Rabu, 3 Juni 2026
Wisata & Sejarah
Wayang

Gatotkaca, Raja Muda Pringgondani

Jumat, 21 November 2014

GIGI Brajadenta gemeretak, tangannya mulai mengepal, udara di taman Hastinapura terasa panas, saat amarah menggelegak. Sebenarnya kedatangan Brajadenta ke Hatinapura hanyalah untuk menyampaikan undangan, bahwa kerajaan Pringgondani akan mewinisuda Gatotkaca sebagai raja muda Pringgondani. Namun, di taman itu Pandita Durna dan Sengkuni terus menghasutnya.

Begawan Durna dan Sengkuni mengotori hati dan pikiran Brajadenta, bahwa dialah sebenarnya yang berhak memegang tampuk kerajaan Pringgondani, bukannya Gatotkaca yang hanya anak dari kakak perempuannya Arimbi. Begawan Durna menceritakan bagaimana perang dengan ayah Pandawa (Prabu Pandu), menewaskan Prabu Tremboko ayah dari Brajadenta. Kemudian ditambah cerita patih Sengkuni tentang Werkudoro yang membunuh kakak mereka tertua Prabu Arimba. dan memanas-manasi bahwa Arimbi malah membelot menikah dengan Werkudoro.

Durna: Anakmas Brajadenta, jangan mau kalah dengan anak muda yang belum punya pengalaman. Saat ini engkaulah panglima tertinggi Pringgondani, kesaktianmu ngedap-edapi, pengalaman tempurmu luarbiasa...Engkaulah yang lebih berhak atas tahta itu.

Sengkuni: Heh heh heh...sudahlah, bikin saja pemerintahan tandingan...kumpulkan para detya dan panglimamu...engkau nobatkan dirimu sebagai raja tandingan...kami akan mendukungmu sebagai koalisi..heheheheh...

Brajadenta: Ggrrhhhh...babo babo iblis laknat pada gegojegan...benar Paman, baru terbuka mataku...selama ini aku sudah dibodohi, diminta oleh mbakyu Arimbi untuk menurut, dan berjanji setia pada si Gatot...ggrrrchhh...

Niat Brajadenta untuk merebut tahta Pringgondani ditentang adik-adiknya, terutama Brajamusti dan Kalabendana. Karena mereka telah terikat oleh sumpah, maka mereka harus netepi kautamaning ksatria.

Brajamusti: Kakang Brajadenta, ingat Kakang...kita ini denawa, wajah kita jelek postur tubuh kita mengerikan, tapi seperti kata mbakyu Arimbi jiwa kita ini jiwa ksatria....jangan kacaukan itu dengan mendengarkan hasutan Sengkuni...

Kalabendana: Lagipula Kakang...Raja Tandingan itu apa sih? Kok ngayawara..kalau kita mengaku sebagai pemimpin yang baik...kenapa tidak legowo....bikin tandingan apa tidak membingungkan kawula alit?

Brajadenta: Kalian ini bodoh dan lemah...justru dengan membuat tandingan, kita bisa melihat siapa yang sesungguhnya dipilih rakyat?!!

Brajamusti: Rakyat sudah capek dengan perebutan tahta ini kakang...ingatlah kakang, tewasnya ayahanda Prabu Tremboko, juga akibat hasutan Sengkuni, dan sebenarnya buat apa memelihara dendam? Bukankah akhirnya Prabu Pandu pun wafat karena racun keris ayah Kalanadah?

Kalabendana: Dan, tewasnya kakang Arimba, juga karena memburu dendam yang tidak pernah selesai, bela pati kematian ayah kita, akhirnya perlaya di tangan Bima, ipar kita.

Brajamusti: Mbakyu Arimbi telah menyelesaikan pertikaian berkepanjangan ini dengan bijak. Semua melebur karena kasih...Gatotkaca juga bukan orang lain, dia keponakan kita Kakang...

Brajadenta marah, diusirnya kedua adiknya dari hadapannya. Dan akhirnya Brajadenta pun mulai memberontak bersama pasukannya dia mulai menuju Pringgondani merebut tahta kerajaan, dibantu pasukan dari Astina.

Mendengar laporan dari Brajamusti dan Kalabendana, Arimbi marah, dia meminta ijin Bima, untuk menyelesaikan masalah dengan Brajadenta seorang diri. Karena ini perselisihan keluarga Pringgondani, Arimbi tidak mau Bima ikut campur dengan urusan ini, supaya tidak menjadi makin panas.

Usaha Arimbi menyadarkan Brajadenta dengan kelembutannya sebagai kakak, gagal total. Merasakan kekerasan hati Brajadenta, amarah Arimbipun tersulut, sebagai wanita prajurit Arimbi juga memiliki kesaktian. Dan perang hebat pun terjadi antara keduanya. Para prajurit bubar melihat kedua trah Pringgondani bertarung.

Kresna: Anakku ngger Gatotkaca,...lihatlah...sebagai putra ibumu, apakah nuranimu tega melihat ibumu gelut sehebat itu dengan pamanmu?

Gatotkaca: Duh Uwa Prabu..ewuh aya...saya bingung, tentu saya mencintai dan tidak tega pada kanjeng ibu..tapi lawannya adalah paman yang sangat mengasihi saya, dari beliaulah saya mempelajari olah kanuragan...bingung saya Uwa...

Kresna: Kebingungan adalah pagar nuranimu mengambil sikap...cernakan alam pikiranmu, jangan terombang-ambing dalam kebingungan. Gunakan nalarmu wahai Raja Muda Pringgondani!

Bentakan Kresna menyadarkan Gatotkaca, bahwa sebagai Raja Muda, dia harus secepatnya mengambil sikap menggunakan logika yang wajar. Kaki Raja Muda itu melangkah ke medan laga, matanya menyorot tajam pada gerak-gerik Brajadenta yang bertanding hebat dengan ibunya. Sebelum sampai di tengah keduanya langkah Gatotkaca dihadang oleh Brajamusti.

Brajamusti: Ngger Gatotkaca, tunggu dulu...biarkan Paman manjing di tangan kananmu... Kakang Brajadenta itu gurumu, kamu tidak akan menang melawannya...dengan aku manjing di tangan kananmu, aku pastikan kekuatanmu akan bertambah... gunakan untuk menampar kakang Brajadenta saat dia lengah Ngger.

Seiring dengan berakhirnya permintaan Brajamusti...seleret cahaya biru yang keluar dari badan Brajamusti yang langsung menyusut...tiba-tiba masuk ke tangan kanan Gatotkaca.

Akhirnya berperanglah Gatotkaca dan Brajadenta pamannya sendiri, perkelahian berlangsung seru dan hebat, Suatu ketika Brajadenta terlena, dan terkenalah pukulan tepat di kepalanya oleh tangan kanan Gatotkaca yang telah disusupi sukma Brajamusti.

Bersamaan itu Brajadenta tewas, kemudian secara tiba-tiba sukma di tangan kanan Gatotkaca keluar dan mengerang kesakitan. Tanpa diduga tanpa dinyana Brajadenta dan Brajamusti kedua pamannya meninggal bersamaan, mati sampyuh…!!!

Gatotkaca menangisi mayat kedua pamannya. Lama kelamaan jasad kedua pamannya itu mengecil lalu masuk ke dalam tangan kanan dan kiri gatotkaca menjadi sebuah keilmuan. dan keilmuan itu dikenal dengan keilmuan Brajadenta dan Brajamusti. Pelan-pelan terdengar suara sukma sang paman Brajadenta.

Brajadenta: Anakku Ngger Gatotkaca...hentikan kesedihanmu...semua ini sudah suratan takdir...sebenarnya ontran-ontran itu memang sengaja aku buat...aku dan Dimas Brajamusti ingin membekalimu dengan aji pamungkas...tapi...kalau semua ini kami utarakan secara wajar, ibumu dan kamu pasti menolak pengorbanan kami...hanya dengan cara inilah wujud kasih sayang kami yang terbesar, dengan mengorbankan jiwa dan raga tuntas terlaksana. Wahai Raja Muda, tegakkan kepalamu...kami paman-pamanmu sudah menyatu dalam ragamu...kamu akan menjadi panglima hebat di medan laga Bharatayuda nanti ngger."

Gatotkaca sadar dengan pesan sukma pamannya, dia menghormat dengan takziem jenasah paman-pamannya, merawat jenasah itu dengan penuh hormat dan kasih sayang. Sementara itu sisa pasukan pemberontak yang didukung astina dapat dipukul mundur. Dan Brajalamatan akhirnya diangkat menjadi patih baru bergelar Patih Prabakiswa.

Sebagai Raja Muda Pringgondani, Gatotkaca memulai melatih pasukannya untuk persiapan menghadapi Bhartayuda.*

Ira Sumarah Hartati Kusumastuti - kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya