Rabu, 10 Juni 2026
Wisata & Sejarah
Mahabharata

Kematian Pandu

Rabu, 19 November 2014

PADA suatu hari, Raja Pandu pergi berburu di hutan. Di hutan, ada seorang resi yang asyik bercengkrama dengan istrinya dengan menyamar sebagai sepasang kijang. Pandu sama sekali tidak menyangka sepasang kijang itu adalah penjelmaan seorang resi dan istrinya. Ia membidik kijang jantan dengan panahnya. Dalam keadaan sekarat, resi mengutuk Pandu: "Hai Pendosa, kau akan menemui kematian ketika sedang menikmati olah asmara."

Kutukan itu membuat Pandu sangat sedih. Kemudian, ia memutuskan untuk mengasingkan diri ke hutan bersama dengan istri-istrinya. Ia percayakan kerajaannya kepada Bhisma dan Widura. Di hutan, ia menjalani tapa brata untuk menyucikan diri. Menyadari bahwa sebenarnya suaminya menginginkan keturunan tetapi tidak bisa berbuat apa-apa karena kutukan resi itu, Dewi Kunti menceritakan mantra sakti yang ia terima dari Resi Durwasa.

Pandu mendesak kedua istrinya untuk menggunakan mantra itu. Maka, demikianlah kelima Pandawa lahir di hutan. Pandawa merupakan pemberian dewa kepada Dewi Kunti dan Dewi Madri. Mereka lahir dan dibesarkan di hutan bersama para petapa. Selama bertahun-tahun, Raja Pandu di hutan bersama para istri dan anak-anaknya.

Waktu itu adalah musim semi. Dan suatu hari, Pandu dan Dewi Madri lupa pada kesedihan mereka. Alam sekitar memancarkan gairah, bunga-bunga bermekaran, tanaman bersemi, burung-burung berkicau, aneka margasatwa memancarkan gairah hidup. Meskipun Madri berulang kali menolak, Pandu tidak kuasa menahan undangan kegairahan alam dan terjadilah kutukan itu. Pandu roboh dan meregang nyawa.

Madri tidak dapat menahan kesedihannya. Karena merasa berdosa atas kematian suaminya, ia terjun ke dalam api yang digunakan untuk membakar suaminya. Sebelumnya, ia percayakan kedua anak kembarnya, kepada Dewi Kunti.

Para petapa membawa Dewi Kunti dan anak-anaknya yang dilanda rasa kehilangan dan kedukaan yang mendalam kembali ke Hastinapura. Merka menyerahkan ibu dan anak-anak itu kepada Bhisma. Pada waktu itu, usia Yudhistira enam belas tahun.

Ketika para petapa tiba di Hastinapura dan melaporkan kematian Pandu, seluruh kerajaan dilanda kedukaan yang mendalam. Widura, Bhisma, Destarata, dan pemuka kerajaan yang lain segera menyelenggarakan upacara kematian. Semua orang di kerajaan itu merasa sangat kehilangan Pandu.

Begawan Wiyasa berkata kepada Setyawati, nenek Pandu: "Masa lalu telah berlalu dengan menyenangkan, tetapi masa depan akan menanti dengan kedukaan yang menyakitkan. Dunia telah melewati kegairahan orang muda seperti mimpi indah dan sekarang akan memasuki zaman kepahitan, kedukaan, dan penderitaan. Waktu terus berjalan. Engkau tidak perlu menunggu untuk menyaksikan kemalangan-kemalangan yang akan menimpa anak-anak keturunanmu. Sebaiknya engkau meninggalkan Hastinapura dan bertapa di hutan."

Setyawati menerima nasihat Begawan Wiyasa dan bersama dengan Ratu Ambalika dan Ratu Ambika pergi ke hutan. Ketiga ratu yang telah lanjut usia itu menjalani tapa brata untuk menyucikan diri dan mendoakan keturunan mereka supaya terhindar dari kedukaan.* C. Rajagopalachari/"Kitab Mahabharata" - kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya