Rabu, 3 Juni 2026
Wisata & Sejarah
Wayang

Dendam Asmara Dewi Amba

Rabu, 5 November 2014

ROH Dewi Amba melayang, dalam runtutan duka yang mendalam...Rintihan akan nasibnya sebagai putri yang tertolak, membuatnya menyimpan bara dendam...Angannya hanya satu, dalam pengembaraan sukmanya, dia harus menitis pada wadag seorang putri, yang akan mampu membunuh Bisma...Hingga sukmanya bisa bersama-sama dengan sukma Bisma menuju kadewatan abadi.

Roh Dewi Amba bertemu dengan Dewa Subramanya, yang memberikannya kalung puspamala dan bersabda bahwa orang yang bersedia memakainya akan menjadi pembunuh Bisma.

Amba pun mencari orang yang bersedia memakainya, sudah berbilang tahun tidak ada yang berani meskipun ada jaminan keberhasilan dari sang dewa. Setelah ditolak berbagai kesatria putri, akhirnya Amba tiba di istana Raja Drupada, dan mendapatkan hasil yang sama. Dengan putus asa, Amba melemparkan puspamala tersebut ke atas gerbang istana dan tidak ada yang berani menyentuhnya. Setelah itu Roh Amba pergi dan berdoa dengan tekad menjadi penyebab kematian Bisma.

Hari berganti, tahun pun bertambah, seiring dengan puja dan doa, permaisuri raja Drupada dari Pancala, berhasil hamil. Inilah masa penantian yang panjang bagi pasangan raja dan permaisuri ini. Putra putri sebelumnya, bukan berasal dari hubungan percintaan yang normal. Putri Drupadi berasal dari pamujan permintaan melalui semadi, sang putri muncul dari Api Pamujan, sedangkan adiknya Drestajumena berasal dari asapnya.

Tak dapat dibayangkan kebahagiaan raja dan permaisuri dengan kehamilan ini.

Saat Roh Amba melintas dan melihat rona wajah sang permaisuri yang bersinar terang, sadarlah Amba, saatnya bereinkarnasi sudah tiba, jabang bayi dalam kandungan sang permaisuri inilah yang akan menggenapi keinginannya...Sarana kematian Bisma sang Dewabrata. Sukma Amba, masuk ke dalam rahim Permaisuri Pancala.

Akhirnya lahirlah bayi yang cantik jelita, sejak kecil sudah menunjukkan kelincahan dan pesona luar biasa. Oleh Prabu Drupada, putri bungsunya ini diberi nama Srikandi
Saat Srikandi masih muda, ia mendapati sebuah puspamala tergantung di atas gerbang istananya. Ia pun mengalungkan puspamala tersebut di lehernya.

Drupada: Anakku Ngger Srikandi, lepaskanlah puspamala itu...di dalamnya ada kutukan yang dahsyat anakku.

Srikandi: Tidak mau Rama, aku suka dengan puspamala ini...apapun makna kutukan itu, Ananda tidak takut dan akan Ananda hadapi.

Drupada: Srikandi, engkau sungguh keras kepala dan mau menang sendiri. Pergilah engkau jauh-jauh dari istana Pancala, kalau engkau tidak mau melepaskan puspamala itu, engkau telah menempatkan kerajaan Pancala berhadapan dengan Bisma.

Srikandi: Rama, mengapa harus takut dengan Bisma? Ananda sanggup menghadapinya.

Drupada: Sungguh keterlaluan engkau Srikandi...segera pergilah...keluar dari Pancala...mungkin engkau akan menemukan jalan hidupmu sendiri di luar sana.

Drupada takut bahwa Srikandi akan menjadi musuh Bisma sehingga ia mengusir Srikandi agar kemarahan Bisma tidak berdampak pada kerajaannya.

Didera perasaan marah akan keputusan ayahnya di tengah hutan, Srikandi bertemu seorang yaksa yang mengajaknya menukar jenis kelaminnya kepada Srikandi. Srikandi menyetujuinya hingga dia menjadi kedi (banci). Kelak setelah kematiannya, kejantanannya dikembalikan kembali kepada yaksa.

Dewi Srikandi sangat gemar dalam olah keprajuritan dan mahir dalam mempergunakan senjata panah. Kepandaiannya tersebut didapatnya ketika ia berguru pada Arjuna, yang kemudian menjadi suaminya. Dalam perkawinan tersebut ia tidak memperoleh putra.

Dewi Srikandi menjadi suri teladan prajurit wanita. Ia bertindak sebagai penanggung jawab keselamatan dan keamanan kesatrian Madukara dengan segala isinya. Dalam perang Bharatayudha, Dewi Srikandi tampil sebagai senapati perang Pandawa menggantikan Resi Seta, kesatria Wirata yang telah gugur untuk menghadapi Bisma, senapati agung balatentara Kurawa.

Dengan panah Hrusangkali, Dewi Srikandi dapat menewaskan Bisma, sesuai kutukan Dewi Amba, putri Prabu Darmahambara, raja negara Giyantipura, yang dendam kepada Bisma. Dalam akhir riwayat Dewi Srikandi diceriterakan bahwa ia tewas dibunuh Aswatama yang menyelundup masuk ke keraton Hastinapura setelah berakhirnya perang Bharatayuddha.*

Ira Sumarah Hartati Kusumastuti - kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya