Rabu, 3 Juni 2026
Wisata & Sejarah
Wayang

Drestajumena

Jumat, 28 November 2014

RADEN Sucitra yang sekarang sudah menjadi raja di Pancala, bergelar Prabu Drupada dan beristrikan Dewi Gandawati yang jelita, ternyata tidak berhasil mengatasi amuk dendam di hatinya. Bayang-bayang penghinaan Bambang Kumbayana yang membuatnya harus kehilangan separo kerajaannya, terus mengganggu kenyamanan tidurnya.

Dewi Gandawati: Kakaprabu...mengapa selalu resah tiap malam tiba, menyesalkah Rakanda beristrikan Dinda (Dewi Gandawati mencoba mencari tahu penyebab kegalauan hati suaminya dengan lembut).

Drupada: Tidak Diajeng..(Drupada memeluk istrinya), adalah kanugrahan dewata bahwa aku berhasil memenangkan sayembara dan mendapatkan dirimu...tapi...dendamku atas hinaan Kumbayana atau Durna, sungguh mengganggu kenyamanan tidurku...

Dewi Gandawati: Mengapa memelihara dendam Kanda? Bukankah rayi Gandamana telah membalaskan dendammu dengan merusak raga Kumbayana...hingga menjadi jelek dan cacat tangannya, sampai menjadi Pandita Durna.

Drupada: Dendam ini masih menggelegak di jiwaku Yayi...baru puas rasanya kalau Durna perlaya di tangan keturunanku...(seru Drupada dengan geram).

Dewi Gandawati: Tobat Kanda...ampuni Dinda, jika itu yang menjadi tujuan Kanda, aku akan semadi, mohon pada Hyang Wenang, jangan sampai bayi yang lahir dari gua garbaku...menjadi alat pemuas dendam Kanda...tidak Kanda...jangan lakukan itu...(naik sedu sedan dari Gandawati yang berbudi halus...dia lari meninggalkan percakapannya dengan Drupada masuk ke sanggar pamujan).

Drupada menyesal mengungkapkan kegalauan hatinya pada istrinya. Kini dia sadar tidak mungkin dia bisa menjalankan cita-citanya, mendidik anak yang akan lahir dari Gandawati sebagai sarana penuntas dendamnya.

Drupada kemudian bertapa di hutan di mana ia bertemu dua orang pendeta bernama Yodya dan Upayodya. Keduanya sanggup membantu Drupada mencapai cita-citanya. Maka diadakanlah upacara putrakama yang dipimpin oleh kedua pendeta tersebut. Dari dalam api pengorbanan kemudian muncul seorang pemuda membawa senjata lengkap. Disusul berikutnya seorang putri cantik di belakangnya. Drupada mengakui keduanya sebagai anak. Yang laki-laki diberi nama Drestajumena, sedangkan yang perempuan diberi nama Drupadi, yang bermakna "anak Drupada".

Drupada: Bapa Upayodya dan Bapa Yodya, terima kasih...kedua bayi pepujan ini luar biasa sekali, yang laki-laki gagah dan cakap, bahkan sudah dibekali senjata panah dan pedang, dan yang perempuan manis sekali dengan rambut ngandan-andan...apakah anak-anak pujanku ini bisa mewujudkan cita-citaku Bapa...

Upayoda: Sang Prabu, karena ini putra pujan dengan tujuan khusus, maka sejak kelahirannya, tujuanmulah yang akan mewarnai kehidupan mereka. Anak laki-lakimu ini akan menyelesaikan dendammu, menebas leher Durna dengan pedangnya bila saatnya tiba. Dan anak perempuanmu akan menjadi ratu yang luar biasa diperistri para putra Pandawa, yang pernah diperalat Durna untuk menyeretmu ke hadapannya..

Yodya: Namun ingatlah sang Prabu..dendam adalah rangkaian pitang piutang yang tidak akan ada habisnya..satu pelaksanaan dendam akan dibalas dendam yang lainnya..upayamu untuk mendapatkan putra pujan, adalah tanggung jawabmu pribadi yang harus kamu pertanggungjawabkan di kehidupan akhir..

Drupada: Aku tidak peduli Bapa, rasa sakit dari hinaan Durna, sudah memantapkan hatiku, inilah jalan keluar yang aku inginkan. Akan aku didik anak pujanku untuk memenuhi harapanku.

Raja Drupada membawa putra putri bayi pujannya untuk dibesarkan Dewi Gandawati. Sang Permaisuri mencoba mendidik mereka dengan ketulusan seorang ibu, sambil berharap kasih sayangnya bisa meredakan dendam suaminya yang terus ditiupkan ke telinga Drestajumena. Dari permaisuri Dewi Gandawati, prabu Drupada memperoleh putri cantik yang lahir normal diberi nama Srikandi.

Ketulusan dan kebijaksanaan Dewi Gandawati, juga terwujud dengan mengantarkan Drestajumena untuk berguru pada Pandita Durna, harapannya, jika Drestajumena berguru pada Durna, akan tumbuhlah rasa hormat, dan dendam itu akan pudar dengan sendirinya.

Drestajumena adalah murid yang handal, Dia belajar seni bela diri termasuk penguasaan penggunaan senjata kepada Guru Durna yang sakti. Dengan tekun Durna mengajarkan kepadanya, walaupun alam bathinnya bisa membaca tujuan kelahiran Drestajumena. Bagaimana Durna sepakat untuk mahasiswa yang suatu hari akan menjadi bahaya baginya? Durna sebagai Begawan percaya bahwa kehendak dewata lebih kuat daripada kehendak manusia, ia tidak dapat melawannya, tapi inilah hidup dengan suratannya...Durna mencoba menyelami bagaimana sebagai Titah Sawantah, dia masuk dalam percaturan takdir.

Senja temaram, dengan keringat masih bercucuran, Drestajumena beristirahat seusai latihan pedang, di pinggir kolam Hastinapura. Semilir angin membuatnya tertidur, antara sadar dan tidak dia bertemu dengan sukma ksatria. tampan yang menyapanya.

Palgunadi: Drestajumena...ijinkan aku masuk ke gua garbamu...

Drestajumena: Siapa engkau wahai ksatria tampan?

Palgunadi: Aku Bambang Ekalaya atau Prabu Palgunadi...aku adalah murid Pandita Durna yang perlaya karena pengkhianatan guruku sendiri...karena itu, ijinkan aku menyatu pada ragamu, untuk keadilan takdirku...

Drestajumena: Wahai Palgunadi...bagaimana aku bisa menghadirkan keadilan bagimu yang sudah perlaya....sudahlah, tenangkan sukmamu pada keabadian sejati...jangan ganggu aku..

Palgunadi: Rasa sakit dikhianati guru yang aku hormati, membuatku tidak utuh menuju keabadian sejati...setelah aku tuntaskan keadilan rasaku, barulah aku bisa bergabung dengan isteri setiaku yayi Anggraeni ke keabadian...Drestajumena, kelahiranmu membawa suratan takdir, tujuanmu hanya satu...mengantarkan Durna kembali ke keabadian, maka ijinkan aku menyatu dengan ragamu...

Sekeras apapun Drestajumena menolak, sukma Palgunadi tetap mendatanginya, dan dengan kuasa Hyang Wenang...seberkas cahaya putih yang menyilaukan masuk ke raga Drestajumena yang tertidur beristirahat, kerlapnya yang menyilaukan disaksikan Pandita Durna dari balik pagar taman, sekilas dilihatnya bayangan Palgunadi masuk ke raga Drestajumena...makin yakinlah sang Pandita, apa dan siapa Drestajumena, bagi roda kehidupannya.

Peristiwa di taman Hastinapura itu senyap bersama waktu. Drestajumena yang tampan, memiliki sifat pemberani, cerdik, tangkas dan trengginas. Tumbuh dewasa menikah dengan Dewi Suwarni, putri Prabu Hiranyawarma, raja negara Dasarna. Dari perkawinan tersebut ia memperoleh dua orang putra lelaki bernama Drestaka dan Drestara.

Kelak takdir kelahirannya terbukti, dialah yang berhasil menebas leher Pandita Durna yang sakti mandraguna. Namun terbukti pula rangkaian dendam yang tidak pernah selesai dengan tewasnya Drestajumena di tangan Aswatama membalaskan dendam ayahnya.*

Ira Sumarah Hartati Kusumastuti - kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya