Rabu, 3 Juni 2026
Wisata & Sejarah
Mahabharata

Dewabrata

Minggu, 2 November 2014

"SIAPAKAH dirimu, wahai sang dewi, jadilah istriku." Demikian kata Maharaja Sentanu kepada Dewi Gangga yang berdiri di hadapannya dalam wujud manusia. Raja Sentanu terpesona pada kecantikan sang dewi yang jauh melampaui kecantikan manusia biasa.

Dengan sepenuh hati sang raja meminang sang dewi. Raja berjanji akan memberikan kerajaan, kekayaan, bahkan nyawanya.

Dewi Gangga menjawab: "Paduka Raja, aku bersedia menjadi istrimu. Asalkan engkau atau siapa pun tidak boleh menanyakan dari mana dan siapakah aku sebenarnya. Engkau juga tidak boleh menghalangi apa pun yang aku lakukan, baik atau buruk. Engkau tidak boleh marah kepadaku apa pun alasannya. Engkau tidak boleh mengatakan sesuatu yang membuatku sedih. Jika engkau melanggar syarat-syarat itu, aku akan pergi meninggalkanmu. Apakah engkau setuju dan bersedia berjanji tidak akan melanggarnya?"

Raja yang mabuk kepayang bersumpah akan memenuhi semua persyaratan itu. Akhirnya, Dewi Gangga diperistri dan tinggal bersama Raja Sentanu.

Hati sang raja terpikat oleh kesederhanaan, keanggunan, dan cinta Dewi Gangga yang tidak pernah surut. Mereka menjalani kehidupan yang amat membahagiakan. Tak terasa waktu berlalu sangat cepat.

Dewi Gangga melahirkan banyak anak. Setiap anak yang baru saja dilahirkan ia bawa dan benamkan di sungai Gangga. Kemudian ia kembali para raja dengan wajah berseri-seri.

Melihat tindakan istrinya yang sedemikian kejam, Raja Sentanu merasa cemas dan sangat sedih. Tapi, ia hanya dapat menyimpannya dalam hati. Ia ingat pada janjinya dulu. Sering kali raja bertanya-tanya dalam hati, siapakah sebenarnya permaisurinya, dari mana ia berasal, dan mengapa ia bertindak seperti layaknya tukang sihir yang kejam. Karena takut melanggar sumpah dan cinta yang sedemikian besar, raja sama sekali tidak menyalahkan atau mencela perbuatan permaisuri.

Demikianlah, Dewi Gangga membunuh ketujuh anaknya. Ketika anak ke delapan lahir dan akan dibuang ke Sungai Gangga, Raja sentanu tidak dapat menahan diri lagi.

Ia berteriak lantang: "Hentikan! Mengapa kau begitu tega melakukan tindakan kejam dan membunuh darah daging sendiri yang tidak berdosa?" Dengan kemarahan yang tertahan Raja Sentanu menahan permaisuri untuk melakukan tindakan kejam itu.

"Wahai, Raja yang agung," jawab Dewi Gangga, "Engkau telah melanggar janjimu padaku. Hatimu telah tertambat pada anak ini. Berarti engkau tidak membutuhkanku lagi, aku akan pergi. Baiklah, aku tidak akan membunuh anak ini. Sebelum menghakimiku, dengarkan penjelasanku dulu. Sebenarnya aku adalah Batari Gangga yang dipuja para dewa dan manusia. Aku terpaksa memainkan lakon yang kejam ini karena kutuk Resi Wasistha. Resi Wasistha mengutuk delapan wasu sehingga terlahir di dunia manusia. Mereka kemudian memohon kesediaanku untuk menjadi ibu mereka. Dengan perkenanmu, aku melahirkan mereka ke dunia. Sebagai balas budi telah menolong mereka, kelak engkau akan mencapai tempat yang lebih tinggi di alam baka. Aku akan membawa anak bungsumu dan membesarkannya. Kelak, aku akan menyerahkan kembali anak ini sebagai pemberianku padamu." Setelah berkata demikian, Batari Gangga menghilang bersama bayi itu. Kelak bayi ini akan dikenal sebagai Bhisma.

Beginilah, kisah mengapa kedelapan wasu terkena kutuk Resi Wasistha: Suatu hari mereka pergi berjalan-jalan di pegunungan bersama dengan istri-istri mereka. Di pegunungan itu terdapat pertapaan Resi Wasistha. Salah satu dari mereka melihat sapi Resi Wasistha, Nandini, sedang merumput. Keelokan Nandini sungguh memukau dan ia pun berseru kepada para istri. Mereka semua terpesona pada binatang yang mengagumkan itu. Lalu, salah satu istri meminta kepada suaminya untuk menangkap sapi tersebut.

Suami yang diminta, menjawab: "Apa gunanya sapi itu bagi kita, para dewa? Sapi itu kepunyaan Resi Wasistha, penguasa wilayah ini. Manusia akan menjadi abadi jika minum susu sapi itu; tapi apa gunanya bagi kita, yang telah ditakdirkan hidup abadi. Lagi pula, kita akan celaka jika Resi Wasistha murka hanya karena memperturutkan hasrat dan kesenangan?"

Tapi sang istri tidak peduli. Katanya, "Aku punya teman terkasih. Ia manusia biasa. Demi dialah, aku memintamu mengambilkan sapi itu. Sebelum Resi Wasistha kembali, kita telah pergi jauh membawa sapi itu. Demi aku, penuhilah keinginanku ini. Ini sangat berarti bagiku." Akhirnya, suaminya menurut. Kedelapan wasu itu bersama-sama menangkap Nandini dan anaknya. Lalu, mereka melarikannya jauh-jauh.

Ketika kembali ke pertapaan, Resi Wasistha tidak menemukan Nandini dan anaknya. Sapi itu sangat dibutuhkan untuk upacara persembahan hariannya. Berkat kekuatan yoga, Resi Wasistha segera tahu apa yang telah terjadi. Ia amat murka dan mengucapkan kutuk atas para wasu. Resi, yang telah meninggalkan keduniawian dan hanya memikirkan masalah ruhani, mengutuk para wasu akan terlahir ke dunia manusia. Ketika menyadari bahwa mereka terkena kutuk --penyesalan selalu datang terlambat-- para wasu segera bersimpuh di hadapan Resi Wasistha untuk memohon belas kasih dan ampunan atas kesalahan mereka.

Resi Wasistha berkata: "Kutuk telah terucap dan akan berlaku pada waktunya nanti. Prabhasa, wasu yang melarikan sapi akan menjalani kehidupan yang panjang dalam kemuliaan. Para wasu lain yang segera setelah terlahir di dunia akan lepas dari kutuk. Aku tidak dapat membatalkan, tapi dapat melunakkan kutukkanku." Kemudian Resi Wasistha kembali memusatkan konsentrasi pada keheningan, yang semula bergolak karena amarah. Seorang resi yang sedang bertapa brata memang mendapatkan kekuatan untuk mengutuk, tapi setiap kali ia menggunakan kekuatannya untuk mengucapkan kutukan, tingkat kesucian yang telah dicapai akan berkurang.

Mendengar itu, para wasu merasa lega. Kemudian mereka menghadap Batari Gangga dan memohon: "Sudilah kiranya Batari menjadi ibu kami. Sudilah kiranya Batari turun ke bumi dan menikahi pria yang bermartabat. Buanglah kami ke Sungai Gangga segera setelah kami lahir. Lepaskan kami dari kutukan." Dewi Gangga mengabulkan permohonan mereka. Ia turun ke bumi dan menjadi permaisuri Raja Sentanu.

Ketika Dewi Gangga menghilang dan membawa bayinya yang kedelapan,Raja Sentanu meninggalkan semua kesenangan duniawi dan memerintah kerajaan dengan semangat asketisme. Suatu hari, ketika berjalan-jalan di tepi Sungai Gangga, dia melihat seorang anak laki-laki yang dilingkup aura keagungan dan keelokan Dewandra, raja para dewa-dewi. Anak itu sedang bermain panah, Ia berulang kali melepas anak panah ke seberang Sungai Gangga. Tidak ada siapa-siapa di dekatnya. Tiba-tiba, di hadapan raja yang sedang takjub pada keelokan dan ketangkasan anak itu, Dewi Gangga menampakkan diri. Sang dewi mengatakan bahwa anak itu adalah anaknya sendiri.

Katanya: "Wahai, Paduka Raja, inilah anak kita yang kedelapan. Ia sudah besar. Dia kunamai Dewabrata. Aku mengajarinya menguasai seni perang. Kesaktiannya setara dengan kesaktian Parasurama. Ia telah mempelajari yang dikuasai Sukra. Terimalah anak ini. Kelak ia akan menjadi pemanah, pahlawan, dan negarawan besar. Kemudian Batari Gangga memberkahi anak itu; menyerahkan kepada ayahnya, Raja Sentanu; dan menghilang.* C. Rajagopalachari/”Kitab Mahabharata” – kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya