PR bagi Siswa, Perlukah?
BEBERAPA waktu lalu, keponakan saya dengan antusias membongkar tumpukan majalah dan koran. Ternyata dia sedang mengerjakan PR (pekerjaan rumah). Dia banyak bertanya pada saya perihal PR tersebut, yang berkaitan dengan iklan Berbahasa Inggris di koran/majalah.
Saya terkesan dengan kejadian tersebut. Salut dengan gurunya yang memberikan PR, juga salut dengan semangat keponakan saya mengerjakan PR. Saya lihat dia semakin bersemangat ketika menemukan iklan berbahasa inggris yang dicarinya. Dia bertanya tentang kosa-kata yang tidak dimengerti. Dia mencari iklan yang lain lagi, bertanya lagi, mencari lagi dan bertanya lagi. Tidak terasa dia sudah menguasai lebih dari 10 macam iklan yang dia temukan di koran. Dia bangga dengan pekerjaannya, juga puas bisa memahami isi iklan tersebut. Besoknya keponakanku bercerita, dia senang sekali karena PR-nya mendapat nilai memuaskan.
Ada banyak cerita dari guru-guru mengenai PR yang tidak dikerjakan. Saya sendiri pernah mengalami kejadian di mana siswa tidak mengerjakan PR. Saya mencari jawaban mengapa mereka tidak mengerjakan PR, lalu mencoba mengatasi permasalahannya.
Pekerjaan Rumah, dalam Bahasa Inggris disebut homework merupakan sejumlah aktivitas tugas yang diberikan guru kepada siswa untuk dikerjakan di luar kelas/sekolah. Pekerjaan Rumah diberikan dengan maksud meningkatkan kemampuan dan keterampilan siswa. Namun, tidak jarang siswa enggan mengerjakan PR dan membuat guru kecewa atau bahkan marah. Pernahkah guru berpikir, sudah tepatkah PR yang dia berikan?
Kenyataan yang ada, masih ada guru yang memberikan PR terlalu sulit, terlalu banyak, tidak menarik, batas waktu terlalu cepat, atau bahkan terlalu lama sehingga anak lupa, ketidakcocokan siswa dengan kelompoknya (jika PR kelompok), atau guru memberikan PR tapi tidak pernah ditindaklanjuti dengan penilaian. Beberapa kemungkinan tersebut bisa menjadi alasan mengapa siswa tidak mau mengerjakan PR.
Oleh karena itu, guru harus tahu dan benar-benar mengerti apa yang harus dilakukan saat memberikan PR pada siswa. Guru hendaknya menyampaikan dengan jelas maksud dan tujuan pemberian PR. Sesuaikan jenis PR dengan apa yang sudah guru sampaikan sebelumnya. Jika PR dimaksudkan untuk persiapan materi berikutnya, sebaiknya sudah ada guideline dan deskripsi tentang materi berikutnya.
Berikan PR secara proporsional mengenai jenis, jumlah dan durasi. PR tidak harus merampas semua waktu luang siswa, melainkan seberapa besar kualitas mereka belajar melalui PR tersebut. Berikan variasi PR, misalnya PR diberikan secara kontekstual, nyata dalam kehidupan sehari-hari. Siswa bahkan boleh memilih PR sesuai kemampuan dan kesukaan, tetapi tetap dalam materi yang sama. Sampaikan penilaiannya nanti akan seperti apa sehingga siswa tahu apa saja yang harus diperhatikan selama mengerjakan PR tersebut.
Hindari PR yang monoton dan seragam misalnya mengerjakan LKS, soal-soal latihan yang memungkinkan siswa saling bergantung kepada teman lain sehingga siswa dengan mudah mencontek. Alhasil, semua jawaban sama dan menyebabkan guru kesulitan mengukur pemahaman siswa.
Koreksi PR segera setelah siswa mengumpulkannya dan berikan feedback, lalu dibahas atau diumumkan atau dipresentasikan. Jika tidak dilakukan, siswa cenderung malas mengerjakan PR berikutnya, atau mengerjakan asal-asalan, yang penting mengumpulkan, karena siswa berpikir bahwa mengerjakan PR akan sia-sia.
Guru juga bisa memberikan pilihan PR kepada siswa dengan materi yang sama. Cara pengerjaannya saja yang berbeda sesuai dengan kemampuan dan ketertarikan siswa. Usahakan PR tidak mudah untuk ditiru atau saling mencontek, bahkan lebih baik jika PR tersebut ada dalam kehidupan sekitar siswa sehari-hari.
Diperlukan banyak ide dan kreatifitas agar guru dapat memberikan PR yang memiliki nilai manfaat dan efektifitas yang tinggi. Dengan pertimbangan pada tujuan untuk membuat siswa belajar mengatur waktu, bertanggung jawab, melatih keterampilan, belajar mengatasi masalah, mereview dan mengecek kemampuan, menemukan minat dan bakatnya, serta meng”kreatifkan siswa” agar siswa bisa mengembangkan pengetahuannya di luar kelas melalui kehidupan nyata yang dia hadapi. Selain itu PR bisa menjadi penghubung antara orangtua dan guru, di mana orangtua bisa mengetahui perkembangan putra-putrinya.
Adanya tradisi diberikannya PR pada siswa di kalangan sekolah tentu sangat perlu dilanjutkan mengingat begitu banyak manfaatnya.
Semoga tulisan ini bisa menjadi pengingat guru dalam mengambil kebijakan pemberian PR bagi siswa, dengan tujuan agar siswa dapat belajar dan mengembangkan pengetahuannya di rumah, menambah keaktifannya, serta melatih kreatifitasnya. Pemberian PR jangan sampai justru membebani siswa dan mematahkan semangat belajarnya. Kuncinya, guru harus cerdas memberikan PR yang tepat pada siswanya.* Nur Hasanah Rahmawati, S Ag, MM - kisuta.com
(Penulis adalah guru Bahasa Inggris MTsN Maguwoharjo. Team Media Relation Kemenag Provinsi DIY)


