Rabu, 3 Juni 2026
Wisata & Sejarah
Mahabharata

Dewayani dan Kacha

Minggu, 9 November 2014

DAHULU kala, terjadi pertarungan yang sangat sengit antara dewata dan para raksasa. Mereka berebut menguasai ketiga dunia. Kedua belah pihak dipimpin tokoh yang masyhur --pihak dewata dipimpin oleh Resi Brihaspati yang sangat terkenal karena pengetahuannya yang mendalam tentang kitab-kitab Weda, sementara pihak raksasa dipimpin oleh Guru Sukrasarya yang arif bijaksana. Pihak raksasa memiliki keunggulan yang sangat luar biasa. Sukra memiliki ilmu gaib Sanjiwini. Dengan Sanjiwini, ia dapat menghidupkan siapa saja yang telah mati. Dengan ilmu tersebut, para raksasa yang mati dalam perang dapat dihidupkan kembali. Demikian terjadi berkali-kali dan mmereka kembali berperang melawan dewata. Akibatnya, pihak dewata selalu kalah melawan para raksasa dalam perang yang melelahkan dan berkepanjangan.

Akhirnya, mereka pergi kepada Kacha, putra Brihaspati, untuk minta bantuan. Mereka berharap Kacha dapat menawan hati Sukrasarya dan diterima sebagai murid mahaguru itu. Dengan menjadi murid, dewata berharap Kacha dapat menguasa ilmu gaib Sanjiwini, apakah itu dengan cara yang curang atau mulia, dan dengan demikian menghindarkan pihak dewata dari kekalahan yang terus menerus.

Kacha menyanggupi permintaan para dewata itu. Kemudian, dia pergi menghadap Mahaguru Sukrasarya yang tinggal di istana Wrishaparwa, raja para raksasa. Di hadapan mahaguru itu, ia memberikan salam hormat, lalu katanya: "Hamba cucu Resi Angiras dan anak Resi Brihaspati. Hamba telah bersumpah untuk menjadi brahmacarin dan ingin menuntut ilmu di bawah didikan yang mulia Mahaguru." Sesuai tradisi, seorang guru yang bijaksana tidak boleh menolak murid yang ingin berguru kepadanya. Oleh karena itu, Mahaguru Sukra berkata: "Kacha, engkau berasal dari keturunan keluarga yang baik. Aku terima kau sebagai muridku. Aku menerimamu untuk menunjukkan rasa hormatku kepada ayahmu, Resi Brihaspati."

Demikianlah, Kacha belajar selama bertahun-tahun pada Mahaguru Sukrasarya. Ia melakukan semua tugas yang diberikan gurunya dengan sungguh-sungguh. Mahaguru Sukrasarya hanya memiliki seorang anak, Dewayani. Kepada dialah mahaguru mencurahkan kasih sayang. Salah satu tugas Kacha adalah menghibur dan melayani Dewayani dengan nyanyian, tarian, atau bermain-main. Seiring dengan berjalannya waktu, Dewayani jatuh hati pada Kacha. Namun demikian, putra Resi Brihaspati itu tetap teguh dengan sumpahnya untuk menjalani hidup sebagai bramacarin.

Ketika mengetahui hal itu, para raksasa menjadi khawatir. Mereka curiga Kacha hanya akan membujuk mahaguru mereka untuk memberikan rahasia ilmu gaib Sanjiwini. Karena itu, dengan berbagai cara mereka berusaha menghalangi Kacha.

Suatu hari, ketika Kacha sedang mengembalakan ternak gurunya, tiba-tiba para raksasa datang. Mereka menyergap dan membunuhnya. Tubuh Kacha dicincang-cincang dan dijadikan makanan anjing. Melihat ternak ayahnya kembali tanpa Kacha, Dewayani menjadi cemas. Ia lari kepada ayahnya dengan menangis tersedu-sedu, "Matahari telah terbenam dan pedupaan pemujaan Ayahanda telah dinyalakan, tetapi Kacha belum juga pulang. Ternak gembalaannya telah kembali ke kandang. Ananda khawatir terjadi sesuatu yang buruk menimpa Kacha. Tolonglah Ayahanda, Ananda tidak dapat hidup tanpa dia."

Mendengar ratapan anaknya, Mahaguru Sukrasarya segera mengucapkan mantra Sanjiwini dan menghidupkan kembali anak muda itu. Seketika itu juga, Kacha hidup dan menghadap gurunya dengan tersenyum. Dewayani bertanya mengapa ia pulang terlambat. Kacha bercerita tiba-tiba ia diserang dan dibunuh para raksasa ketika sedang mengembalakan ternak. Tetapi, bagaimana ia dapat hidup kembali dan ada di hadapan mereka ia tidak dapat menerangkannya.

Pada kesempatan lain, Kacha pergi ke hutan, mencari bunga untuk Dewayani. Sekali lagi para raksasa menyergap dan membunuhnya. Ia dipukuli sampai hancur remuk dan mayatnya dibuang ke laut. Karena Kacha ditunggu-tunggu lama tidak muncul, seperti sebelumnya Dewyani menghadap ayahnya. Mahaguru Sukrasarya sekali lagi menghidupkan Kacha dengan Sanjiwini dan menanyakan apa yang sebenarnya terjadi.

Pada kesempatan ketiga, para raksasa membunuh Kacha. Dengan cerdik, mereka membakar mayat Kacha dan mencampurkan abunya ke dalam minuman anggur yang mereka persembahkan kepada Mahaguru Sukrasarya. Sukra sama sekali tidak menaruh curiga. Sekali lagi, hewan ternak mereka pulang ke kandang tanpa gembalanya. Dan sekali lagi, Dewayani tersedu-sedu menghadap ayahnya.

Sia-sia Mahaguru Sukrasarya menghibur anaknya.

"Meskipun aku sudah berulang kali menghidupkan Kacha," kata Sukra, "tampaknya para raksasa sudah bertekad untuk mmembunuhnya. Anakku, kematian adalah hal biasa. Sungguh tidak pantas orang berjiwa besar sepertimu menangisi kematiannya. Jalanilah hidupmu yang dilimpahi berkah kemudaan, kecantikan dan kemurahan hati dunia."

Dewayani sangat mencintai Kacha. Demikianlah, semenjak awal mula dunia, nasihat orang yang paling bijaksana sekalipun tidak akan pernah bisa menghilangkan duka hati seorang perempuan yang kehilangan kekasih. Kata Dewayani, "Kacha, cucu Resi Angiras dan anak Resi Brihaspati adalah seorang pemuda yang tidak berdosa. Ia telah menyerahkan diri untuk melayani kita. Hamba mencintainya sedalam lubuk hati hamba. Sekarang ia mati. Hidup hamba terasa hampa dan serasa duka. Karena itu, biarkan hamba mengikutinya mati." Setelah berkata demikian, Dewayani menolak makan dan minum.

Mahaguru Sukra tidak tega melihat putri kesayangannya yang dilanda duka. Ia marah kepada para raksasa yang telah membunuh Kacha. Membunuh brahmana adalah perbuatan terkutuk. Mereka pasti akan mendapatkan pembalasan yang setimpal. Sekali lagi, Mahaguru Sukra mengunakan Sanjiwini untuk menghidupkan Kacha. Berkat ilmu gaib itu, Kacha hidup kembali dari anggur yang ada di perut sang mahaguru. Tetapi, ia tidak bisa keluar karena berada di tempat yang sangat aneh. Ia hanya dapat menjawab setiap kali namanya dipanggil dan mengatakan di mana ia berada. Mendengar penuturan Kacha, Mahaguru Sukra marah besar, "Wahai, Brahmacarin, bagaimana engkau bisa masuk ke dalam perutku? Apakah ini juga pekerjaaan para raksasa? Ingin rasanya aku membunuh para raksasa dan menggabungkan diri dengan para dewa. Tetapi, sebelumnya, ceritakan dulu apa yang terjadi kepadaku." Dengan susah payah, Kacha menceritakan semua kejadian yang ia alami.

Resi Sukrasarya yang suci dan luhur budi menjadi murka karena ditipu dengan persembahan minuman anggur. Dan demi kebaikan umat manusia ia berkata:

"Orang akan kehilangan keluhuran budi, jika minum anggur secara tidak bijaksana. Orang yang demikian akan dikutuk. Demikian pesanku dan pesan ini akan tertulis dalam kitab-kitab suci sebagai larangan yang tidak boleh dilanggar."

Setelah berkata demikian, Mahaguru Sukra menoleh kepada Dewayani. Katanya: "Putriku, sekarang kau harus memilih. Jika kau ingin Kacha hidup kembali, ia harus keluar dari perutku dan itu berarti kematian bagiku. Ia hanya dapat hidup dengan kematianku."

Dewayani mulai menangiis dan berkata: "Oh, Dewata, jika demikian sebaiknya hamba mati saja --karena jika salah satu dari kalian mati, hamba tidak akan sanggup menjalani hidup ini."

Sementara mencari jalan pemecahan permasalahan yang pelik ini, Mahaguru Sukra menyadari apa sebenarnya yang terjadi. Katanya kepada Kacha: "Wahai, putra Brihaspati, sekarang aku tahu apa niatmu yang sebenarnya datang berguru kepadaku. Kau akan memperoleh apa yang kau inginkan. Demi Dewayani aku akan menghidupkanmu dan demi dia pula aku tidak boleh mati. Satu-satunya jalan adalah mengajarkanmu Sanjiwini sehingga kau dapat menghidupkanku kembali setelah tubuhku hancur, karena mengeluarkan engkau dari perutku." Demikianlah, Mahaguru Sukra memberikan rahasia ilmu Sanjiwini kepada Kacha. Seketika itu juga, Kacha keluar dari perut Mahaguru Sukra, seperti bulan yang mencuat muncul dari balik mega-mega. Sementara itu, sang mahaguru roboh dengan tubuh tercerai berai dan mati.

Kacha memenuhi janjinya. Ia langsung menghidupkan gurunya dengan ilmu yang baru saja ia peroleh. Kacha bersujud di hadadan gurunya dan berkata: "Guru yang menanamkan kebijaksanaan pada orang yang bodoh adalah seorang bapak. Selain itu, karena hamba keluar dari tubuh Guru, Guru juga adalah ibu bagi hamba."

Selama beberapa tahun kemudian, Kacha terus menjadi murid Mahaguru Sukra. Ketika jangka waktu sumpahnya selesai, ia mohon diri kepada gurunya dan kembali ke dunia para dewata. Ketika tiba waktunya untuk pergi, dengan penuh hormat Dewayani berkata: "Wahai, cucu Resi Angiras, engkau telah memikat hatiku dengan kesucian hati, kemajuanmu dalam menuntut ilmu dan asal-usulmu yang mulia. Sejak lama aku mencintaimu sepenuh jiwa, walaupun engkau telah bersumpah untuk menjalani hidup sebagai brahmacarin. Engkau harus membalas cintaku dan membuatku berbahagia dengan menikahiku. Ayahmu, Resi Brihaspati dan engkau sendiri kiranya pantas mendapatkan rasa hormatku."

Pada waktu itu, bukanlah hal aneh jika seorang brahmana putri yang bijaksana dan terpelajar mengungkapkan pikiran mereka dengan kejujuran yang terhormat. Tetapi, Kacha menjawab:

"Wahai, Putri yang suci, engkau adalah putri mahaguruku dan aku menghormatimu. Aku hidup kembali setelah keluar dari tubuh ayahmu. Karena itu, sekarang aku adalah saudaramu satu bapak. Saudariku, sungguh tidak sepantasnya engkau memintaku untuk menikahimu."

Sia-sia Dewayani berusaha membujuk Kacha. "Kau anak Resi Brihaspati yang aku hormati," kata Dewayani, "dan bukan anak ayahku. Akulah yang menyebabkanmu bisa hidup kembali, karena aku mencintaimu dan menginginkanmu menjadi suamiku. Tidak selayaknya engkau pergi meninggalkan aku yang tidak berdosa ini dan ingin mengabdikan diri padamu."

Jawab Kacha: "Jangan membujukku untuk melakukan hal yang tidak benar. Engkau putri yang cantik jelita dan semakin tampak jelita dalam keadaan marah seperti sekarang. Tetapi, aku adalah saudaramu. Biarkan aku pergi. Abdilah guruku Mahaguru Sukra dengan sebaik-baiknya." Setelah berkata demikian, dengan lembut Kacha melepaskan diri dari pegangan Dewayani dan kembali ke dunia dewata.

Dewayani amat sedih dan Mahaguru Sukra berusaha keras menghiburnya.* C. Rajagopalachari/"Kitab Mahabharata" - kisuta.com

 


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya