Selasa, 2 Juni 2026
Artikel Opini
Esai

Bibir

Rabu, 11 Juni 2014

MEMBICARAKAN bibir akan sama panjangnya dengan bagaimana bibir dapat berkata-kata. Bibir yang seksi dan bagus, menurut ungkapan zaman dulu ”bak delima merekah”. Ungkapan lain yang juga dikenal, yaitu lain di bibir lain pula di hati.

Sebenarnya, ungkapan hati bisa dilihat dari gerak tarikan bibir. Inilah yang menarik manakala saya menyaksikannya di layar kaca. Bukan bibir artis sinetron atau penyanyi, tetapi gerak bibir politisi, pengacara, pengamat politik, dan tokoh masyarakat. Jika kita sering menyaksikan stasiun televisi yang sering menyajikan diskusi atau debat, gerak bibir yang mengungkapkan isi hati yang tulus, jujur, berani, culas, benci, kemarahan, arogan, dusta akan terlihat nyata.

Misalnya, ada politisi yang ketika berkata, antara bibir kanan dan bibir kiri tampak tak simetris. Keadaan ini seperti menandakan dalam hatinya ada kebencian, ketidaksukaan, merasa direndahkan kedudukannya.

Akan tetapi, gerak bibir para pengacara senior yang telah mumpuni dan berangkat dari idealisme untuk menegakkan hukum, akan lain dibandingkan dengan gerak bibir para penga­cara muda yang sering numpang beken dengan kasus-kasus besar. Perhatikan saja, bagaimana gerak bibir Bang Buyung (Adnan Buyung Nasution) saat berbicara. Meskipun sudah tua sehingga terkadang saat berbicara bibirnya sedikit bergetar, ketegasan bibirnya mengucapkan kebenaran dan kejujuran.

Namun, tak semua pengacara senior seperti Bang Buyung. Saya pernah menyaksikan pengacara senior yang begitu adab di hadapan Majelis Hakim ketika di persidangan. Dia selalu mengucapkan, ”Yang mulia Majelis Hakim…,” dengan santun. Akan tetapi, ketika menjadi pembela seorang tersangka kasus koruptor, dengan enteng bibirnya menuduh pihak lain dengan kalimat yang kurang pantas. Pengacara seperti itu, dengan kepiawaian bibir berkata-kata akan membela mati-matian kliennya.

Beberapa pengacara muda yang menumpang tenar dengan kasus besar akan berbicara agar suasana lebih heboh, agar mengundang bibir-bibir lain berkomentar. Namun dari tarikan bibirnya menandakan yang diucapkannya biasa-biasa saja.

Idem dito dengan bibir pengamat politik. Dapat dilihat mana gerak bibir pengamat politik kritis dan idealis, mana pengamat politik yang sinis dan culas. Bibir pengamat politik pertama, akan mengucapkan kalimat dengan runtut. Kata-katanya tertata dan emosi terjaga. Lain halnya dengan pengamat yang kedua, dia ber­api-api, tetapi kalimatnya tak tertata rapi.

Sementara bibir tokoh masyarakat yang sering mengkritisi pemerintah, jika diperhatikan secara saksama dari tarikan bibirnya saat berbicara, ada sesuatu yang mengganjal dalam hatinya. Mungkin rasa kesal, mungkin rasa iri.

Saya tidak tahu, apakah ”membaca” gerakan bibir ini termasuk pada linguistik forensik atau bukan. Ilmu linguistik terapan itu, mungkin bukan saja untuk menyelidiki kebohongan seorang pelaku krimininal, juga kebohongan tokoh publik figur.* Ahmad Yusuf - kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya