Rabu, 3 Juni 2026
Wisata & Sejarah
Wayang

Ksatria Perkasa Gatotkaca

Senin, 10 November 2014

PRABU Kala Pracona dari kerajaan Gilingwesi sedang gundah gulana...Makan tak enak, tidur tak nyenyak, di sanubarinya paras Dewi Supraba yang cantik jelita terus menggoda imannya. Patih Kala Sekipu tampaknya menyadari kegelisahan sesembahannya.

Kala Sekipu: Eee..ee...Sinuwun, jika dendam asmara sudah tidak bisa ditahan...utuslah hamba melamar sang dewi pujaan hati...hamba akan menghadirkannya sebagai permaisuri paduka...ooo...ee...ee.

Kala Pracona: Ooo..Paman Patih, dewi pujaanku bukan sembarangan wanita...dia ratunya bidadari...Dewi Supraba...sedangkan Prabu Niwatakawaca saja gagal mempersunting sang dewi...

Kala Sekipu: Ooee..bojleng-bojleng iblis laknat pada gegojegan ..nun Sinuwun, Prabu Niwatakawaca sembrono, bisa ditipu bujuk manis para dewa. Kita tidak boleh menggunakan cara halus seperti itu...kita tekan kahyangan dengan kekuatan kita. Kalau para dewa tahu kekuatan kita, mereka pasti tidak berdaya dan akan pasrah menyerahkan sang dewi, Sinuwun.

Kala Pracona: Gitu ya...hhmm...baik paman, bawa pasukan kita dan obrak abrik Kahyangan boyong Bathari Supraba untukku.

Patih Detya Kala Sekipu segera mempersiapkan pasukannya dan berangkat menyerbu kahyangan. Para dewa di kahyangan pun tak sanggup membendung kekuatan Detya Kala Sekipu dan Kala Pracona mereka terpaksa bertahan di dalam kahyangan sambil mencari sosok pahlawan yang dapat mengalahkan Kala Pracona dan pasukannya.

Narada: Oooo...Adi Guru...Ketiwasan Adi Guru..Hyang Brahma, Indra dan Kuwera sudah babak belur dihantam gada Kala Pracona...mereka dan pasukannya terus merangsek ke Suralaya...bagaimana ini Adi Guru...

Hyang Jagatnata: Kakang Narada...dari wisik Hyang Wenang, kekuatan angkara murka Kala Pracona, tidak bisa dilawan dengan nafsu amarah dan dendam. Hanya jiwa yang murni dari bayi keturunan ksatria, yang bisa meredam nafsu angkara murka yang didasari oleh syahwat Kalapracona pada Supraba.

Narada: Wah, dewa saja kalah..bagaimana bayi malah dimajukan sebagai jago Adi Guru?

Hyang Jagatnata: Bayi bukan sembarang bayi...tapi Jabang Tetuko anak Bima dan Arimbi, yang kelahirannya saja perlu senjata Kunta untuk memutus tali pusarnya. Kemurnian jiwa bayi ini akan melunturkan nafsu angkara murka dari Kala Pracona...karena Kakang, manusia yang menghamba pada syahwatnya tanpa bisa mengendalikan dengan benar akan balik menjadi kanak-kanak yang menemukan mainan baru, susah disadarkan dan maunya dituruti gairahnya, menjadi tidak tahu malu dan pandai mencari pembenaran atas tindakannya. Hanya bayi yang masih sucilah lawan tanding jiwa yang kotor ini Kakang.

Bathara Narada segera turun ke Marcapada, meminjam bayi Jabang Tetuko dari keraton Pringgandani yang baru pupus pusarnya.

Sesampainya di Kahyangan Jonggring Saloka, Jabang Tetuko pun diceburkan ke dalam kawah Candradimuka di Gunung Jamurdipa. Para dewa kemudian melemparkan berbagai jenis senjata pusaka ke dalam kawah tersebut. Beberapa saat kemudian JabangTetuko pun muncul dengan wujud laki-laki dewasa lengkap dengan segala jenis pusaka para dewa-dewa tersebut.

Ia pun dihadiahkan seperangkat pakaian pusaka yaitu Caping Basunanda, Kotang Antakusuma, dan Terompah Padakacarma. Sejak saat itu pula JabangTetuko berganti nama menjadi Gatotkaca. Dengan pakaian tersebut, Gatotkaca pun dapat terbang secepat kilat menuju kerajaan Gilingwesi untuk mengalahkan Kala Pracona.

Gatotkaca: Hoiii Kala Pracona...berhentilah mengamuk...ayo tandingi aku, Gatotkaca dari Pringgandani.

Kala Pracona: Oooiii lhadalah...bocah degleng, berkacalah di beningnya Sungai Yamuna..dewa-dewa penguasa agni dan maruta saja bergelimpangan melawan aku...bagaimana kamu bocah kemarin sore berani menantang Kala Pracona...apa andalanmu...?

Gatotkaca: Ksatria sejati hanya mengandalkan nurani dan kebersihan jiwa melawan nafsu angkara sepertimu...ayo, tandangi aku, biar aku lebur dosa-dosamu yang berani malang kadak menghendaki bidadari menjadi sisihanmu...

Kala Pracona: Oooee lhadalah...sumbarmu memekakkan telinga, Dewi Supraba layak menjadi sisihanku, karena aku raja besar sakti mandraguna...para dewa seharusnya bangga bermenantukan aku, walau denawa tapi kaya raya, pilih tanding tidak ada lawan...

Gatotkaca: Kala Pracona, kesombonganmu itulah yang akan menghancurkan kamu. Bidadari tidak akan mungkin disandingkan dengan mahkluk sepertimu yang sanubarinya dipenuhi kekotoran nafsu duniawi...mari aku hantarkan kamu, lebur dalam kesempurnaan kematianmu.

Keduanya perang sangat seru. Semua dewa dewi menonton perang tanding yang terjadi sangat seru tersebut. Semua berharap Gatotkaca menang dan dapat mengembalikan ketentraman di kahyangan. Akhirnya setelah bertarung sengit 3 hari 3 malam Gatotkaca dapat memenggal kepala Kala Pracona.

Setelah Kalapracona gugur, semangat para Dewa pun bangkit kembali, bersama Gatotkaca mereka mengamuk menyerang pasukan raksasa Gilingwesi yang berakhir dengan tewasnya patih Detya Kala Sekipu.

Kemenangan Gatotkaca ini disambut dengan riang gembira, dan ketika Gatotkaca diwisuda sebagai Rajamuda Pringgondani, para dewa mengirimkan utusannya untuk menyaksikan penobatan agung itu.*

Ira Sumarah Hartati Kusumastuti - kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya