Hati-hati di Tanah Suci, Bisa Tertipu Petugas Haji Palsu
ADA modus penipuan baru di musim haji tahun ini. Para kriminal di Tanah Suci yang dalam aksinya mengaku sebagai petugas haji. Para jamaah banyak yang tertipu karena memang para kriminal itu adalah orang Indonesia yang sudah lama bermukim di Arab Saudi.
Seperti dikabarkan vivanews, Senin (8/9/2014), baru beberapa hari jamah sampai di Tanah Suci dan masih berada di Madinah, sudah ada empat jamah yang melapor menjadi korban penipuan. Empat kasus menimpa jemaah calon haji asal Indonesia yang tengah melaksanakan salat arbain (40 waktu tanpa terputus) di Masjid Nabawi, Madinah, ini melapor dirayu seseorang yang mengaku petugas dari Indonesia. Bahkan ada yang mengenakan rompi hitam, khas petugas.
Sumarni binti Kamaludin, misalnya. Jemaah asal Ujung Pandang ini kehilangan uang Rp6 juta ditambah SR1.500 biaya hidup selama di Mekah setelah menyerahkan tasnya kepada orang yang mengaku petugas.
Ia tidak curiga sebab pelaku memang menggunakan bahasa Indonesia atau daerah asal jemaah. Para pelaku kebanyakan memang orang-orang Indonesia yang sudah lama tinggal di Arab. Apalagi orang tersebut memakai rompi hitam, seperti yang dikenakan petugas Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH). Namun setelah didalami rompi mereka tanpa atribut.
Agar terhindar dari ulah jahat orang yang mengaku sebagai petugas, Ketua Bidang Perlindungan Jemaah Ahmad Riad Syafrudin di Kantor Teknis Urusan Haji Indonesia di Jeddah, Arab Saudi, Senin 8 September 2014 mengingatkan agar jemaah berhati-hati. "Walau mengaku sama-sama saudara, satu daerah, jangan mudah percaya," kata dia.
Supaya tidak menjadi korban kejahatan, ada empat peringatan untuk jemaah yang disampaikan Riad. Pertama, kenali tanda-tanda petugas PPIH. Petugas PPIH mengenakan seragam baju putih dan rompi hitam. Di bagian lengan atas kanan tersemat bendera merah putih. Nama dan tanda petugas. Atribut juga melekat pada rompi petugas.
Kedua, jangan menggunakan perhiasan yang memancing orang jahat. Menyimpan barang-barang berharga di safety box yang dititipkan ke maktab dan jangan menitipkan barang berharga pada orang yang baru dikenal.
Ketiga, tidak memisahkan diri dari rombongan. Kalau tertinggal rombongan, jangan tampak kebingungan dan panik. Lebih baik menunggu atau menuju pos patroli.
Keempat, jika bepergian, jemaah sebaiknya memberitahu kepada suami, istri atau rekan, sesuai ketentuan yang berlaku.
"Sebagai langkah preventif, petugas harus berpakaian lengkap dan sebisa mungkin mengenalkan identitas/atribut kepada jemaah. Ini penting untuk meningkatkan rasa percaya diri jemaah," kata Riad.
Untuk petugas, Riad juga mengimbau bisa meyakinkan jemaah agar meninggalkan barang berharganya di hotel, dan dipastikan aman. Karena kalau pun hilang, pihak hotel akan menggantinya.* das - kisuta.com


