Rabu, 3 Juni 2026
Wisata & Sejarah
Mahabharata

Yayati

Kamis, 13 November 2014

MAHARAJA Yayati adalah salah satu moyang Pandawa. Ia tidak pernah mengenal kata kalah. Ia selalu menjalani ajaran kitab-kitab suci sastra. Tidak pernah putus, ia menyembah para dewa dan menghormati nenek moyang. Ia masyhur sebagai penguasa yang mengabdi untuk kesejahteraan rakyatnya.

Tetapi, seperti yang telah diceritakan sebelumnya ia menjadi renta sebelum waktunya. Karena kesalahan pada istrinya, ia terkena kutuk Resi Sukra. Menurut penggambaran pengarang Mahabharata: "Yayati menjadi tua renta. Keelokan masa mudanya musnah dan hidupnya menjadi sengsara." Kita bisa membayangkan betapa beratnya kedukaan yang dialami anak muda yang tiba-tiba menjadi tua renta. Ketika gairah menikmati hidup masih menggelora, tiba-tiba seluruh kemampuan untuk menikmatinya hilang lenyap, tinggal sisa-sisa kenangan yang justru menambah kepahitan.

Lebih buruk lagi, Yayati, yang kehilangan kemudaan, sebenarnya masih belum puas menikmati hangatnya asmara. Ia mempunyai lima putra. Semuanya tampan, berbakti, dan pandai. Yayati memanggil mereka semua. Dengan sangat memelas, ia meminta mereka supaya menolongnya. Katanya: "Kakek kalian, Mahaguru Sukra, mengutukku sehingga aku menjadi tua sebelum waktunya. Padahal, aku belum puas mereguk kenikmatan duniawi. Sejak dulu, aku hidup dengan mengekang hawa nafsu, menyangkal kesenangan duniawi meskipun sebenarnya diperbolehkan kitab-kitab suci. Karena itu, salah satu dari kalian seyogyanya mau membantu memikul bebanku, dengan mengambil ketuaanku dan menukarnya dengan kemudaan kalian. Siapa di antara kalian yang bersedia menolongku akan kuangkat menjadi raja negeri ini. Aku ingin menikmati hidup dengan gelora gairah orang muda.

Pertama, ia bertanya kepada putra sulungnya. Putra sulung menjawab: "Oh, Ayahanda Raja, para perempuan dan dayang-dayang akan mencemooh Ananda jika Ananda menukar kemudaan Ananda dengan ketuaan Ayahanda Raja. Ananda tidak sanggup menolong. Coba tanyakan pada adik-adik. Bukankah mereka putra kesayangan Ayahanda?"

Ketika menghadap, putra kedua menolak dengan halus: "Ayahanda, Paduka meminta Ananda menjadi tua. Itu berarti Ananda akan kehilangan tidak hanya seluruh kekuatan, ketampanan, tapi juga --menurut Ananda-- kebijaksanaan. Ananda tidak sanggup menerimanya."

Putra ketiga menjawab: "Orang yang sudah tua tidak bisa naik kuda atau gajah. Bicaranya gemetar. Apa yang masih bisa Ananda lakukan dengan ketidakberdayaan seorang tua? Ananda tidak bersedia menerima."

Raja Yayati marah mendengar penolakan ketiga putranya. Tetapi, ia masih punya harapan pada putranya yang keempat. Katanya: "Maukah engkau mengambil ketuaanku. Jika engkau bersedia memberikan kemudaanmu denganku, aku akan segera mengembalikannya. Aku akan mengambil kembali ketuaanku dan membuatmu menjadi muda kembali."

Tetapi putranya yang keempat meminta maaf dengan sangat. Ia tidak bisa memenuhi permintaan ayahnya. Putra keempat tahu dengan menjadi tua, ia akan tergantung pada orang lain, bahkan hanya untuk membersihkan badan. Karena itu, meskipun ia sangat mencintai ayahnya, ia tidak sanggup memenuhi permintaan ayahnya.

Yayati sangat sedih dengan penolakan keempat putranya. Tetapi, masih ada satu harapan. Ia memohon kepada putra bungsunya yang selama ini tidak pernah menolak keinginannya. Katanya: "Engkau harus menolong Ayahanda. Ayahanda menderita dengan kutukan ini, dengan ketuaan, keriput, rambut yang memutih, dan ketidakmampuan Ayahanda. Hukuman ini terlalu berat bagi Ayahanda. Jika engkau bersedia menukar kemudaanmu, Ayahanda akan dapat menikmati masa muda Ayahanda untuk beberapa saat kembali. Setelah puas, Ayahanda akan segera mengambil kembali ketuaan Ayahanda dan semua kedukaannya. Jangan engkau tolak permintaan Ayahanda seperti saudara-saudaramu."

Puru, putra bungsu, tergerak oleh rasa cinta yang mendalam pada orang tuanya. Katanya: "Ayahanda, dengan senang hati akan Ananda berikan kemudaan Ananda, sehingga Ayahanda bisa terbebas dari kedukaan usia tua dan beban memerintah kerajaan. Ambillah kemudaan Ananda dan selamat menikmatinya." Mendengar jawaban itu, ia langsung memeluk putra bungsunya.

Begitu menyentuh putra bungsunya, Yayati jadi kembali muda. Sebaliknya, puru menjadi tua. Kemudian Puru memerintah kerajaan dan menjadi masyhur.

Yayati menikmati hidup dalam waktu yang lama dan tidak pernah dapat merasa puas. Ia pergi ke taman Kubera dan tinggal di sana selama bertahun-tahun bersama para perempuan penghibur. Setelah bertahun-tahun melampiaskan nafsu ragawi, akhirnya ia sadar. Yayati kembali ke kerajaan dan menemui Puru. Katanya:

"Putraku terkasih, sekarang Ayahanda sadar. Ternyata nafsu birahi tidak dapat dipadamkan dengan melampiaskannya. Itu seperti memadamkan api dengan menyiramkan minyak. Ayahanda sudah mendengar dan membaca ajaran itu sejak muda, tapi baru sekarang Ayahanda menyadarinya. Tidak ada yang dapat memuaskan keinginan manusia --apakah itu hasil panen, emas, ternak, atau perempuan. Hanya keseimbangan jiwa, yang mengatasi rasa suka dan tidak suka, yang dapat mengantarkan manusia pada kedamaian. Inilah yang disebut kedamaian sejati. Ambillah kembali kemudaanmu. Perintahlah kerajaan dengan kebijaksanaan dan kebenaran."

Setelah berkata demikian, Yayati mengambil kembali ketuaannya. Puru, yang mendapatkan kembali kemudaan, dinobatkan menjadi raja oleh Yayati. Yayati sendiri pergi mengasingkan diri ke hutan. Di hutan, ia bertapa dan sampai kemudian kembali ke surga.* C. Rajagopalachari/"Kitab Mahabharata" - kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya