleh masuk ke dalam rumah, dia tak pernah lagi cologog. Dia diam di ambang pintu, meski pintu dibuka. Bahkan, ketika disuruh ke luar halaman rumah, Si Jambal langsung ngi­brit ke luar. Si Jambal baru menyalak ketika ada orang yang benar-benar tak dikenalnya.

Selama ini, belum pernah saya melihat kotorannya di semba­rang tempat. Bahkan, belum pernah saya melihat Si Jambal ken­cing. Kalaupun ada ”kebiasaan” jelek Si Jambal, yaitu menyembunyikan sandal, kaus kaki, atau sepatu butut yang ter­tinggal di halaman rumah.

Awalnya, saya akan membawanya ke rumah di Margahayu Ra­ya. Rumah saung yang berada di Cimenyan hanya ditinggali se­sekali sehingga saya harus menitipkan Si Jambal ke tetangga sebelah untuk diberi makan. Niat lainnya, saya akan menitipkannya ke kakak ipar di Jln. Caringin, Kota Bandung. Siapa tahu dia berjodoh dengan anjing herder atau anjing ras di sana lalu mela­hirkan anjing kampung dengan keturunan berkelas. Niat itu tersimpan sebagai penyesalan.

Ketika saya pulang ke rumah, saya kabarkan dengan suara berat kematian Si Jambal pada Hanin, putri saya. Dia tak berkata-kata. Hanya matanya terlihat berkaca-kaca nyaris meneteskan air mata. Yang mengagetkan, putri saya baru saja membaca kisah sufi dari salah satu koran tentang seorang perempuan yang hina dina penuh dosa masuk surga hanya karena memberi minum seekor anjing yang kehausan.* Ahmad Yusuf - kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya