Patih Gandamana
PRABU Gandabayu dari kerajaan Pancala, sedang berdialog dengan putranya Raden Gandamana tentang rencana sayembara mencarikan jodoh bagi putrinya, Dewi Gandawati.
Gandabayu: Anakku ngger Gandamana, apakah menurutmu tindakan Bapa untuk membuat sayembara ini cukup bijak?
Gandamana: Tentu Rama, sebenarnya jauh di hati kecil hamba...hamba akan lebih ikhlas dan bahagia, jika mbakyu Gandawati dapat diperistri oleh guru yang sangat hamba hormati yaitu Prabu Pandu Dewanata.
Gandabayu: Kenapa tidak kamu sampaikan keinginanmu itu pada beliau...apakah mbakyumu kurang cantik?
Gandamana: Itulah yang hamba kagumi pada sosok Prabu Pandu, beliau tidak serakah pada harta, tahta dan wanita. Dengan kesaktian dan kebesarannya, beliau hanya mau bersanding dengan Dewi Pritha Kunti dan Dewi Madrim yang sudah didapatkannya dalam sayembara...beristri dua putri pilihan itu suratan takdirnya, saat cintanya bertaut pada Pritha Kunti...Narasoma menyodorkan adiknya untuk menutupi kehormatannya atas kekalahan pada sayembara Pritha, dan Prabu Pandu menerimanya atas seijin Pritha...sungguh saya mengagumi guru saya yang selalu menjaga perasaan istri dan keluarganya...
Akhirnya sayembara mencari jodoh bagi Gandawati pun digelar. Gandamana mengumumkan, siapapun yang berhasil mengalahkannya akan berhak menyunting Gandawati dan bertahta di kerajaan Pancala. Gandamana melepaskan haknya sebagai putra mahkota Pancala dan akan mengabdi sebagai Patih Hastinapura bergabung dengan Pandudewanata, guru yang sangat dihormatinya.
Sayembara memperebutkan Gandawati berjalan dengan seru, banyak raja-raja tumbang kalah telak oleh Gandamana yang sakti. Akhirnya majulah Sucitra menantang Gandamana. Dengan memakai sumping (hiasan telinga) milik Pandu, Sucitra berhasil mengalahkan Gandamana. Sucitra pun resmi menjadi suami Gandawati, dan bertahta di kerajaan Pancala dengan gelar Prabu Drupada, sedangkan Gandamana mengabdi kepada Pandu sebagai patih Kerajaan Hastina.
Pada suatu hari datanglah utusan Prabu Tremboko (Raja Pringgondani), ke Hastinapura untuk menyampaikan surat persahabatan, mereka bertemu dengan Haryo Suman dan menitipkan surat tersebut agar diberikan kepada prabu Pandudewanata.
Haryo Suman menghaturkan surat Prabu Tremboko pada Pandu, tapi isinya telah diubah bahwa Prabu Tremboko menantang perang. Pandu tak gegabah menyikapinya, diutuslah Patih Gandamana untuk membawa misi damai ke negara Pringgondani.
Saat Patih Gandamana berangkat, Haryo Suman diam-diam mengerahkan Kurawa lebih dahulu ke Pringgondani dan mengirim surat balasan tantangan perang kepada Prabu Tremboko. Patih Gandamana tidak mengira telah terjadi penyerangan ke Pringgondani oleh Kurawa yang digerakkan oleh Haryo Suman. Akhirnya Gandamana diserang oleh pasukan Pringgondani dari depan dan pasukan Kurawa dari belakang. Gandamana tidak melakukan perlawanan.
Gandamana akhirnya dengan mudah dijebak dan dimasukkan ke dalam luweng (lubang tanah yang dalam). Kemudian Haryo Suman memerintahkan Duryudana untuk menimbun Gandamana.
Melihat Gandamana tidak melawan, Raja Tremboko kemudian menolong Gandamana dan meminta penjelasan mengenai apa yang sebenarnya terjadi. Agar masalahnya menjadi jelas Prabu Tremboko kemudian menyerahkan surat palsu Pandudewanata yang dibuat Haryo Suman kepada Gandamana sebagai bukti.
Sementara itu, Haryo Suman telah kembali ke Hastinapura, melaporkan bahwa Gandamana telah gugur dikeroyok oleh pasukan Pringgondani. Akhirnya Haryo Suman diangkat menjadi patih oleh Pandudewanata. Sebuah kebijakan yang terburu-buru. Kesembronoan Pandudewanata berlanjut dengan memimpin pasukan menyerang Pringgondani, sebagai upaya membalas kematian Gandamana.
Ketika Raja Pandu perang tanding melawan Raja Tremboko dan masing-masing menggunakan keris pusaka, raja Pandu dengan keris Pulanggeni sedangkan Tremboko dengan Kolonadah. Tremboko tewas seketika tertusuk Pulanggeni, ketika Pandu menginjak Tremboko yang telah tewas tersebut ia masih memegang Kolonadah tak sengaja kaki Raja Pandu kesangkut keris Kolonadah menyebabkan sakit terkena upas keris tersebut. Pasukan Hastinapura pulang dengan kemenangan namun membawa Rajanya yang gering.
Di saat yang hampir bersamaan Gandamana kembali ke Hastinapura, namun di tengah jalan ditemui oleh Widura. Dijelaskan bahwa Haryo Suman melaporkan Gandamana telah gugur dan kini Haryo Suman diangkat menjadi patih. Gandamana murka mendengar kelicikan itu, dia menghajar Haryo Suman hingga babak belur. Jadilah tubuhnya hancur, wajahnya menjadi jelek, mulutnya merot, matanya rembes, rusaknya wajah Haryo Suman membuatnya disebut sebagai Sengkuni (Sengkuni = Saka ‘dari’ Uni ‘kata-kata’ …rusaknya wajahnya karena kata-2nya). Sengkuni mengadukan kejadian ini kepada kakaknya, Dewi Gandari, yang segera menyampaikannya pada Pandu yang sedang sakit. Prabu Pandudewanata marah melihat perlakuan Gandamana. Akhirnya Gandamana menerima kemarahan Pandu, diapun kembali ke kerajaan Pancalaradya, mendampingi Drupada sebagai Patih Pancala.
Setelah kepergian Gandamana, Widura melapor kepada Pandu apa yang sebenarnya terjadi. Surat palsu Haryo Suman/Sengkuni kepada Prabu Tremboko dibaca oleh Pandudewanata.Prabu Pandu menyesal telah terburu-buru memecat Gandamana.
Pandu: Duh yayi Widura, katiwasan temen yayi…mengapa aku begitu gegabah membalas kesetiaan Gandamana?
Widura: Ya kakang, kelicikan Sengkuni sudah melewati batas, dia menghalalkan segala cara untuk menyingkirkan siapapun yang merintangi jalannya menggapai martabat.
Pandu: Yayi Widura, sepertinya waktuku sudah tidak akan lama lagi…racun keris prabu Tremboko aku rasakan sudah menjalar ke seluruh darahku. Jadilah suluh untuk mengawasi Hastinapura. Kerajaan ini akan aku serahkan pada Kanda Destarasta, karena anak-anakku masih kecil-kecil. Biarlah beliau menjadi raja mewakili anak-anakku.
Kesedihan yang dalam dan penyesalannya melepaskan patih yang setia membuat Pandu merana dan menambah parah penyakitnya. Pandu melepaskan haknya sebagai raja, masuk ke sanggar pamujan untuk mawas diri, atas banyak kesalahan yang telah dilakukannya. Pandu bertobat, dan terus mendekatkan diri pada Sang Khalik.
Akhirnya Pandu mangkat setelah sempat melaksanakan hasratnya pada Madrim istrinya melanggar kutukan Resi Kimindana yang dahulu terbunuh oleh panah Pandu saat berkasih mesra dengan istrinya dalam wujud sebagai kijang.*
Ira Sumarah Hartati Kusumastuti - kisuta.com


