Memilih Hidup Miskin untuk Rakyatnya yang Kekurangan
MASIH ingat Luis Suarez? Pemain sepak bola asal Uruguay yang membuat heboh karena gigitannya terhadap bek Italia, Giorgio Chiellini di penyisihan grup Piala Dunia 2014. Ya, meskipun harus menerima sanksi tak boleh bermain empat bulan akibat aksinya, namun Suarez tetap menjadi pemain incaran klub-klub mahal dunia.
Usai gelaran Piala Dunia 2014 di Brasil, Suarez akan meninggalkan klub Liverpool dan bermain dengan Klub Barcelona. Menurut Telegraph, Liverpool melepas Suarez dengan nilai transfer 75 juta poundsterling atau setara Rp 1,48 triliun. Saat di Liverpool, Suarez merupakan salah satu pemain termahal dengan gaji 100.000 poundsterling atau sekitar Rp 1,5 miliar per minggu.
Dengan gaji sebesar itu, kehidupan Suarez dipenuhi kemewahan dan gelimangan harta. Kondisi ini sangat berbeda dengan kehidupan Jose Mujica, Presiden Uruguay, negara asal Suarez yang dijuluki sebagai “Presiden Termiskin di Dunia”.
Jose Mujica dilantik menjadi Presiden Uruguay tahun 2009 dan akan mengakhiri jabatannya tahun ini, 2014. Mujica merupakan manusia langka. Meskipun menjabat sebagai presiden, namun kehidupannya jauh dari mewah.
Dikutip dari BBC, Sabtu (12/6/2014), kehidupan Mujica sangat sederhana. Dia menolak rumah dinas yang disediakan negara. Padahal rumah pemerintah itu tergolong mewah, yang jelas nyaman untuk hidup sebagai presiden. Tapi dia malah memilih tinggal di rumah istrinya yang ada di tengah peternakan dengan jalan yang masih berbalut tanah di luar ibukota Uruguay, Montevideo.
Baju-baju yang habis dicuci tergantung tak karuan di halaman berumput liar. Hanya dua polisi yang berjaga yang menandakan pria itu orang penting. Selain juga Manuela, anjing berkaki tiga yang setia.
Bersama istrinya, Mujica mengerjakan tanah mereka sendiri. Bunga-bunga tumbuh di pekarangan rumah sederhana. Air yang mereka gunakan sehari-hari pun berasal dari sumur di halaman. Bukan air pasokan perusahaan air minum seperti di kota-kota.
Kehidupan sederhana sang presiden tak sampai di situ, ternyata ia juga menyerahkan 90 persen gajinya untuk kegiatan amal dan sosial. Dari gajinya sekitar Rp 138.972.000 per bulan, Mujica hanya mengambil sekitar Rp 8,9 juta saja. Jumlah tersebut sama dengan rata-rata penghasilan warga Uruguay.
“Saya mungkin terlihat seperti pria tua yang eksentrik. Tapi inilah pilihan,” kata Mujica kepada BBC.
Mujica mengaku, dirinya sudah hidup seperti itu hampir seluruh hidupnya. Sikap Mujica tak lepas dari perjalanan hidupnya, karena sejak tahun 1960-an hingga 1970-an, ia menghabiskan waktunya dalam laskar gerilya Tupamaros, sebuah kelompok bersenjata sayap kiri yang terinspirasi oleh revolusi Kuba.
Pada zaman itu, dia ditembak enam kali dan menghabiskan 14 tahun penjara. Selama ditahan, dia mengalami penyiksaan dan terisolasi, sampai dia dibebaskan pada tahun 1985, ketika Uruguay kembali ke masa demokrasi. Pria kelahiran 20 Mei 1935 itu menambahkan, masa-masa di penjara itulah yang telah membentuk pandangan hidupnya.
Hidup sederhana bagi pria yang sekarang berusia 77 tahun ini, bukanlah sekadar ucapan di mulut, tetapi memang sudah mendarah daging. Lihat saja harta kekayaannya yang hanya Rp 20,8 juta saja. Harta itu merupakan nilai dari mobil tua miliknya, Volkswagen Beetle keluaran 1987. Meskipun ia kemudian memasukkan asset istrinya dalam laporan harta kekayaannya sebesar Rp 2,4 miliar, namun tetap saja jumlahnya jauh dari ukuran kekayaan pejabat Uruguay. Kekayaan Mujica hanya dua pertiga harta Wakil Presiden Danilo Astori dan hanya sepertiga dari kekayaan mantan Presiden Tabare Vasquez.
“Saya disebut 'presiden termiskin', tapi saya tidak merasa miskin. Orang miskin adalah mereka yang hanya bekerja untuk mencoba memelihara gaya hidup yang mahal, dan selalu ingin berlebih-lebihan,” katanya.
Bagi Mujica, pilihan hidup ini merupakan masalah kebebasan. “Jika Anda tidak memiliki banyak harta, maka Anda tidak perlu bekerja sepanjang hidup Anda seperti seorang budak untuk mempertahankan mereka, dan karena itu Anda memiliki lebih banyak waktu untuk diri sendiri,” ujarnya bijaksana.
Tak hanya di dalam negeri. Mujica juga menunjukkan kehidupan bersahaja saat bergaul dengan presiden-presiden negara lain. Dalam berbagai forum dunia, presiden yang kerap megenakan sandal saat rapat-rapat resmi ini, selalu memperjuangkan nasib negara miskin dan sangat peduli dengan kelangsungan lingkungan.
Sungguh pribadi yang sangat bersahaja dan patut menjadi contoh para pemimpin dunia yang haus kekuasaan dan kehidupan mewah. Sebagian hidupnya terlihat dalam beberapa foto di tulisan ini.* Uma/berbagai sumber – kisuta.com


