Tumbal Baratayudha
PRABU Duryudana memanggil adiknya Dursasana dan Patih Sengkuni untuk persiapan Baratayudha.
Duryudana: Bagaimana Yayi Dursasana, apakah sudah ada kawula yang bersedia menjadi tumbal untuk perang akbar Baratayudha?
Dursasana: Uuueee hwahahaha... belum ada Kakaprabu. Susah cari orang yang mau mati jadi tumbal hwahahaah..
Sengkuni: Dur..kamu itu kok pendek akal, kawula itu kalau mau disuruh, ya harus diiming-imingi dengan uang dan kedudukan...cari yang miskin, tawarkan kedudukan buat keturunannya, uang dan harta buat istri dan anak-2nya...beres to...
Duryudana: Benar usul Paman Sengkuni itu Yayi Dursasana...segeralah laksanakan.
Dursasana segera menjalankan tugasnya mencari tumbal, dia menemukan tukang perahu bernama Sarka dan Tarka. Mereka berdua diminta kesediaannya menjadi korban. Sarka dan Tarka tidak bersedia, tapi mereka berdua dibunuh oleh Dursasana. Sukma Sarka dan Tarka yang tidak ikhlas mengaung di udara bahwa mereka akan membalas dendam dalam perang Baratayuda. Dursasana tidak gentar, dua mayat tersebut dibawanya ke Ngastina.
Dursasana menghadap raja Duryodana dan memberi tahu bahwa korban telah tersedia. Duryudana memuja Bathari Durga dan Bathara Kala agar datang menjemput tumbalnya. Raja Duryodana meminta kesediaan mereka berdua untuk membantu perang Baratayuda. Mereka berdua akan mengusahakan dan meminta kurban. Dursasana menyerahkan dua kurban, Sarka dan Tarka. Bathara Kala pergi ke Wiratha setelah menerima jenasah Sarka dan Tarka, untuk memangsa Pandawa.
Sementara itu di pinggiran kerajaan Wirata, Ki Sagotra, Lurah Desa Sendangkandayakan atau lebih sering disebut desa Kabayakan, sedang membelai mesra Rara Winihan istrinya yang manis. Terbayang, bagaimana dulu asmaranya dengan Rara Winihan mencair berkat Harjuna.
Dahulu Rara Winihan yang sudah 365 hari menjadi istrinya tidak mau disentuh apalagi memadu asmara, karena menganggap Sagotra pengecut menghadapi Prabu Baka. Hingga suatu hari sungguh mengejutkan dan mengherankan ketika tiba-tiba saja, pulang dari mencari air, isterinya mendekap erat-erat dan menyembunyikan wajahnya yang manis ke dalam dada Ki Sagotra. Tidak dapat dibayangkan betapa bahagianya perasaan Ki Sagotra pada saat itu. Karena selama ini, jangankan saling berpelukan, didekati saja isterinya selalu menghindar.
Rara Winihan: Kakang tolonglah!, aku takut, aku dikejar-kejar seorang lelaki.”
Wanita muda berparas manis tersebut menempelkan wajahnya di dada laki-laki yang adalah suaminya. Jantungnya berdetak cepat karena ketakutan. Mendapat pengaduan dari isterinya, Ki Sagotra seakan-akan menampakkan kemarahan terhadap lelaki yang sudah berani mengganggu isterinya. Namun sesunguhnya di lubuk hatinya yang paling dalam Ki Sagotra justru berterimakasih kepada lelaki yang telah mengganggunya. Pasalnya gara-gara lelaki tersebut, isterinya mau memeluk dirinya untuk meminta perlindungan.
Duh Gusti, beginilah rasanya dipeluk isteri, dijadikan tempat untuk mengadu dan dijadikan tumpuan perlindungan oleh isteri. Isterinya yang selama ini tidak menghiraukan dirinya. Ki Sagotra memang ingin menemui lelaki yang telah berani membuntuti isterinya, tetapi tidak untuk memarahinya, melainkan justru ingin mengucapkan terimakasih. Karena secara tidak langsung lelaki tersebut telah membantu menyadarkan isterinya untuk menempatkan suaminya sebagai mana seharusnya. Saat bertemu dengan lelaki tersebut, terpanalah Sagotra, walaupun pakaiannya sederhana, lelaki tersebut sungguh tampan dan menyiratkan perbawa yang agung.
Sagotra: Raden, siapakah Jengandika, mengapa membuat takut istriku yang sedang mengambil air?
Harjuna: Aku Harjuna, penengah Pandawa, maafkan kalau kehadiranku mengagetkan istrimu Kakang. Sesungguhnya aku hanya ingin meminta 2 bungkus nasi untuk kedua adik kembarku yang kelaparan.
Sagotra: Aduh Raden, maafkan aku Lurah Sagotra dan isteriku Rara Winihan ini atas segala tindakan yang tidak pantas kami lakukan terhadap salah satu pewaris tahta Hastinapura.
Ki Lurah Sagotra diikuti oleh Rara Winihan berjongkok dan menyembah Harjuna.
Sagotra: Jangankan hanya dua bungkus nasi, segerobakpun akan kami haturkan sebagai tanda bulu bekti kawula kepada raja.
Harjuna: Ki Sagotra, untuk sementara ini aku hanya membutuhkan dua bungkus nasi, penghormatan kawula kepada rajanya seharusnya tidak diwujudkan dalam bentuk upeti yang berlebihan...hati dan ketulusanlah yang menjadi ukurannya Sagotra. Demikian juga kami memiliki kewajiban untuk melindungi kalian dan mengupayakan kesejahteraan yang harus selalu meningkat, itulah timbal balik kawula dan gustinya Sagotra.
Sagotra: Jika demikian Raden, pada saatnya aku akan mengorbankan seluruh jiwa ragaku termasuk hatiku demi kejayaan junjungan kami, pewaris tahta Hastinapura yang sah.
Harjuna: Terimakasih Sagotra, aku mohon pamit.
Ki Sagotra dan Rara Winihan tak pernah berkedip memandangi Harjuna meninggalkan halaman rumah. Ketika Harjuna tidak kelihatan lagi, kedua pasang mata tersebut saling bertatap. Ada getar menyentuh kalbu. Oh betapa menjejukkan pandangan matamu Kakang. kata Winihan dalam hati. Demikian pula Ki Lurah Sagotra pun merasa sesuatu yang istimewa. Mengapa tidak dari dahulu bola matamu kau biarkan telanjang di hadapanku? Keduanya menatap semakin dekat. Malam itu mereka menikmati malam terindah sebagai suami istri dalam arti yang sesungguhnya.
Pyaarrrr !!!, lamunan indah Sagotra buyar, saat inilah waktunya baginya, pamit pada istrinya. Dia sudah siap menjadi tumbal untuk kejayaan Pandawa bersama Resi Janadi dan Bambang Irawan.
Di Alun-alun Wiratha, Harjuna sudah memasang 3 anak panah di gendewanya, matanya menyorot tajam pada Resi Janadi, Lurah Sagotra dan Bambang Irawan, setelah mereka bertiga menyatakan keikhlasannya, kurban manusia dilaksanakan, dengan permohonan agar Pandawa menang dalam perang Baratayuda serta ksatria Pandawa utuh dan selamat. Sayang Harjuna lupa mengajukan permohonan untuk keutuhan dan keselamatan putra-putri Pandawa.
Saat itu Bathara Kala telah sampai di Wirata, dan sesumbar bahwa Pandawa yang berjumlah lima ditakdirkan menjadi catu makan bagi Bathara Kala. Pandawa tidak mau menyerah. Mereka pun menyerang Bathara Kala. Tetapi tidak seorang pun mampu melawan Bathara Kala.
Melihat keadaan itu Kresna segera naik ke Kahyangan. Di tengah perjalanan ia berjumpa dengan Wisanggeni, anak Arjuna. Kresna bercerita tentang Bathara Kala dan nasib keluarga Pandawa. Wisanggeni tidak jadi ke Wiratha. Ia pergi ke Ngondar-andir Bawana untuk menghadap Sang Hyang Wenang.
Wisanggeni menghadap Sang Hyang Wenang, dan meminta keterangan jadi atau tidaknya perang Baratayuda. Sang Hyang Wenang menjawab, perang harus terjadi, dan bila ada penghalang harus dilenyapkan. Wisanggeni memberi tahu bahwa Bathara Kala berusaha mengurungkan perang Baratayuda dengan cara memakan Pandawa.
Sang Hyang Wenang berjanji akan menolong Pandawa, tetapi kelak Wisanggeni tidak diperkenankan ikut menyaksikan perang Baratayuda. Wisanggeni menyanggupinya. Sang Hyang Wenang meminjaminya Gada Intan untuk membunuh Bathara Kala. Setelah menerima Gada Intan, Wisanggeni pergi ke Wiratha. Gada Intan diserahkannya kepada Werkudara untuk membunuh Bathara Kala.
Werkudara menemui Bathara Kala. Bathara Kala hendak menerkam Werkudara, tetapi tubuhnya digores dengan Gada Intan oleh Werkudara. Ia mati seketika. Gada Intan diserahkan kembali kepada Kresna.
Kresna menyamar berujud Bathara Kala, menemui Bathari Durga. Bathari Durga diminta membunuh Pandawa dengan Gada Intan. Gada Intan supaya disisipkan dalam kemben (kain penutup dada). Bathari Durga menyanggupinya. Sewaktu melangkah Bathari Durga jatuh tertelungkup. Dadanya hancur karena Gada Intan. Bathari Durga mati seketika itu juga.
Pandawa selamat dari ancaman Bathara Kala. Gada Intan dibawa Kresna, kemudian Wisanggeni ditugaskan mengembalikannya kepada Sang Hyang Wenang. Wisanggeni menghadap Sang Hyang Wenang, mengembalikan Gada Intan dan ingin menepati janjinya. Atas kuasa Sang Hyang Wenang, Wisanggeni kembali ke alam baka.*
Ira Sumarah Hartati Kusumastuti - kisuta.com


