Beban Derita Isis...
BEGITU berartinya sebuah nama. Ini betul-betul dirasakan Isis Martinez, seorang wanita 38 tahun di Florida, Amerika Serikat. Ia begitu bangga mempunyai nama Isis yang merupakan nama dewi langit dalam mitologi Mesir. Namun, setelah berbagi dengan kelompok militan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) kebanggaan itu seakan dirampas. Bahkan, ia harus menanggung beban yang teramat berat sebagai dampak dari sepak terjang ISIS.
Isis Martinez --seperti diungkapkannya kepada situs berita dan gaya hidup Fusion-- mengaku dirinya telah bosan dan sangat menderita dengan semua tanggapan negatif dari orang-orang yang mendengar namanya.
Ketika perawat ruang gawat darurat bertanya bagaimana dia mengucapkan namanya, dan Isis mengatakan padanya nama itu, sang perawat kemudian memperlihatkan kesedihan yang luar biasa terhadap dirinya.
Menanggung beban seberat itu, Isis Martinez pun akhirnya melakukan kampanye yang menginginkan agar singkatan nama kelompok militan itu berbeda dengan namanya.
Di saat Presiden Amerika Barack Obama mengumumkan rencananya untuk "menghancurkan" kelompok ISIS, yang telah merebut beberapa wilayah di Irak dan Suriah dan kemudian membuat marah negeri adidaya itu dengan memenggal kepala dua jurnalis AS James Foley dan Steven Sotloff, Martinez menulis di halaman Facebook kampanyenya bahwa "beberapa pekan terakhir adalah saat yang sangat menantang baginya".
Isis Martinez mengatakan, meskipun singkatan untuk nama kelompok ini adalah ISIL (Negara Islam Irak dan Levant) dan PBB, Departemen Luar Negeri AS dan bahkan Associated Press telah menyatakan dengan jelas bahwa ISIL adalah nama yang benar untuk digunakan ketika mengacu kepada kelompok itu, namun menurutnya hal buruk belum datang.
Pihak lain yang juga mengalami kasus sama adalah David Emami. Dia mengatakan kepada stasiun televisi berbasis di Portland, KATU, dirinya tidak senang bagaimana nama putrinya yang masih berumur tiga tahun, Isis, kerap disalahgunakan.
"Dia dinamai menurut nama dewi Mesir. Dengan melihat namanya disalahgunakan dalam bentuk seperti itu maka ini sangat menyakitkan," ujar David.
Dampak dari nama ISIS ini tidak hanya terkait dengan perorangan. Awal bulan ini, perusahaan pembayaran asal Amerika, Isis, secara resmi mengubah nama mereka menjadi Softcard, untuk menjauhkan diri dari dikaitkan dengan kelompok militan itu.
"Mungkin kebetulan, kami tidak memiliki keinginan untuk berbagi nama dengan grup ini dan hati kita pergi bersama mereka yang terkena dampak dari kekerasan dilakukan kelompok itu," kata kepala eksekutif Softcard, Michael Abbott, dalam sebuah pernyataan.
Korban lain mempunyai nama sama dengan kelompok militan itu adalah ISIS Mag, sebuah majalah rambut dan kecantikan bagi wanita keturunan Afrika, yang berbasis di London, yang baru-baru ini mengubah logo mereka menjadi "Mag".
"Kami mulai mendapatkan pesan dari halaman Facebook kami bahwa kita adalah bagian dari organisasi teroris, jadi saya berkata kepada mitra bisnis saya 'kita harus mengubah nama kami'," kata Linda Graham, pendiri ISIS Mag, kepada stasiun televisi Russia Today.
Menurut koran the Washington Post, masalah nama kelompok militan itu bahkan diperdebatkan panjang lebar di Gedung Capitol (kantor Kongres Amerika) pada pekan lalu. Ini membuat Partai Demokrat memutuskan nama yang mengacu pada kelompok militan itu sebagai ISIL.* das - kisuta.com


