Selasa, 2 Juni 2026
Artikel Opini
Esai

Tumila Diadu Boksen

Minggu, 22 Juni 2014

Tumila diadu boksen/dikeprokan ku adina/beuki lila beuki bosen/kusabab euweuh gantina. (Maaf, jika syairnya lupa, juga penciptanya tak disebutkan).

INILAH lagu favorit saya zaman keur budak. Saat hendak mandi ke pancuran, rebun-rebun keneh, saat embun masih menempel di dedaunan, saya ke tempat mandi di Cileuweung, di Desa Puspahiang, Kecamatan Puspahiang, Kabupaten Tasikmalaya.

Pasti tak ada yang mengingat lagu ini lagi, karena tumila (kepinding) mungkin sudah menjadi binatang langka. Apalagi di kasur para legislatif , yang sudah pasti saat ini terpilih. Salah satu sarana yang disediakan adalah kursi di ruang sidang dan kasur empuk di rumah dinas. Tanpa ada satu ekor pun tumila yang bakal ngarogahala.

Saya mengingat lagu itu, karena situasi politik saat ini seperti tumila diadu boksen (tinju). Sementara yang memberi semangat adalah adiknya. Seperti juga para bakal capres yang kini akan berlaga pada Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden (Pilpres) 2014, terasa suasananya hangat. Semua memberi semangat. Tidak ketinggalan media cetak dan elektronik membuat berbagai ulasan atau tayangan.

Isu-isu dalam partai, segera ditangkap lalu ditayangkan dengan acara yang dikemas sedemikian rupa. Bleg we! Para elite politik ibarat selebriti. Ibaratnya dikeprokan dengan berbagai komentar. Misalnya saja, bagaimana kalau pasangan ini dengan itu. Atau yang ini dengan yang itu, bagaimana pengaruhnya terhadap perekonomian? Bagaimana terhadap investor asing? Dan seterusnya...

Sementara bagi petinggi parpol yang akan jadi capres dan cawapres, liputan silaturahmi mereka dijadikan sebagai bahan promosi. Hingga jauh-jauh hari, sebelum kampanye, banyak yang telah mengungkapkan visi dan misinya. Namun sering pernyataannya menggelikan, jika diamati oleh mereka yang kritis.

Semua itulah yang mengingatkan saya pada lagu Tumila Diadu Boksen (saat menulis kolom ini pun, saya sambil menyanyikan lagunya). Seperti suasana pertandingan boksen, memang riuh rendah. Namun, apabila pada akhirnya, masyarakat akan menjadi bosan menyaksikan semua itu. Sebab, euweuh gantina.

Bisa jadi bosan karena pernyataan para elite politik yang klise. Atau siapa pun yang jadi presiden, tak ada yang berganti atau berubah? Seperti celetukan Kang Nandang, seorang warga Cimenyan Kabupaten Bandung, "Saha nu jadi presidenna ge, tetep we saya mah jadi buburuh macul jeung tukang ngarit. Tak akan berubah jadi juragan tanah."

Masyarakat akan bersikap apatis, jika para capres dan cawapres nantinya jadi elitis. Artinya, tindakannya jauh dari apa yang dibutuhkan masyarakat. Apalagi, jika sekarang ini sepertinya sudah cul dog-dog tinggal igel.* Ahmad Yusuf - kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya