Pandawa Nyamar
SYAHDAN, setelah 12 tahun masa pengasingan, pada tahun ke 13 Pandawa harus menyamar selama 1 tahun penuh, tanpa boleh ketahuan jatidirinya. Jika gagal maka pengasingan akan diulangi lagi selama 12 tahun berikutnya. Pandawa kemudian menuju ke kerajaan Wirata.
Yudistira menyamar sebagai Brahmana dengan nama Kanka dan menemani raja bermain dadu setiap harinya. Bima menjadi Jagal bernama Abilawa dengan salah satu kegiatannya adalah menemani Raja bergulat.
Arjuna memanfaatkan Kutukan Bidadari Urwasi yang membuatnya menjadi gemulai bak banci, dengan menyamar sebagai guru tari bernama Whrehatnala. Dia mengajarkan tari dan musik pada putra dan putri raja yaitu Utara dan Utari . Nakula menyamar sebagai perawat kuda dengan nama samaran “Grantika” atau Dharmagranthi. Sadewa pun memilih peran sebagai seorang gembala sapi bernama Tantripala. Drupadi menyamar sebagai dayang istana bernama Syalindri melayani ratu Suhesna.
Kecantikan Syalindri telah menggetarkan hati Kichaka kakak dari ratu Suhesna. Ia menaruh hati pada Syalindri yang menolak dengan halus dengan menyatakan bahwa Suaminya adalah Gandharwa yang membunuh siapa saja yang bersikap tidak sopan terhadapnya. Kichaka tidak mempercayai itu dan tetap merayu Syalindri.
Karena kewalahan menerima penolakan Syalindri, Kichaka meminta bantuan Ratu Suhesna adiknya untuk menjebak Syalindri. Sang Ratu memanggil Syalindri, dan memintanya mengantarkan buah-buahan kepada kakaknya di rumah pesanggrahan kakaknya.
Ratu: Syalindri, antarkan buah-buahan ini ke pesanggrahan rakanda Kichaka."
Syalindri: Aduhai junjungan hamba, bisakah dayang yang lain mengantarkannya. Hamba sudah bersuamikan jin denawa, suami hamba sangat pencemburu, hati kecil hamba takut jika nanti terjadi sesuatu sang ratu."
Ratu: Syalindri, siapa engkau yang berani menolak perintahku?! Apa yang engkau khawatirkan...? Lagi pula, aneh manusia bersuamikan jin. Jika pun kakakku menginginkanmu, suamimu pasti tidak akan mampu menandinginya. Jangan bantah perintahku. Bawa buah-buahan ini ke kakakku."
Karena Drupadi pernah mengalami penghinaan saat permainan dadu, kali ini dia bertindak hati-hati, diselipkannya cuntrik di belakang pinggangnya. Diam-diam dia menyusun rencana penyelamatan dengan Abilawa (Bima), Bima akan mengamati Drupadi (Syalindri) dari jauh, jika terdengar teriakan Kichaka di saat itulah Bima akan berperan, berpura-pura sebagai Jin Denawa suami Syalindri yang mengamuk karena cemburu istrinya diganggu Kichaka.
Syalindri bergegas mengantarkan buah-buahan ke pesanggrahan Kichaka. Benarlah! Kichaka dalam keadaan mabuk dengan bernafsu dia memaksanya, mendorong dan mengeluarkan kata-kata yang tidak senonoh pada Syalindri...dengan mundur-mundur mendekati pojok taman yang gelap (mendekati tempat persembunyian Abilawa) Syalindri memancing Kichaka keluar dari pesanggrahannya...saat tangannya tertangkap oleh Kichaka, dengan sigap Syalindri menusukkan cundriknya ke tangan Kichaka...Kichaka berteriak meraung, itulah tanda Abilawa bisa keluar dari persembunyiannya.
Tendangan hebat Abilawa telak bersarang di dada Kichaka meremukkan sebagian tulang rusuknya. Perkelahian terjadi dan Kichaka tewas.
Syalindri membangunkan penjaga dan menceritakan gangguan dari Kichaka padahal telah diberitahu bahwa suami Gandarwanya akan menghabisi siapapun yang mengganggunya sambil menunjukan mayat Kichaka yang remuk mengecil yang hanya dapat dilakukan oleh bukan kekuatan manusia biasa. Cerita kematian Kichaka berkembang di masyarakat kerajaan Wirata.
Sementara itu mata-mata Duryudana hampir mulai menyerah untuk menemukan Pandawa, dan mereka mendengar kabar bahwa Kichaka tewas di tangan gandarwa yang Istrinya diganggu. Mereka tahu yang dapat membunuh Kichaka adalah cuma dua orang di muka bumi ini. Salah satunya adalah Bima mereka juga yakin bahwa istri gandarwa itu adalah Drupadi.
Akhirnya Duryudana sampai pada rencana untuk menyerang Wirata. Melihat sifat Pandawa, mereka pasti akan menolong kerajaan Wirata sebagai ucapan terima kasih dan apabila Pandawa tidak ada di sana, paling tidak pundi kekayaan Duryodana menjadi meningkat.
Yudistira, bertindak seperti pikiran Duryudana, kecuali Arjuna yang berjaga di istana Wirata, mereka semua membantu Kerajaan Wirata menghadapi tentara kerajaan Trigartha, sekutu Duryudana. Akibatnya, istana Wirata menjadi kosong dan dalam keadaan terancam oleh serangan pasukan Hastinapura.
Utara putera Matsyapati raja Wirata ditugasi menjaga istana, berangkat ditemani Whrehatnala (banci, samaran Arjuna) sebagai kusir. Di medan perang, Utara sangat ketakutan melihat pasukan Kurawa yang saat itu melibatkan Bhisma, Drona, Kripa, Aswatama, Karna, Duryudana dan ribuan lainnya. Ia membuang busur dan lari, kemudian dikejar oleh Whrehatnala kemudian dipaksa masuk kereta. Sesampainya mereka di dekat sebuah pohon Utara diminta naik ke atas untuk mengambil persenjataan Pandawa yang disembunyikan di sana.
Kemudian Whrehatnala menyentakkan Busur Gondewanya yang bunyinya bergema di seluruh tempat. Bunyi itu sangat menakutkan pasukan Kurawa Kemudian ia meniupkan Terompetnya, Dewadatta yang berkumandang dan makin menggentarkan pasukan Kurawa. Saat itu mereka berteriak-teriak bahwa Pandava datang berkali-kali. Trompet itu menandakan berakhirnya masa pengasingan yang jatuh tempo satu hari sebelumnya.
Bhisma juga memberitahukan pada Duryudana bahwa menurut pengetahuannya dan juga para ahli perbintangan maka tahun ke 13 masa pengasingan telah berakhir kemarin. Duryudana di sarankan untuk segera berdamai, namun ia menolak dan mengatakan tidak akan menyerahkan bahkan satu desapun kepada Pandawa serta memerintahkan mereka untuk segera berperang.
Arjuna tampil seorang diri melawan seluruh pasukan Kurawa. Sebelum mengejar Duryudana, Arjuna menyalami para gurunya dan Bhisma dengan membidik panah dekat kaki mereka. Saat ia mengejar Duryudana, seluruh pasukan bergerak melindungi Duryudana, Arjuna membuat Karna keluar dari arena, Ia mengalahkan Drona, Kripa, Aswatama dan akhirnya berperang Melawan Bhisma. Pertempuran antara Bhisma dan Arjuna disaksikan para Dewa.
Kemudian Arjuna mengeluarkan sebuah panah yang membuat mereka semua menjadi tak sadarkan diri. Kemudian ia merenggut semua pakaian mereka. Kumpulan pakaian itu sebagai tanda kemenangan di hari itu. Pasukan Kurawa pulang kandang dengan kekalahan memalukan di tangan satu orang, Arjuna.
Peristiwa kemenangan Arjuna atas serangan Hastinapura tersebut telah membuat Utara berubah menjadi seorang yang pemberani. Ia ikut terjun dalam perang besar di Kurukshetra membantu pihak Pandawa.
Sementara itu, pasukan Wirata yang diperkuat Bima, Yudistira dan si kembar Nakula Sadewa juga mendapat kemenangan atas pasukan Trigartha. Raja Matsyapati dengan bangga memuji-muji kehebatan Utara yang berhasil mengalahkan para Kurawa seorang diri. Kanka alias Yudistira menjelaskan bahwa kunci kemenangan Utara adalah Whrehatnala. Hal itu membuat Matsyapati tersinggung dan memukul kepala Kanka sampai berdarah.
Saat batas waktu penyamaran telah melebih batas waktu, kelima Pandawa dan Drupadi pun membuka penyamaran. Mengetahui hal itu, Matsyapati merasa sangat menyesal telah memperlakukan mereka dengan buruk. Ia pun menyerahkan putrinya, Utari kepada Arjuna sebagai tanda penyesalan dan minta maaf. Namun Arjuna menolaknya karena ia telah mengajar tarian dan kesenian pada mereka (kembar Utara dan Utari), untuk itu Utari pun diambil sebagai menantu untuk dinikahkan dengan Abimanyu, putranya yang tinggal di Dwaraka. Raja Wirata, Prabu Matsyapati pun berjanji akan menjadi sekutu Pandawa dalam usaha mendapatkan kembali takhta Indraprastha.*
Ira Sumarah Hartati Kusumastuti - kisuta.com


