Arjuna Bertahta di Kahyangan Tejamaya
SETELAH berhasil menewaskan Prabu Niwatakawaca dari Negeri Imoimantaka, Arjuna mengembalikan Dewi Supraba ke Indraloka. Sesuai dengan janji Hyang Jagatnata, sebagai hadiah dari para Dewa, Arjuna boleh bertahta di Kahyangan Tejamaya dengan gelar Prabu Kariti (Prabu Kaliti) selama 7 tahun. Untuk melengkapi hadiah tersebut, Dewi Supraba sebagai ratu para bidadari akan mendampinginya sebagai Permaisuri di dampingi 7 saudari bidadarinya sebagai garwa ampil (selir) yaitu Dewi Dresanala, Wilutama, Warsiki, Surendra, Gagarmayang, Tunjungbiru, dan Dewi Lelengmulat.
Kenikmatan Arjuna sebagai Raja di Khayangan Tejamaya ternyata membuat Sang Panengah Pandawa itu lupa diri, di dampingi oleh para bidadari yang cantik-cantik, segala kenikmatan duniawi menjadi hambar baginya. Lupalah Arjuna bahwa istrinya Dewi Sumbadra, setiap hari merindukannya dan menangis pilu, apalagi Sumbadra sudah berputra Abimanyu yang tumbuh kanak-kanak tanpa didampingi ayahnya.
Waktu yang diberikan Hyang Jagatnata, untuk bertahta 7 wangsa (7 tahun) mulai terlampaui. Tak tahan dengan kerinduan hatinya, Sumbadra menemui kakaknya, Kresna.
Sumbadra: Rakanda Kresna, bagaimana ini?...katamu Bapake Thole pergi hanya 7 wangsa, untuk semedi mohon bantuan dewa mendapatkan pusaka sakti...mengapa sudah lewat waktunya kok belum pulang juga...
Khresna: Hmm Rara Ireng adikku yang manis, bersabarlah yayi...mungkin suamimu terhambat di perjalanan...
Sumbadra: Apa maksudmu kanda?...kalau terlambat seperti ini, biasanya hanya wangi bunga pilihan yang bisa menjerat langkah suamiku (cemberut).
Khresna: Hahaha...nha itu kamu sudah tahu kebiasaan suamimu, bawalah dalam doa, agar suamimu segera ingat padamu dan segera kembali..
Sumbadra: Tidak kakang, kalau engkau tidak waskita melihat kegelisahanku, jangan merepotkan...biarlah aku sendiri yang akan mencari suamiku demi anakku Abimanyu....(Sumbadra tiba-tiba mengeraskan hatinya dan segera pergi dari hadapan Khresna dengan wajah muram).
Khresna sangat memahami watak Sumbadra, walaupun secara phisik kelihatan lemah lembut, sabar dan halus tutur sapanya. Namun kalau sudah memiliki kemauan, Sumbadra keras hati, tidak bisa dilarang dan cenderung nekad. Khresna mengkhawatirkan kenekadan adiknya, karena berbeda dengan Srikandi yang memiliki ilmu kesaktian, Sumbadra adalah putri jelita yang polos tanpa ilmu kanuragan. Akhirnya Khresna menemui Semar di Karang Kedempel.
Khresna: Wa Semar, mohon bantuan Wa Semar dan para punakawan lain untuk bisa memandu dan melindungi adinda Wara Sumbadra yang berniat mencari suaminya.
Semar: Woooo ya..ya...momongan saya itu memang istimewa....diberi waktu 7 wangsa, dikelilingi wangi bunga swargaloka, mabok kepayang...(Sebagai jelmaan Bathara Ismaya, tentu Semar sudah memaklumi apa yang terjadi dengan Arjuna)...Baik ndara, saya akan mengawal sang putri Dewi Sumbadra ke Khayangan Tejamaya...tapi ada syaratnya...
Khresna: Apa syaratnya Wa Semar...
Semar: Karena bendara saya raden Arjuna itu sedang lupa diri, mabok kepayang, maka ketika menyusup ke sana, kami harus menyamar sebagai seniman yang mbarang jantur...jadi rayi paduka Dewi Wara Sumbadra harus menyamar sebagai Waranggana (Penyanyi)....nanti beliau akan saya bekali bunga Kenanga yang harus dilemparkan ke dada Prabu Kariti, jelmaan Raden Arjuna, agar beliau ingat siapa jati diri beliau...
Khresna menyetujui saran itu, dan segera menyusul Wara Sumbadra serta menjelaskan rencana Semar, agar Wara Sumbadra tidak nekad.
Di Kahyangan Tejamaya, Prabu Kariti sedang menyelenggarakan pesta kelahiran putranya dari Dewi Supraba yang diberi nama Bambang Irawan, atau Prabukusuma. Untuk memeriahkan pesta itu, mereka telah memanggil para seniman serba bisa dari Arcapada, yang bisa melawak dan menyanyi, mereka ini adalah rombongan Semar dan Sumbadra didampingi Larasati yang menyamar sebagai seniman.
Pertunjukan mereka sangat menarik, Prabu Kariti terus memperhatikan Waranggana yang tercantik di antara para seniman itu, batinnya berdesir...namun dia tidak bisa mengingat siapakah waranggana itu. Dewi Supraba yang mendampingi Prabu Kariti, merasakan kegelisahan suaminya, dipegangnya tangan suaminya agak tidak berjauhan dengannya. Diam-diam, Wara Sumbadra yang berperan sebagai Waranggana cantik beringsut makin mendekati Prabu Kariti, setelah jaraknya semakin dekat dilemparkannya bunga kenanga pemberian Ki Lurah Semar, kilat terang menyambar, Prabu Kariti terduduk lemas di Singgasana.
Supraba: Duh sinuwuuuun...ada apa ini?
Arjuna: Yayi Rara Ireng....Rara Ireng...aah mbokne Thole...itu istriku Rara Ireng...(Naik sedu sedan dari tenggorokan Sumbadra, tanpa dapat dicegah, dia menghambur ke pelukan Arjuna...)
Sumbadra: Bapane Tholeh...duuuh Dewa Jagat Bathara, akhirnya kamu sadar siapa aku, Suamiku...
Kedua sejoli itu saling berpelukan di tengah Sitihinggil...suasana menjadi senyap, segala perasaan mengharu biru di ruangan itu. Supraba dan para bidadari sadar, tugas mereka untuk melengkapi warnasari kehidupan Arjuna tuntas sudah. Kini saatnya Arjuna kembali kepada keluarganya, melanjutkan dharma ksatrianya yang masih panjang dijalaninya.*
Ira Sumarah Hartati Kusumastuti - kisuta.com


