Rabu, 3 Juni 2026
Wisata & Sejarah

Kumaris, Perawan Nepal Titisan Dewi Kekuatan

Jumat, 15 Agustus 2014

MASYARAKAT Nepal masih setia dengan adat istiadat yang merupakan bagian dari budaya mereka. Sebagian besar adat istiadat masih mereka laksanakan.

Salah satu adat istiadat yang masih lestari hingga sekarang, adalah keberadaan seorang gadis yang disebut “Kumaris”. Gadis ini bukan sembarang gadis, karena ia dipilih dari sekian banyak gadis di Nepal untuk menjadi seorang “Kumaris” yang berarti perawan atau gadis.

Ada 32 tes yang harus dijalani untuk menjadi seorang “Kumaris”. Banyaknya tes yang harus dilalui, karena seorang “Kumaris” adalah orang pilihan. Kumaris menerima pujaan dari penganut agama Hindu dan Buddha, karena ia diyakini mampu melindungi mereka dari kejahatan. Bagi penganut agama Hindu dan Budhha, Kumaris dianggap sebagai perwujudan Dewi Kekuatan bernama Kali.

Setiap hari “Kumaris” duduk di kuil menunggu pengunjung, untuk kemudian dipuja dan mendapat banyak seserahan. Dilansir dari dailymail.co.uk, seorang “Kumaris” akan menghabiskan sebagian besar waktunya di kuil. Dia tidak diizinkan untuk muncul di muka umum kecuali ketika harus menghadiri upacara adat.

“Kumaris” dipilih ketika usianya masih kecil. Setelah menjadi “Kumaris”, maka seluruh kehidupan dengan masyarakat di luar kuil terputus, termasuk dengan keluarganya. Dalam satu tahun, “Kumaris” hanya 13 kali keluar dari kuil. Seorang “Kumaris” harus menahan diri untuk bermain dengan teman dan bahkan tidak diperbolehkan ke sekolah. Sehingga seorang Kumaris mendapatkan beasiswa dari pemerintah setempat untuk menuntut ilmu di kuil dengan mendatangkan seorang guru khusus.

Sebagai perwujudan Dewi yang dihormati, “Kumaris” tidak pernah menginjakan kaki di bumi. Ia selalu digendong ke manapun pergi. Bahkan untuk memakai pakaian pun harus dipakaikan oleh keluarganya.

Samita Bajracharya, salah seorang gadis yang pernah menjadi “Kumaris” menuturkan, ketika dirinya mengakhiri tahta sebagai “Kumaris”, ia harus belajar berjalan. Karena selama menjadi “Kumaris” tak pernah berkalan sendiri, kakinya menjadi sangat lemah untuk menopang tubuhnya.

Seorang “Kumaris” akan meninggalkan tahtanya begitu mendapat menstruasi pertama. Menandai pelepasan takta “Kumaris”, diadakan upacara adat selama 12 hari yang disebut Gufta. Di hari terakhir upacara tersebut, seorang “Kumaris” dibantu ibunya akan membuka ikatan pada rambutnya. Kemudian dilanjutkan membasuh mata ketiga di dahi sang gadis dengan air Sungai Bagmati. Setelah melakukan upacara adat tersebut, maka berakhirlah tugas sang gadis sebagai “Kumaris” dan kembali ke kehidupan normal.

Sejumlah gambar ini memperlihatkan aktivitas Samita Bajracharya saat menjadi “Kumaris”.* Uma - kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya