Sri Batara Kresna
PRABU Ugrasena dari kerajaan Lesanpura sedang gundah gulana. Permaisurinya, Dewi Warsini yang sedang hamil muda (nyidam), menginginkan bisa menaiki harimau putih. Sang Prabu memanggil para kemenakannya yang sakti, yaitu Kakrasana (Baladewa), Narayana (Kresna) dan Udawa. Dalam perburuan yang seru ternyata Narayana lah yang berhasil menangkap harimau putih itu.
Namun, malang tak dapat di tolak, saat Dewi Warsini menaiki punggung harimau putih yang tampak jinak itu, tiba-tiba sang harimau melesat kabur membawa Dewi Warsini.
Ternyata harimau putih itu penjelmaan Singamulangjaya, patih Kerajaan Swalabumi yang diutus rajanya, yaitu Prabu Satyasa untuk menculik Warsini. Singamulangjaya segera membawa Warsini kabur begitu naik ke punggungnya.
Narayana yang dicurigai Ugrasena ada di balik penculikan ini segera mengejar Singamulangjaya.
Di tengah jalan, Singamulangjaya mencoba mengeluarkan isi kandungan Warsini. Lahirlah seorang bayi laki-laki, yang segera dibanting dan dihajarnya habis-habisan. Bayi itu bukannya mati, namun justru bertambah besar setelah dihajar Singamulangjaya. Akhirnya, bayi tersebut berubah menjadi pemuda dan dalam tangkisan yang berujung pertempuran di antara keduanya, bayi yang sudah menjadi ksatria itu membunuh Singamulangjaya. Arwah Singamulangjaya bersatu ke dalam diri pemuda itu.
Warsini: Aduuuh ngger anakku...(suaranya lemah menahan sakit).
Ksatria muda: Ibu...siapakah jengandika...badanmu masih bersimbah darah...
Warsini: Anakku ngger...aku ibumu, darah ini darah persalinan...sesungguhnya engkau masih jabang bayi yang dipaksa lahir sebelum waktunya....namun hajaran dan tempaan pukulan dari Singamulangjaya...ternyata malah memperkuat badanmu, dan kamu tumbuh bagai banteng ketaton atas hajaran itu...duh Gusti, sembah nuwun atas kuasaMu ya Hyang Widi Wasa...
Ksatria Muda: Ooo Ibu, jika demikian halnya, sebaiknya aku memiliki nama dan sesebutan, agar jelas siapa aku ini...
Warsini: Ya anakku..karena ayahmu bernama Ugrasena, atau disebut juga sebagai Prabu Satyajit...maka namamu adalah Setyaki...putra Satyajit. Dengan gugurnya patih Singamulangjaya ini, masih ada raja durjana yang menyuruh penculikan ini...
Setyaki: Siapa dia Ibu, biar sekalian aku habisi dia.
Warsini: Namanya Satyasa raja Swalabumi.
Bersamaan dengan penjelasan Warsini itu, datanglah Narayana yang memang sedang mengejar harimau putih jelmaan Singamulangjaya. Narayana pun bahagia menemukan mereka berdua, dalam keadaan sehat dan kagum dengan bertumbuhan Setyaki. Bersama mereka menyerang dan membunuh Satyasa sebagai sumber masalah. Setyaki kemudian menduduki Kerajaan Swalabumi sebagai daerah kekuasaannya.
Kedekatan Narayana dan Setyaki juga mendekatkan Narayana dengan Setyaboma, ayunda Setyaki yang cantik jelita. Tanpa sepengetahuan orang tua mereka kedua sepupu ini saling mengadu kasih.
Waktu terus berlalu, Prabu Ugrasena telah menerima lamaran Pandita Durna untuk putrinya Setyaboma. Dalam pandangan Ugrasena, Dorna adalah Mahaguru Hastinapura yang sakti mandraguna, sangat sepadan disandingkan dengan putrinya Setyaboma.
Narayana hatinya menjadi hancur, ketika gadis pujaannya, akan dinikahkan dengan Pandita Durna. Narayana tidak kuat lagi menahan beban pikiran, akhirnya Narayana jatuh sakit. Tak tahan melihat penderitaan kakaknya Bratajaya segera menyusul kakak sulungnya Kakrasana di Pertapaan Randugumbala, kebetulan Kakrasana baru wedar dari tapanya. Kakrasana terkejut melihat Bratajaya dan Udawa datang menemuinya. Udawa kemudian memberi tahu tentang sakitnya Narayana. Udawa juga memberitahukan, kalau sakitnya memikirkan Setyaboma, gadis pujaannya yang akan dinikahkan dengan Pandita Durna.
Mendengar berita sakitnya Narayana, Kakarasana berpikir sejenak, dan Karasana akan pegi ke Kerajaan Lesanpura sedangkan Udawa disuruhnya kembali ke Widarakandang, untuk menjaga Narayana yang sedang sakit. Kakrasana menghadap Prabu Ugrasena, Kakrasana menguraikan maksud kedatangan ke Istana Lesanpura. Tidak lain, karena beratnya ditangisi isteri, Dewi Erawati yang sedang sakit. Dewi Erawati minta ditengok oleh Dewi Setyaboma. Prabu Ugrasena mengijinkan Dewi Setyaboma pergi sebentar untuk menengok Dewi Erawati yang sedang sakit. Tetapi Prabu Ugrasena minta, agar Setyaki mengawal kepergian kakaknya.
Di tengah perjalanan Dewi Setyaboma bingung ketika Kakrasana tidak ke Istana Mandura, tetapi ke Pedukuhan Widarakandang. Sesampai di Widarakandang, Kakrasana baru berkata terus terang, kalau yang sakit Narayana. Dewi Setyaboma terkejut mendapat penjelasan Kakrasana, bahwa Narayana jatuh sakit. Kemudian merekapun masuk dalam kamar Narayana.
Setyaboma: Duuh kakang Nayarana, mengapa harus dibawa gerah seperti ini kakang..
Nayarana: Yayi Setyaboma, tidak ada yang dapat menahan pilunya hati, jika seseorang yang sudah menggenggam sukmaku, terancam diambil orang.
Setyaboma: Kakang...apalah dayaku atas perintah ayahku...wajib bagi anak membahagiakan orang tuanya kakang.
Narayana: Ini akan menjadi hidupmu Setyaboma, bagaimana dengan kebahagiaanmu? Bahagiakah engkau dengan pilihan ayahmu...
Setyaboma: Tidak penting bagiku kebahagiaan itu buat siapa...jika aku bisa membahagiakan ayahku, tentu aku akan bahagia kakang...
Narayana: Ooo begitu? Ya sudahlah...kembalilah si Adi ke Lesanpura...sambutlah kebahagiaanmu wahai Setyaboma. (Narayana merajuk dan melengos.).
Setyaboma: Duh kakang...maafkan kebodohanku...jangan marah kakang, mungkin ayahanda memang belum tahu bahwa di antara kita ada jalinan kasih yang tulus. Baiklah kakang, jika kesediaanku bersanding denganmu, bisa menyembuhkanmu, aku berjanji hanya mau menjadi istrimu kakang.
Begitu mendengar janji Setyaboma seperti itu, Narayana merasa tenang, dan berangsur angsur mulai sembuh.
Narayana meminta pada Setyaki.agar dapat membantunya, supaya Narayana berhasil mempersunting Dewi Setyaboma. Setyaki siap membantunya. Setyaki akan mengadakan sayembara tanding, tapi ia minta kesaktian pada Narayana. Narayana siap membantu. Setelah mereka cukup puas dalam perjumpaan tesebut, Dewi Setyaboma dan Setyaki pulang kembali ke Lesanpura.
Sekembalinya dari Pedukuhan Widarakandang, Setyaki, menghadap ayahnya, Prabu Ugrasena minta agar diselenggarakan sayembara tanding, guna menentukan siapa pemenangnya, yang akan mendapatkan kakaknya, Dewi Setyaboma, mengingat banyak para raja dan adipati yang datang melamar.
Sampailah pada saat yang ditentukan tiba, sayembara tanding dimulai. Narayana sudah menyatu dalam tubuh Setyaki, Setyaki merasa tenang. Setyaki telah mengalahkan para satria dan para raja serta adipati Dari mancanegara. Semuanya dapat dikalahkan. Melihat ketangguhan Setyaki Pandita Dorna minta pada Kurawa untuk mengeroyok Setyaki. Blabar kawat tempat adu tanding jadi kacau, para Kurawa mengeroyok Setyaki, namun Setyaki dapat mengalahkan semua Kurawa. Para Kurawa dan Pandita Dorna pun pulang. Setelah suasaana tenang, maka Prabu Ugrasena menikahkan Dewi Setyaboma dengan Narayana.
Ketika Dewi Setyaboma akan dipersandingkan dengan Narayana di pelaminan, tiba tiba saja Dewi Setyaboma hilang dari pandangan mata. Narayana segera mengejar pencurinya. Kepergian Narayana diikuti Werkudara, Arjuna, Kakrasasana dan Setyaki. Dewi Setyaboma dicuri Prabu Yuda Kala Kresna, Raja Raksasa dari Kerajaan Dwarawati.
Narayana mengejar pencurinya sampai di Istana Dwarawati. Narayana berkelahi dengan Prabu Yuda Kala Kresna. Dalam perkelahian, Prabu Yuda Kala Kresna tewas. Narayana berhasil merebut Dewi Setyaboma.. Dengan tewasnya Prabu Yuda Kala Kresna, para punggawa kerajaan Dwarawati meminta Narayana supaya menggantikan kedudukan Prabu Yudha Kala Kresna yang telah tewas, untuk menjadi Raja.
Narayana menyatakan kesiapannya untuk menjadi Raja Dwarawati, dengan gelar Prabu Sri Batara Kresna. Bathara Narada juga turut menghadiri pengangkatan Narayana menjadi Raja Dwarawati. Bathara Narada merestui Narayana menjadi Raja Dwarawati. Selesai acara Narayana membawa kembali Setyaboma ke Lesanpura. Prabu Ugrasena kemudian menyelenggaarakan pernikahan Dewi Setyaboma dengan Narayana. Acara cukup meriah. Kedua insan muda itu kelihatan sangat berbahagia.*
Ira Sumarah Hartati Kusumastuti - kisuta.com


