Rabu, 3 Juni 2026
Wisata & Sejarah
Wayang

Bambang Irawan

Minggu, 16 November 2014

PADA hari yang sama saat Kresna menjadi duta Pandawa, di tengah hutan Selamangleng, Irawan putera Arjuna bersama para punakawan Semar, Gareng, Petruk dan Bagong sedang dalam perjalanan ke negeri Wirata. Dari mimpi Ibundanya Dewi Ulupi, Irawan tahu bahwa Bharatayuda tidak terelakkan lagi, karena itulah dia ingin mengabdikan tenaganya pada Ayah dan keluarganya Pandawa.

Tak disangka-sangka seorang raksasa langsung menyerang Irawan. Irawan terkejut dan tidak bisa berbuat apa-apa. Tiba tiba saja raksasa itu menangkap dan menggigit leher Irawan, Untung Irawan ingat dalam bahaya, ia segera menarik pusaka kerisnya, dan menusuk jantung raksasa yang menyerangnya. Irawan berhasil membunuh raksasa itu. Peristiwa itu terjadi dalam tempo singkat. Kini Irawan dalam keadaaan sekarat, karena gigitan raksasa itu berbisa. Para punakawan membawanya ke keraajaan Wirata.

Sesampainya di Wirata, Prabu Kresna dikejutkan isakan tangis Arjuna dan saudara-saudaranya sehubungan dengan gugurnya Bambang Irawan, anak Arjuna dengan Dewi Ulupi cucu Begawan Naga Korawa. Bambang Irawan tewas dalam perjalanan menuju Wirata. Sri Kresna sangat sedih, karena Bunga Wijaya Kusuma sedang tidak ada di tangannya, sehingga Bambang Irawan tidak dapat dihidupkan lagi.

Semar, sebagai sesepuh para Pandawa, dan juga seorang dewa, menerangkan riwayatnya,.raksasa bernama Kala Srenggi yang telah membunuh Irawan.

Semar: Ngger para bandara sekalian, alkisah 20 tahunan yang lalu. Dimulai dari Kerajaan Selamangleng, seorang raja raksasa bernama Jatagimbal jatuh cinta pada Dewi Sembadra. Karena cintanya tidak bisa dipadamkan, Prabu Jatagimbal merubah dirinya menjadi Raden Arjuna... niatnya ingin memadu kasih dengan Dewi Sembadra.

Sementara itu adik Prabu Jatagimbal, Dewi Jatagini. Dewi Jataginipun berubah ujud menjadi Dewi Sembadra, karena cintanya yang tidak tertahankan pada Raden Arjuna, Dewi Wara Sembadra palsu ini kemudian menempatkan diri di taman Madukara, menantikan kehadiran Raden Arjuna.

Syahdan, Arjuna jelmaan Jatagimbal telah mendatangi Dewi Jatagini, Mereka saling menikmati cinta yang sudah lama terpendam.

Sementara itu Arjuna asli datang pula ke taman. Arjuna merasa hancur hatinya melihat Dewi Sembadra, istrinya sedang melakukan perbuatan yang tidak terpuji, walaupun Arjuna sering mengkhianati istrinya dengan memadu kasih pada banyak wanita, ternyata melihat tubuh molek istrinya digerayangi laki-laki lain dengan begitu bernafsu, menggigil bulu romanya. Tanpa pikir panjang lagi Arjuna menghunus keris, dihunjamkannya keris Kyai Pulanggeni ke dada orang yang mirip dengan dirinya.

Sekali hunjaman keris pusaka Kyai Pulanggeni, tewaslah ia, Arjuna terkejut, ketika melihat orang yang mirip dengannya, berubah menjadi seorang raksasa.

Kini Arjuna melihat istrinya sedang tergolek di tempat tidur, darah Arjuna bagai mengalir desas di tubuhnya, segera diseretnya, orang yang dikira istrinya, dan dihajarnya.

Tiba tiba saja orang yang dikira istrinya berubah menjadi seorang raseksi..Ia ternyata, Dewi Jatagini adik Jatagimbal yang ssudah terbunuh sebelumnya.

Dewi Jatagini sadar kalau yang dipeluk semalaman itu, ternyata bukan Arjuna, melainkan kakaknya...Sekarang kakaknya telah tewas dibunuh Arjuna. Jaatagini menjerit meraung-raung dalam kekecewaan, dendam dan amarah..tidak merelakan kematian kakaknya, maka ia bersumpah akan membaalaskan kematian kakaknya, Arjuna dan semua keturunannya. Sumpah itu telah terbayar dengan tewasnya Irawan oleh putera Jatagini, yaitu Prabu Kala Srenggi.

Melihat keadaan Irawan yng ditangisi oleh para kadang Bharata Pandawa, membikin Prabu Kresna tersayat-sayat hatinya. Bambang Irawan adalah menantunya karena dia menikah dengan Dewi Titisari putrinya. Kresna tidak bisa menghidupkan kembali Irawan itu, walaupun sebenarnya kematiannya di luar garis pepesten belum kehendak Dewa. mengingat pusaka Wijaya Kusuma sudah diambil dewa. Sehingga Bambang Irawan tidak bisa ditolong.

Setelah acara perabuan selesai, Prabu Kresna menyarankan Prabu Puntadewa untuk mulai sekarang menyiapkan Perang Bharatayuda dengan sebaik-baiknya. Pihak Pandawa memerlukan bantuan pasukan dari negeri sahabat, Untuk itu maka Prabu Puntadewa melayangkan beberapa pucuk surat kepada raja-raja sahabat Pandawa. Para raja sahabat dimintanya mengirim bantuan pasukan dalam melawan kezaliman Prabu Suyudana.*

Ira Sumarah Hartati Kusumastuti - kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya