Kebelet
KATA ”kebelet”, artinya: ingin sekali; tidak tertahankan lagi untuk melaksanakan keinginan, Kamus Besar Bahasa Indonesia (hal. 521). Orang yang kebelet, bisa apa saja.
Namun, biasanya urusan BAB (buang air besar) BAK (buang air kecil). Ada cerita lucu saat berada di Tanah Suci. Seorang teman mendadak ke luar dari barisan rombongan. Dengan tibabaranting, ia menerobos barisan lain.
Tingkahnya ini menarik perhatian askar (polisi) yang kemudian mengejarnya. Namun ketika masuk ke ruang toilet, barulah sang askar merasa ngeh, lalu tersenyum kecut. Begitu pula kawan saya hanya cungar-cengir sehabis melepaskan hajat dengan wajah lega.
Jika diamati, sekarang banyak yang kebelet memegang jabatan. Entah jabatan wali kota, bupati, gubernur, bahkan sampai pimpinan puncak negara yaitu presiden. Tindakan kebelet jabatan atau kekuasaan ini, dapat dilihat dengan banyak bermunculannya baliho-baliho dengan gambar seseorang.
Di baliho itu dicantumkan keterangan sebagai calon jabatan yang ingin diraihnya. Saking kebeletnya, tampilan wajah dan busananya disesuaikan dengan karisma sosok pejabat publik. Yang ingin jadi wali kota, bupati, dan gubernur disesuaikan berbusana layaknya tampilan sebagai pimpinan daerah. Bila perlu, untuk menaikkan citra atau kiprahnya sebagai calon wali kota, maka ada yang mulai bertindak seolah-olah sudah menjadi pimpinan daerah. Banyak yang menyambangi pesantren, masjid, pasar tradisional, atau tempat-tempat yang bisa mendulang suara.
Supaya lebih dikenal lagi, mereka pun mengadakan acara dan kegiatan ini-itu. Tidak lupa sebagai pemrakarsa acara, ia harus berpidato. Harus memberikan pernyataan yang akan diliput para kuli tinta. Nah, gaya dan penampilan, bahkan pernyataan-pernyataannya seolah-olah ia sudah jadi pemimpin.
Misalnya kalau mengadakan acara pertunjukan budaya, maka ia akan mengatakan bahwa budaya daerah merupakan cikal bakal pembangunan bangsa..bla..bla..bla. Jika mengadakan lomba olah raga, misalnya kejuaraan futsal, bola voli, atau mengadakan fun bike, maka ia berpidato ihwal ketahanan bangsa yang bermula dari jasmani yang sehat.
Bagi yang memiliki dana lebih banyak, apalagi ditunjang dengan memiliki media sendiri seperti stasiun televisi, maka tak sungkan kegiatannya dimunculkan berupa iklan. Untuk tingkatan seperti ini, maka level yang diraihnya ingin menjadi presiden.
Melihat mereka yang kebelet ingin jadi pemimpin, ada pertanyaan dalam hati; haruskah yang ingin jadi pemimpin berpidato meniru gaya pemimpin yang pernah ada? Seperti gaya Bung Karno, JF Kennedy, atau Fidel Castro dari Kuba. Bagi para pakar komunikasi, sikap dan gaya ini menjadi tertawaan.
Seorang pemimpin sejatinya tak menginginkan dipilih untuk jadi pemimpin. Seorang pemimpin sejati tak pernah nyogrog-nyogrokeun maneh hayang dipilih. Ia akan bekerja dan berkiprah melakukan sesuatu secara diam-diam. Tanpa ingin dikenal untuk dipilih jadi pemimpin.
Ia datang pada kaum papa bukan sebagai pemodal. Ketika berbaur dengan para petani, nelayan, atau jalmi alit lainnya, ia akan merasakan keluh-kesah, sampai ”merasakan asin” peluh mereka. Di zaman sekarang, suatu yang utopis mengikuti jejak Umar bin Khatab ketika menjadi khalifah. Diam-diam memanggul sendiri sekarung gandum untuk diantarkan kepada seorang janda miskin; yang memasak batu untuk meredakan lapar anak-anaknya.* Ahmad Yusuf - kisuta.com


