Cupumanik Gambar Jagat
HENING sunyi. Angin berhenti berbisik gemerisik dedaunanpun senyap ketika taruna muda Bambang Wisanggeni menghadap Ibundanya Dewi Dresanala bidadari Argadhahana, menyatakan keinginannya mempersunting Dewi Mustikawati dari kerajaan Sonyapura.
Dresanala: Anakku ngger Wisanggeni...sudahkah kau pikirkan matang-matang keinginanmu mempersunting Dewi Mustikawati...ingat Ngger, walaupun engkau putra Harjuna, namun engkau hanya hidup dengan Ibu...dan Dewi Mustikawati itu sudah dilamar oleh Sitija atau Prabu Bomanarakasura putra Dewi Pertiwi dengan Prabu Kresna...
Wisanggeni: Apa masalahnya Ibu kalau sudah dilamar kakang Sitija? Aku tidak gentar...Kakang Sitija ibunya Bidadari, Ibukupun Bidadari...kalau Dewi Mustikawati sampai diperebutkan dua jejaka anak bidadari, bukankah itu perlambang bahwa gadis ini bukan sembarangan Ibu? Makin kuat keinginanku mempersunting Dewi Mustikawati...berikan saja doa restumu Ibu. Sisanya biar aku sendiri yang berusaha.
Di Kerajaan Sonyapura Prabu Mustikadarwa menerima utusan Prabu Bomanarakasura dan Bambang Wisanggeni yang sama-sama meminang Dewi Mustikawati.
Untuk menentukan siapa yang berhak memboyong Dewi Mustikawati, maka diadakan sayembara tanding antara keduanya. Pertarungan antara keduanya pun tidak dapat dihindarkan.
Dua hari dua malam kedua ksatria pilih tanding ini bertempur, kesaktian keduanya tak ada bandingannya, karena keduanya keturunan dewa, hal ini membuat Prabu Mustikadarwa cemas, sang prabu takut pertarungan ini bisa berakibat retaknya persaudaraan negeri Dwarawati dan negeri Amarta. Maka agar tidak jatuh korban, sang prabu menghentikan perang tanding antara keduanya dan Dewi Mustikawati pun mengubah sayembaranya, barang siapa yang bisa memberikan cupumanik gambar jagat, ia akan bersedia menjadi istrinya.
Bomanarakusuma segera ke negeri Dwarawati untuk memohon bantuan ayahandanya, Prabu Kresna agar dapat mendapatkan cupumanik gambar jagad. Sedangkan Raden Wisanggeni pergi ke kahyangan dengan diantar Raden Antasena, putra Raden Werkudara untuk menghadap Sang Hyang Wenang meminta petunjuk di mana cupumanik gambar jagat berada.
Hyang Wenang: Ooo, kulup wayah ingsun Wisanggeni lan Antasena...kadingaren kulup berdua datang di Kahyangan Awang-awang Kumitir...ada apa ini...
Antasena: Eyang aku hanya mengantarkan Adimas Wisanggeni kok Eyang...
Wisanggeni: Ya Eyang...tanpa tedeng aling-aling aku datang untuk meminta Cupumanik Gambar Jagat yang Eyang simpan, sebagai syarat yang diminta calon istriku Dewi Mustikawati, Eyang...
Hyang Wenang: Ooo ngger Wisanggeni watakmu yang blaka suta, blak-blakan sebenarnya malah menghemat waktu untuk tahu berhasil atau tidaknya usahamu.
Wisanggeni: Jadi Eyang setuju. Aku bisa membawa Cupumanik Gambar Jagat?
Hyang Wenang: Tidak semudah itu Wisanggeni, ada balasannya...Cupumanik Gambar Jagat adalah pusaka dewa untuk melihat situasi mayapada, di manapun, kapanpun semua yang dikehendaki akan terlihat...bisa kamu bayangkan jika pusaka sehebat ini dipakai secara sembarangan.
Wisanggeni: Jiwa Ragaku sebagai jaminannya Eyang...akan aku dampingi Yayi Mustikawati mempergunakan pusaka itu...pasti tidak akan disalahgunakan.
Hyang Wenang: Wisanggeni dan Antasena...kalian berdua adalah ksatria pilih tanding...Antasena dengan telapak tangannya bisa membalikkan bumi...sementara engkau Wisanggeni ludahmu bisa menyemburkan api yang mampu membakar apa saja...dengan kesaktian semacam itu, ditambah memiliki benda-benda pusaka dewa...tandang kalian akan membuat Baratayudha tidak seimbang...
Wisanggeni: Jadi ....apa maksud Eyang...langsung saja sampaikan...aku dan Kakang Antasena siap mendengarkan...
Hyang Wenang: Wisanggeni....akan aku pinjamkan Cupumanik Gambar Jagat untuk memenangkan sayembara mendapatkan Dewi Mustikawati. Namun ingatlah Kulup...Engkau dan Antasena, tidak boleh terlibat dalam perang Bharatayuda Jayabinangun, kalian berdua harus moksa sebelum perang itu terjadi...dengan demikian keadilan dapat ditegakkan. bagaimana kulup? Bersediakah kalian berdua?
Senyap seketika, dua mata yang berbinar saling berpandangan...tanpa kata-kata mereka menyadari sabda Sanghyang Wenang adalah tuntutan tertinggi untuk nilai kebenaran, keadilan dan keikhlasan...Antasena beringsut menggenggam tangan Wisanggeni, tarikan alisnya menunjukkan dukungannya pada keputusan apapun yang akan diambil sepupunya. Inilah bukti kasih sayang dua bersaudara, yang saling memahami kemurnian sikap dan sejatinya jiwa ksatria.
Wisanggeni: Baik Eyang...kami menyetujui permintaan Eyang, kami akan moksa kembali ke keabadian bersama Eyang sehari sebelum Bharatayuda Jayabinangun terjadi. Untuk mengingatkan kami akan waktu yang terpilih, kirimkanlah Bathara Kresna untuk menemui kami di pinggir Kurusetra pada masa tersebut Eyang.
Sanghyang Wenangpun lega dengan keputusan mereka, permintaan Wisanggeni disanggupi dan Cupumanik Gambar Jagat diserahkan pada Wisanggeni.
Raden Wisanggeni akhirnya dinyatakan menang dan berhak mengambil Dewi Mustikawati sebagai istrinya. Sedangkan Raden Sitija kecewa dengan kekalahannya. Oleh Prabu Kresna, Raden Sitija dinasehati bahwa Dewi Mustikawati memang bukan jodohnya, nasib, kelahiran dan kematian serta jodoh seseorang sudah ada rahasia dewa dan dewalah yang menentukan.
Alkisah sehari sebelum Bharatayuda, Prabu Bathara Kresna, bertemu dengan Antasena dan Wisanggeni untuk melaksanakan janjinya di hadapan Sanghyang Wenang.
Kresna : (terharu) Anak-anakku Antasena dan Wisanggeni...apakah kalian sudah siap?
Wisanggeni: Apa yang harus disiapkan Uwa Prabu...ini adalah kesanggupan, kalau kami sudah sanggup apapun yang ada pada jiwa raga kami adalah bentuk kesiapan itu sendiri.
Antasena: Uwa, yang kami yakini hanyalah kebenaran sejati. Saat bertemu dengan Eyang Sanghyang Wenang, kebenaran atas diri kami berdua menyatakan, tidak akan ada manusia yang sanggup menahan kesaktian kami...kalau demikian halnya apa gunanya peperangan?
Kresna: Oo Ngger...bukankah itu yang diandalkan manusia untuk mencapai hasratnya...keunggulan, kesaktian, kemampuan semua dipakai untuk mencapai tujuannya....
Antasena: Segala keunggulan itu Uwa, kalau diterapkan membabi buta tanpa landasan kebenaran dan keseimbangan akan menjadi Aji Mumpung...di situlah awalnya ketidakadilan...karena mereka pemakai Aji Mumpung itu akan menggilas rakyat dan manusia lain yang tidak memiliki aneka kelebihan tadi Uwa....tidak kami tidak menghamba pada Aji Mumpung Uwa...
Kresna: (Merangkul keduanya...suaranya mulai tersendat)...Anak-anakku..ngger Antasena dan Wisanggeni...berat sekali Uwa harus melepas kepergian kalian...dua ksatria utama dengan kebijakan serupa dewa....Baiklah anak-anakku...semoga perjalanan kalian menuju keabadian sejati, dipenuhi aroma surgawi yang memang menjadi hak kalian untuk menerimanya...
Wisanggeni: Pesanku Uwa...Peperangan adalah usaha terakhir untuk membersihkan Marcapada dari yang bathil menuju keadilan...banyak korban akan terjadi, ikhlaskanlah...dan jika peperangan sudah usai...tatalah dengan sujud hanya pada Pemberi Hidup...mulailah menanam tunas yang benar dan merawatnya dengan benar pula...karena jika tidak..apa artinya pengorbanan itu? Hanya akan mengulang cerita dan menghadirkan perang yang lebih besar menuju kehancuran umat manusia.
Sri Bathara Kresna sudah tidak mampu menjawab perkataan terakhir Wisanggeni...di hadapannya, dilihatnya tubuh Antasena makin menyusut mengecil sampai akhirnya hilang dari pandangan matanya. Raden Wisanggeni menelan sendiri ludahnya, tubuhnya terbakar menjadi abu menyebarkan wangi seribu bunga dan hilang tertiup angin.*
Ira Sumarah Hartati Kusumastuti - kisuta.com


