Menteri Berijazah SMP: Berimplikasi pada Dunia Pendidikan?
SEGERA setelah Presiden Joko Widodo menetapkan nama Susi Pudjiastuti sebagai menteri kelautan dan perikanan pada Kabinet Kerja Jokowi-JK 2014-2019, sontak berbagai tanggapan pro dan kontra muncul dengan gencarnya.
Pihak yang mendukung menganggap bahwa seorang Susi Pudjiastuti adalah sosok yang hebat. Meski tanpa pendidikan tinggi, dia bisa membuktikan ketangguhannya sebagai perempuan sukses. Dia salah satu potret perempuan yang gigih dan pekerja keras, di mana dia memulai usahanya dari titik terbawah. Karena ketekunan, kegigihan dan keuletan serta kecerdasannya tersebut, meski tanpa ijazah SMA, dia bisa menjadi pengusaha besar yang mungkin keberhasilannya melebihi mereka yang berijazah S1, S2 atau S3. Dan akhirnya saat ini bisa menduduki jabatan menteri.
Di sisi lain, banyak orang yang mencibir dengan keputusan tersebut. Tidak adakah sosok yang lebih “pantas” dari sekian juta, bahkan ratusan juta orang-orang hebat di negeri ini untuk menduduki jabatan menteri kelautan dan perikanan di kabinet Jokowi-JK ini? Mengapa harus memilih seseorang yang tanpa pendidikan tinggi, bahkan ijazah SMA pun tidak punya. Lalu, apakah sebegitu tidak pentingnya ijazah di negeri ini, hingga jabatan bergengsi seperti menteri tidak mensyaratkan harus memiliki ijazah minimal, misalnya S1, S2, atau bahkan S3? Sedangkan untuk menjadi supervisor di perusahaan saja harus memiliki minimal ijazah S1, dan PNS dengan berijazah SMP hanya akan menjadi tukang kebun.
Melihat fenomena unik dan langka ini, tentu akan membawa efek yang luas di dunia pendidikan. Guru yang sebelumnya selalu mendorong siswa-siswinya untuk melanjutkan pendidikan setinggi-tingginya, sekarang harus berhati-hati dengan respon siswa yang mengatakan “Lulusan SMP saja bisa menjadi menteri, buat apa sekolah tinggi?” Kalimat itu bisa saja akan menjadi “trendsetter” di kalangan anak-anak muda, termasuk anak-anak usia sekolah. Sesuatu yang telah menjadi trendsetter akan dengan cepat menyebar secara luas. Jangan salahkan mereka kalau hal tersebut menggejala nantinya di lingkungan sekolah. Karena memang fakta ini benar terjadi, dan mereka mendengar, melihat serta menyaksikannya dengan mata kepala sendiri. Mungkin, kalimat tersebut awalnya dijadikan bahan gurauan atau selorohan, namun, lama-lama akan masuk ke lubuk hati dan mengendap di sana. Sedikit banyak akan mempengaruhi psikologis mereka, terkait dengan cara pandangnya terhadap pendidikan tinggi.
Dalam hal ini, media hendaknya cerdas dalam mengangkat fakta tersebut. Karena hal itu akan berpengaruh kepada mindset anak-anak usia sekolah, terutama anak-anak sekolah dasar dan menengah pertama yang masih polos menerima pemberitaan. Kata-kata “tamatan SMP” tidak perlu ditonjolkan. Jangan sampai mereka menganggap bahwa pendidikan tidak penting.
Ini adalah PR saya sebagai guru, dan tentu PR bagi semua guru di Indonesia, untuk memberi pengertian yang tepat terkait dengan kasus Susi Pudjiastuti, seorang menteri dengan ijazah SMP ini. Anak-anak sekarang sangat kritis dan sangat cepat menerima suatu pemberitaan, apalagi yang dilakukan berulang-ulang. Kata-kata “SEORANG MENTERI BERIJAZAH SMP” yang dibaca dan didengar berulang-ulang akan dengan cepat menempati ruang kosong dalam otaknya, dan sedikit banyak akan mempengaruhi cara berpikirnya, atau merubah cara pandangnya terhadap pentingnya pendidikan tinggi.
Guru harus bijak menyikapinya. Menjadi sukses memang banyak cara. Banyak jalan menuju Roma, kata pepatah. Bagaimanapun, pendidikan tetap tidak bisa diabaikan. Kesempatan untuk sukses bagi seseorang berbeda-beda jalannya. Banyak orang yang sudah berusaha sekolah tinggi namun belum juga meraih kesuksesan. Berpikirlah bahwa mereka yang bersekolah tinggi saja belum berhasil, apalagi kalau tidak mengenyam pendidikan tinggi, pastilah kesuksesan akan semakin jauh.
Kasus Susi Pudjiastuti adalah satu di antara sekian ribu atau ratusan ribu orang. Dia adalah orang yang istimewa, yang lain dari orang biasa. Mungkin, kepandaian dan kemampuan seorang Susi yang tidak bersekolah tinggi tersebut jauh lebih tinggi daripada orang-orang biasa yang bersekolah sampai S3. Fakta menunjukkan bahwa berbagai penghargaan bergengsi pernah dia dapatkan, seperti: Pelopor Wisata dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Barat tahun 2004, Young Entrepreneur of the Year dari Ernst and Young Indonesia tahun 2005, Primaniyarta Award for Best Small & Medium Enterprise Exporter 2005 dari Presiden RI, Metro TV Award for Economics, Inspiring Woman 2005, Eagle Award 2006 dari Metro TV, Indonesia Berprestasi Award dari PT Exelcomindo, Sofyan Ilyas Award dari Kementerian Kelautan dan Perikanan tahun 2009.
Orang pasti berdecak kagum pada seseorang dengan sederet penghargaan seperti itu. Namun akan lebih tercengang lagi kalau penghargaan tersebut didapat oleh seorang yang hanya tamatan SMP, bahkan seorang perempuan pula. Tentu orang tersebut bukan orang sembarangan.
Barangkali, pertimbangan itulah yang membuat Presiden Jokowi mantap menetapkan Susi Pudjiastuti sebagai menteri. Pastilah presiden tidak main-main memilihnya sebagai “pembantu” dalam kabinetnya. Tidak pula gegabah menjadikannya sebagai salah satu orang yang akan membawa negeri ini kepada kemajuan ke depan, bersama dengan menteri-menteri lainnya di kabinet Jokowi-JK.
Terlepas dari tingkat pendidikan Susi Pudjiastuti, penulis yakin, bahwa seorang Susi Pudjiastuti adalah orang yang hebat dengan segudang prestasi dan penghargaan yang tidak sembarang orang bisa mendapatkannya. Saya sebagai guru, tentu akan menekankan pada siswa untuk bisa meraih kesuksesan seperti dia. Dan kita sebagai orang biasa, tentu perlu pendidikan tinggi untuk bisa menjadi sosok hebat seperti Susi Pudjiastuti!* Nur Hasanah Rahmawati, S Ag, MM - kisuta.com
(Penulis adalah anggota Team Media Relation Madrasah Kanwil Kemenag Provinsi DIY. Di samping mengajar di MTsN Maguwoharjo, penulis juga sebagai Instruktur Kurikulum 2013 Provinsi DIY)


