Rabu, 3 Juni 2026
Wisata & Sejarah
Mahabharata

Pernikahan Dewayani

Selasa, 11 November 2014

PADA suatu sore yang hangat, setelah puas bermain di hutan, Dewayani dan putri-putri raja Wrishaparwa, raja para raksasa, pergi mandi di telaga di tepi hutan. Sebelum menceburkan diri, mereka menanggalkan pakaian dan menyimpannya di tepi telaga. Tiba-tiba angin kencang menerbangkan pakaian mereka menjadi satu tumpukan. Akibatnya, terjadilah kekeliruan ketika mereka selesai mandi dan berpakaian. Tanpa sengaja Sarmistha, putri Wrishaparwa, mengenakan pakaian Dewayani. Melihat itu, Dewayani menjadi kesal dan berkata dengan setengah bercanda tentang ketidakpantasan putri seorang murid mengenakan pakaian milik putri gurunya.

Meskipun kata-kata tersebut diungkapkan setengah bercanda, Putri Sarmistha sangat marah dan menanggapi dengan angkuh: "Tidakkah engkau sadar bahwa setiap hari ayahmu tunduk menyembah takzim di depan ayahku yang seorang raja? Bukankah kau putri seorang pengemis yang hidup dengan belas kasih ayahku? Lupakah kau bahwa aku ini putri raja yang dengan murah hati memberi. Lupakah kau bahwa kau hanyalah anak seorang peminta-minta. Lancang benar kata-katamu kepadaku!" Sarmistha terbakar oleh kata-katanya sendiri hingga amarahnya meledak. Saking marahnya, tanpa sadar ia menampar pipi dan mendorong Dewayani hingga jatuh ke dalam sebuah sumur kering. Mengira Dewayani sudah mati, putri raja raksasa itu segera kembali ke istana.

Ternyata Dewayani tidak mati. Ia sangat cemas dan sedih karena tidak dapat keluar dari sumur yang dalam. Kebetulan Maharaja Yayati, seorang keturunan Bharata, yang sedang berburu di hutan itu melewati tempat itu. Karena haus, ia mencari air. Ketika melihat ke dalam sumur, ia melihat sesuatu yang berkilau di dalam sumur. Yayati memperhatikan dengan lebih saksama dan terkejut ketika mendapati ternyata ada seorang putri jelita terbaring di dalam sumur.

Yayati pun berseru: "Siapakah engkau, wahai putri jelita dengan anting-anting berkilau dan kuku bercat merah? Siapakah ayahmu? Keturunan siapakah engkau? Bagaimana engkau bisa jatuh ke dalam sumur?"

Jawab Dewayani: "Hamba putri Resi Sukra. Ayahku tidak tahu aku jatuh ke dalam sumur ini. Tolonglah hamba agar bisa keluar dari sumur ini!" Ia mengulurkan tangan. Yayati langsung menyambut uluran tangan itu dan membantu Dewayani keluar dari sumur.

Dewayani tidak ingin kembali ke ibu kota kerajaan para raksasa. Ia tidak lagi merasa aman tinggal di sana, apalagi jika mengingat perbuatan Sarmistha kepadanya. Karena itu, katanya: "Paduka telah memegang tangan kanan seorang putri. Karena itu, Paduka harus menikahi hamba. Hamba yakin dalam segala hal Paduka pantas menjadi suami hamba."

Yayati menjawab: "Wahai putri jelita, aku ini seorang ksatria dan engkau putri seorang brahmana. Bagaimana mungkin putri Resi Sukra, yang memiliki segala kepantasan untuk menjadi guru bagi seluruh dunia, menjadi istri seorang ksatria sepertiku? Putri jelita, kembalilah pulang." Setelah berkata demikian, Yayati kembali ke ibu kota kerajaannya.

Dewayani tetap menolak pulang. Ia memilih tinggal dalam kedukaan di bawah sebatang pohon.

Resi Sukra mencintai putrinya melebihi cinta pada dirinya sendiri. Setelah sia-sia menunggu kepulangan putrinya yang pergi bermain bersama teman-temannya, ia menyuruh orang untuk mencari putri kesayangannya. Akhirnya, setelah mencari ke mana-mana, utusan itu menemukan Dewayani yang duduk di bawah pohon dalam duka. Matanya sembab karena duka dan amarah. Utusan itu bertanya apa yang sebenarnya terjadi.

Jawab Dewayani: "Kembalilah kepada ayahku dan katakan kepadanya. Aku tidak mau lagi menginjakkan kaki di ibu kota Kerajaan Wrishaparwa."

Resi Sukra sangat sedih mendengar kisah putrinya. Ia segera menemui putrinya.

Katanya, menghibur Dewayani: "Perbuatan kita sendiri yang membuat kita bahagia atau menderita, bukan kebajikan atau kejahatan orang lain." Dengan kata-kata bijak, Resi Sukra berusaha menghibur putrinya.

Tetapi Dewayani menjawab dengan sedih bercampur amarah: "Ayah, biarkan hamba dengan kebaikan dan keburukan hamba sendiri. Semua itu urusan hamba sendiri. Tetapi, jawablah pertanyaan hamba ini, benarkah ayah budak penyanyi yang pekerjaannya hanya menyanjung-nyanjung tuannya? Katanya aku hanyalah anak seorang peminta-minta yang hidup berdasarkan belas kasih orang. Tidak puas menghina, ia menampar dan mendorong hamba hingga jatuh ke dalam sumur. Hamba tidak sudi lagi tinggal di tanah kekuasaan ayahnya." Dewayani menangis tersedu-sedu.

Dengan tenang dan bermartabat, Mahaguru Sukra menjawab: "Anakku, engkau bukan anak 'budak penyanyi' yang pekerjaannya hanya menyanjung-nyanjung tuannya. Ayahmu tidak hidup dengan meminta-minta belas kasih orang lain. Engkau adalah putri seorang resi yang dihormati oleh seluruh dunia. Batara Indra, raja para dewa, tahu betul itu. Wrishaparwa tidak menutup mata pada utang budinya pada ayahmu ini. Tidaklah pantas orang yang bijaksana mengungkit-ungkit kebaikannya sendiri. Bangkitlah, wahai kemilau terindah di antara para perempuan. Kau akan membawa kebahagiaan bagi keluargamu. Bersabarlah dan marilah pulang."

Dalam konteks ini, Begawan Wiyasa memberikan nasihat kepada umat manusia secara umum dengan kata-kata penghiburan Resi Sukra kepada putrinya.

"Orang yang dapat menaklukkan dunia adalah orang yang sabar menghadapi caci maki orang lain. Orang yang dapat mengendalikan emosi ibarat seorang kusir yang dapat menaklukkan dan mengendalikan kuda liar. Dia dapat mengambil jarak dari amarahnya seperti ular yang menanggalkan kulitnya. Hanya mereka yang tidak gentar menghadapi siksaan akan berhasil mencapai apa yang dicitakan. Seperti yang tertulis dalam kitab suci, mereka yang tidak pernah marah jauh lebih mulia daripada orang yang taat menjalankan ibadah selama seratus tahun. Orang yang tidak mampu mengendalikan amarah akan ditinggalkan oleh para pelayan, teman, saudara, istri, anak, kebajikan, dan kebenaran. Orang yang bijaksana tidak akan memasukkan kata-kata anak muda yang penuh emosi ke dalam hatinya."

Mendengar nasihat ayahnya, dewayani menyembah hormat, "Ayah, hamba masih muda. Nasihat ayah masih sulit hamba cerna. Tetapi, sungguh tidak pantaslah hidup bersama dengan orang yang tidak tahu sopan santun. Orang bijaksana tidak akan bersahabat dengan orang yang menjelek-jelekkan keluarganya. Sekaya apapun, jika jahat, ia adalah orang hina yang tidak pantas masuk kasta apa pun. Tidak selayaknya orang yang taat beribadah bergaul bersama mereka. Panas hatiku karena keangkuhan putri Wrishaparwa. Luka yang disebabkan pedang dapat sembuh dalam perjalanan waktu, tetapi sakit hati karena kata-kata yang menusuk akan meninggalkan goresan pedih selamanya."

Gagal membujuk putrinya, Resi Sukra menghadap Raja Wrishaparwa. Sambil menatap tajam ia berkata:

"Walaupun orang tidak akan segera mendapatkan pembalasan atas dosanya, cepat atau lambat dosa itu akan menghancurkan sumber kekayaannya. Kacha, putra Brihaspati, adalah seorang brahmacarin yang telah mengalahkan keinginan badan dan tidak pernah berbuat dosa. Ia melayaniku dengan penuh kesungguhan dan tidak pernah menyimpang dari jalan kebenaran. Para pelayanmu berulang kali membunuhnya, tapi aku menghidupkannya kembali. Aku masih dapat menerimanya. Sekarang, putriku yang memegang teguh susila dicaci maki oleh putrimu, Sarmistha. Bahkan, putriku didorong sampai jatuh ke dalam sumur. Ia tidak tahan lagi tinggal di lingkungan kerajaanmu. Tanpanya aku tidak akan bisa hidup. Maka, aku akan pergi meninggalkan kerajaanmu."

Medndengar itu, raja para raksasa merasa menghadapi masalah besar dan berkata: "Aku telah mengabaikan tuduhan-tuduhan yang ditujukan kepadaku. Jika engkau pergi, aku akan terjun ke dalam api."

Jawab Resi Sukra: "Aku hanya menginginkan kebahagiaan putriku. Aku tidak peduli pada nasibmu dan para raksasa, rakyatmu. Satu-satunya yang kumiliki hanyalah Dewayani. Aku mencintainya melebihi cintaku pada diri sendiri. Jika engkau dapat membujuknya untuk tetap tinggal di kerajaanmu, aku tidak akan pergi."

Maka, pergilah Wrishaparwa dengan diiringkan beberapa pengawal untuk menemui Dewayani. Di hadapan putri, Wrishaparwa menyembah dan memohon supaya Dewayani tidak meninggalkan kerajaannya.

Dewayani bersikeras dan berkata: "Sarmistha yang mengataiku anak seorang peminta-minta harus menjadi dayang dan melayaniku di rumah yang diberikan ayah pada upacara pernikahanku."

Wrishaparwa menerima tuntutan itu dan memerintahkan para pengiringnya untuk menjemput Sarmistha.

Sarmistha mengakui kesalahannya dan menyembah sambil berkata: "Ya, aku bersedia menjadi dayang seperti yang dikehendaki Dewayani. Aku tidak ingin ayahku kehilangan gurunya dan harus membayar mahal untuk kesalahan yang aku lakukan." Dewayani menerima permintaan maaf Sarmistha dan ia kembali ke istana Wrishaparwa bersama ayahnya.

Pada suatu hari, Dewayani bertemu kembali dengan Yayati. Ia mengulangi permintaannya supaya Yayati memperistrinya karena Yayati pernah memegang erat tangannya. Sekali lagi, Yayati menolak. Katanya seorang ksatria tidak diperbolehkan menikahi putri seorang brahmana. Pada akhirnya, mereka pergi kepada Resi Sukra dan mendapatkan restu untuk menikah. Ini perkawinan pratiloma, yang didasarkan pada pertimbangan luar biasa.

Mereka menguntai kebahagian selama bertahun-tahun. Sarmistha menepati janjinya menjadi dayang. Suatu hari, diam-diam Sarmistha menemui Yayati dan memintanya untuk menikahinya. Yayati tidak kuasa menolak dan mereka menikah tanpa sepengetahuan Dewayani.

Akhirnya, Dewayani mengetahui pernikahan itu. Ia marah besar dan mengadu kepada ayahnya. Resi Sukra berang, lalu mengutuk Yayati sehingga ia kehilangan kemudaannya.

Demikianlah, Yayati tiba-tiba menjadi orang tua ubanan di usia yang masih bergelora dengan kemudaan. Yayati mohon ampunan kepada Resi Sukra. Mengingat kebaikannya dulu menolong putrinya yang terjatuh ke dalam sumur, Resi Sukra melunakkan kutukannya.

Katanya: "Wahai Tuanku Raja, engkau akan kehilangan kemegahan masa muda. Kutukanku tidak dapat dibatalkan, tapi jika Tuanku bisa membujuk orang supaya bersedia menukar kemudaannya dengan ketuaanmu, engkau akan mendapatkan kemudaanmu kembali." Kemudian, resi itu memberkati Yayati dan pamit pergi.* C. Rajagopalachari/"Kitab Mahabharata" - kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya