Rabu, 3 Juni 2026
Wisata & Sejarah
Wayang

Kematian Dursala

Minggu, 23 November 2014

MENDUNG bergayut di Kasatryan Banjar Junut. Sumpah serapah dan amuk Dursasana yang kehilangan putra sakti yang diharapkannya Dursala di tangan Gatotkaca, membuat hati Dewi Saltani, istri Dursasana makin kelam.

Dewi Saltani: Sudahlah Kakang, berserah dirilah pada Hyang Wenang..kematian putra kita Dursala, adalah kematian seorang ksatria yang terhormat di medan laga. Sudahilah amuk dendam yang menyakiti jiwa kita ini. Mari kita doakan agar perjalanan Dursala menuju Nirwana lancar dan dipenuhi kelapangan.

Dursasana: Eee..ee..Saltani, kamu perempuan lemah. Anak sendiri mati kok tidak ada dendam malah kamu terima nrimo...ibu macam apa kamu ini? Dasar perempuan cuma bisa beranak dan macak (bersolek)...

Dursasana menghardik istrinya dengan penuh penghinaan, memang demikianlah watak Adipati Banjar Junut yang arogan dan selalu melecehkan perempuan ini. Dewi Saltani memaklumi kekasaran dan lontaran hinaan yang sudah seringkali dia dengar dari suaminya ini, Saltani beranjak menuju sanggar pamujan, tidak dipedulikannya ocehan Dursasana. Baginya itu sudah tidak penting lagi. Gugurnya Dursala, menyadarkan Saltani, perjalanan hidupnya sudah hampir sampai ke titian masa, segala kedzoliman, penderitaan, rasa sakit bersuamikan Dursasana yang penuh dengan maksiat, angkara murka dan kebodohan, adalah laku hidupnya...Ya, Saltani meletakkan penderitaannya sebagai ibadahnya, hidup yang tidak bisa dipilihnya, ...penempatan suratan nasib yang kelabu di mayapada, diharapkannya menjadi pencuci dosa-dosanya untuk bisa berkumpul di Nirwana dengan anaknya Dursala, yang dia yakini mati sebagai ksatria terhormat.

Di Sitihinggil Hastinapura, Dursasana bertemu dengan Sangkuni dan Durna yang sedang membahas persiapan Bharatayuda.

Sangkuni: Oooo..hehehe...kakang Durna, kalau aku terus terang tidak ada rasa khawatir untuk diriku sendiri...pada saat Kakang Drestarasta melemparkan Minyak Tala pemberian Dewa yang dititipkan Pandu untuk diserahkan kepada Pandawa, aku sudah 'nyampluk' (mengibaskan) minyak itu hingga jatuh tumpah ke rerumputan, kutelanjangi diriku dan berguling-guling ke tumpahan minyak Tala itu, jadi...seluruh tubuhku yang sudah dibasuh minyak Tala ini, kebal terhadap semua senjata di bumi ini...hehehe...itu janji Dewa lho Kakang...jadi aku tenang-tenang saja....tunggu nanti kalau Sangkuni maju ke medan perang...

Durna: Ooo yayi Sangkuni....Prit Ganthil buntute buntung......Ojo methakil, umbar tanpa petung..kesombonganmu mengurangi kewaspadaanmu...ingatlah yayi, pada saat dirimu lukar busana, memang sudah kau lucuti semua pakaianmu untuk bergulang guling di tumpahan Minyak Tala...tapi lupakah si adi, bahwa dirimu menyisakan cawat untuk menutupi 'pusaka asli dan duburmu' ?...heheheheh....yang 'itu' ngga kebal lho...

Sangkuni tercenung mendengar ejekan Durna, tapi kesombongan telah menepiskan kekhawatirannya, rahasia itu terlalu rapat mana mungkin Pandawa bisa menebak kelemahannya? Senyum sinis kembali tersungging di bibirnya, memamerkan keyakinannya yang diliputi kepicikan. Usapan maruta perlahan bertiup, angin semilir itu ada di kekuasaan Dewa Bayu, ayah titisan Sang Bima, yang bisikan lembutnya mengabarkan rahasia kecil ini ke sanubari Ksatria Jodipati itu....satu hal yang di luar perkiraan Sangkuni.

Dursasana: Hoiii..Eyang Durna, Paman Sangkuni....tunggu aku...

Sangkuni: Ee lhadalah...ada apa dari jauh teriak-teriak Dursasana?

Dursasana: Paman dan Eyang...sudah 3 hari aku kancilen ngga bisa tidur...dendam kematian putraku Dursala, membuatku terus berpikir...bagaimana cara kita bisa membunuh sebanyak mungkin anak-anak Pandawa...Gggrrgghhh...aku mengincar Gatotkaca...si Jahanam itu harus mati di tanganku, untuk membalas kematian anakku Dursala.

Durna: We..allah blas toblas...tobil anak kadal...bocah labil kehilangan akal...Dur..Dursasana...

Dursasana: Ya Eyang.

Durna: Dendam boleh...emosi boleh juga...tapi jangan kehilangan kemampuan dan nalarmu....Gatotkaca itu bisa terbang, dia punya aji kesaktian macam-macam...sudah tersurat bukan kamu tandingannya....ksatria seperti Gatotkaca hanya bisa dikalahkan melalui strategi...bukan satu lawan satu...

Dursasana: Maksud Eyang kita keroyok?

Sangkuni: Weee lha dalah Dur, jangan blaka suta begitu...agak cerdik sedikitlah...bukan dikeroyok...di udutkan menuju kematian, dengan kerjasama kita semua..hehehe...

Dursasana: Halah...sami mawon, itu namanya kita keroyok saja...dikerubuti sampai ngga bisa terbang trus dipukuli sampai mati....

Durna dan Sangkuni geleng-geleng kepala melihat ketololan Dursasana.

Durna: Ngger cucuku Dursasana, ini tadi pamanmu Sangkuni sudah yakin dengan keamanan dirinya yang berbalut minyak Tala, ayo persiapkan dirimu, aku perlu menambahkan sifat piandel kepadamu yang grusa grusu, agar bisa selamat di medan pertempuran Bharatayuda nanti...

Dursasana: Wah hebat itu Eyang...ayo langsung berikan saja...pusaka apa itu Eyang...

Durna: Bocah gemblung...bukan pusaka atau ilmu kesaktian...waktunya tak cukup lagi....mari ikut aku ke Sungai Cingcing Gumuling, akan aku manterai sungai itu dan tubuhmu...agar selamat dari medan Kurusethra...

Durna, Dursasana dan Sangkuni menuju Sungai Cingcing Gumuling. Durna memandikan Dursasana di sungai itu, dan melepas mantera...sehebat apapun luka di tubuh Dursasana kelak, jika dia bisa lari dari Kurusethra dan berendam ke Sungai Cingcing Gumuling, semua luka-lukanya akan pulih seperti sediakala...sebaliknya jika ada keluarga atau ksatria pandawa yang mengejar Dursasana ke sungai itu, mereka akan lebur kesaktiannya dan menjadi mahkluk lemah yang dengan mudah akan di hancurkan oleh gada Dursasana...

Rapalan mantera itu berhasil dikerjakan oleh Resi Durna, namun Dewi Urang Ayu (Ibu Antasena, istri Bima), yang memiliki kekuasaan di setiap sungai, mendengar rapalan mantera itu dari para wadya balanya, dan segera menyampaikan kabar itu kepada suaminya Bima, sebagai bahan kewaspadaan menghadapi semua kecurangan Kurawa.*

Ira Sumarah Hartati Kusumastuti - kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya