Ciri-ciri Negara Adil
DIRIWAYATKAN bahwa Raja Romawi mengirim utusan kepada Umar r.a. guna memberikan hadiah pakaian dan mantel. Ketika utusan tiba di Madinah, dia bertanya, "Di mana rumah khalifah dan bangunannya?"
Orang-orang menjawab, "Dia tidak memiliki rumah yang besar seperti Anda duga. Dia hanya memiliki rumah kecil." Orang-orang pun menunjukkannya.
Dia pergi ke tempat seperti yang ditunjukkan. Ternyata dia hanya menjumpai rumah kecil lagi hina. Pintunya menghitam dimakan usia. Dia memanggilnya, tetapi tidak ada orang. Dia diberi tahu bahwa UJmar tengah pergi ke pasar untuk mengurus keperluan dirinya dan keperluan Kaum Muslimin.
Utusan itu mencari Umar. Dia menjumpainya tengah tertidur di bawah naungan benteng dengan berbantalkan karung gandum. Tatkala melihat demikian, utusan itu berguimam:
"Engkau telah berlaku adil, sehingga engkau merasa aman dan dapat tidur di mana pun engkau suka. Sementara itu, para penguasa kami suka berbuat zhalim, sehingga mereka berlindung di balik benteng dan dengan kekuatan tentara."
Ardasyir berkata, "Agama merupakan fondasi kerajaan, sedangkan keadilan merupakan penjaga kerajaan. Jika kerajaan tidak memiliki fondasi, runtuhlah ia. Jika tidak memiliki keadilan, hancurlah ia."
Al-Hajjaj ditanya, "Mengapa kamu tidak adil seperti Umar, padahal kamu sempat hidup pada masa kekhalifahannya? Apakah kamu tidak melihat keadilan dan kebaikan Umar?"
Maka Al-Hajjaj menanggapinya, "Jadilah kalian seperti Abu Dzar al-Ghifari dalam hal kezuhudan dan ketakwaannya, niscaya aku menjadi seperti Umar dalam hal keadilan dan keinsyafannya."* Abu Ainun/"Pengalaman Ruhaniyah Kaum Shufi" - kisuta.com


